News / Nasional
Jum'at, 10 April 2026 | 08:49 WIB
Ketua Kelompok Budidaya Madu “Sulang Trigona” di Lombok Timur, Aliman. (Suara.com/Dwi Bowo Raharjo)
Baca 10 detik
  • Kelompok Sulang Trigona di Lombok Timur mengembangkan budidaya madu lebah Trigona pada pohon mangrove sejak Agustus 2025.
  • Proyek ini berhasil meningkatkan jumlah koloni lebah hingga 60 kotak dengan hasil madu bening berkualitas tinggi.
  • Wahana Visi Indonesia memberikan pendampingan teknis dan pelatihan restorasi mangrove untuk mendukung keberhasilan produksi madu tersebut.

Restorasi ini berbasis masyarakat sepenuhnya.  WVI melibatkan kelompok pencinta alam hingga petani tambak. Tantangannya bukan sekadar menanam, tapi memastikan mangrove itu tumbuh melalui monitoring yang berkelanjutan.

Haliman pun menyampaikan apresiasinya terhadap kehadiran WVI yang dianggap datang di saat yang tepat. Ia berharap pendampingan ini terus berlanjut agar terjadi regenerasi di masyarakat.

Saah satu anggota Kelompok Budidaya Madu Mangrove Gili Sula atau Sulang Trigona di Lombok Timur. (Suara.com/Dwi Bowo Raharjo)

"Harapan saya, WVI jangan 'cabut' dulu. Pendampingan dua tahun terasa sangat singkat. Kami ingin ada regenerasi yang muncul untuk mengelola potensi ini ke depan. Sekarang masyarakat sudah mulai kompak berkumpul, termasuk dalam mengembangkan tempat wisata ini," pungkas Aliman.

Dengan adanya Madu Trigona Mangrove ini, Lombok Timur kini memiliki ikon produk baru yang tidak hanya bernilai ekonomi tinggi, tetapi juga menjadi bukti keberhasilan restorasi lingkungan yang melibatkan masyarakat lokal secara aktif.

Load More