-
Harga BBM Jerman mencetak rekor tertinggi akibat konflik geopolitik yang memicu krisis energi global.
-
Kasus pencurian bahan bakar di Jerman meningkat tiga kali lipat dengan kerugian miliaran rupiah.
-
Kebijakan pembatasan perubahan harga harian belum efektif menurunkan beban biaya bahan bakar masyarakat Jerman.
Dampak ekonomi dari aksi ilegal ini ternyata memberikan kerugian yang sangat besar bagi para korban.
Pihak kepolisian mengungkapkan bahwa total kerugian pada bulan Maret saja telah mencapai angka 189.000 euro.
Nilai kerugian yang setara dengan Rp3,75 miliar itu meningkat drastis dari kerugian bulan Februari sebesar 65.000 euro.
Masyarakat mulai khawatir karena selisih angka kerugian tersebut menunjukkan intensitas pencurian yang semakin masif setiap harinya.
Kenaikan jumlah kasus ini menjadi alarm bagi pemerintah untuk segera melakukan langkah preventif di lapangan.
Surat kabar Bild melaporkan bahwa momen libur Paskah justru dimanfaatkan oleh para pelaku untuk beraksi.
Di negara bagian Baden-Wuerttemberg, pencuri berhasil menggasak sekitar 6.000 liter solar dari dua tempat berbeda.
Lokasi konstruksi di Pforzheim kehilangan 4.000 liter, sementara 2.000 liter lainnya dicuri dari lokasi di Calw.
Sejak memasuki bulan Maret, kepolisian wilayah Pforzheim telah memproses sedikitnya 29 laporan pengurasan tangki bahan bakar.
Baca Juga: Mengapa Hidupkan Lagi Insentif EV Bisa Redam Krisis Energi Akibat Konflik Timteng?
Selain lokasi proyek, terdapat 20 kasus pencurian lainnya yang menyasar fasilitas stasiun pengisian bahan bakar umum.
Meskipun otoritas berwenang sudah mencoba melakukan intervensi, harga bahan bakar di Jerman masih tetap merangkak naik.
Pemerintah sebenarnya telah menerapkan aturan baru bagi pemilik pom bensin dalam menentukan harga jual harian.
"Aturan baru yang memungkinkan pom bensin mengubah harga hanya sekali per hari dinilai belum mampu mengurangi beban finansial bagi para pengemudi."
Kebijakan tersebut diharapkan bisa menstabilkan pasar, namun kenyataannya tekanan ekonomi di masyarakat belum berkurang secara nyata.
Para pemilik kendaraan kini harus berhadapan dengan dilema antara biaya operasional tinggi dan ancaman kriminalitas.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
Pilihan
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
Terkini
-
Negosiator Iran Masih Misterius! Siapa Sosok di Balik Perundingan Panas dengan AS?
-
Pemerintah Genjot Perbaikan Transportasi Publik, Dorong Warga-Pejabat Beralih dari Kendaraan Pribadi
-
Siapa Mohammed Wishah? Wartawan Dirudal Israel saat Liputan di Gaza
-
RI Respons Temuan Awal PBB Soal Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon: Segera Tuntaskan Investigasi!
-
April 2026, Prabowo Targetkan Groundbreaking 21 Proyek Hilirisasi dan 29 PSEL
-
Pemerintah Godok Skema untuk Atasi Kenaikan Harga Komoditas Global, Termasuk Plastik
-
AS - Israel Khianati Perjanjian dengan Bom Lebanon, Iran Kembali Tutup Selat Hormuz
-
Gedung Putih: Proposal Iran Awalnya Dibuang ke Tempat Sampah oleh AS
-
Emisi Karbon Terus Naik, Bisakah CO2 Diubah Jadi Produk Berguna?
-
Iran Mengamuk Siap Hukum Israel yang Nekat Bombardir Lebanon Saat Gencatan Senjata