- Kemenkes dan BPOM mewajibkan pencantuman label informasi nilai gizi level A-D untuk produk makanan serta minuman.
- Kebijakan ini bertujuan mengedukasi masyarakat guna menekan konsumsi gula, garam, dan lemak penyebab berbagai penyakit kronis.
- Pemberlakuan aturan bersifat sukarela bagi pelaku industri selama masa transisi untuk meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan konsumen.
Suara.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) resmi mengumumkan kebijakan pencantuman informasi nilai gizi pada produk pangan.
Informasi yang dimaksud berupa tingkatan kadar gula, garam, dan lemak yang ditetapkan berdasarkan level A-D dengan warna tertentu, mulai dari paling sehat hingga tidak sehat.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa penonjolan kandungan gula, garam, dan lemak pada produk pangan penting dilakukan karena ketiga zat tersebut menjadi penyebab berbagai penyakit katastropik jika dikonsumsi berlebihan.
"Gula, garam, lemak ini adalah penyebab penyakit yang kematiannya tinggi dan juga biayanya tinggi. Jadi tadi kita baru lihat, (penyakit) jantung, (gagal) ginjal itu naiknya tinggi sekali, stroke juga besar biayanya. Itu adalah penyakit-penyakit kronis yang disebabkan oleh konsumsi berlebihan dari gula, garam, dan lemak," kata Budi dalam konferensi pers di Kantor Kemenkes, Jakarta, Selasa (14/4/2026).
Berdasarkan pembagian wewenang, Kemenkes mengatur pencantuman informasi nilai gizi pada pangan siap saji di gerai dan restoran. Sementara BPOM berwenang atas produk pangan kemasan.
Budi menyampaikan bahwa kebijakan ini masih bersifat sukarela bagi pelaku industri makanan dan minuman. Karena itu, industri diharapkan memiliki kesadaran untuk mulai mencantumkan level kandungan gula, garam, dan lemak.
Adapun tingkatan level tersebut sebagai berikut:
Gula
- Level A: sangat sehat
Kadar gula kurang dari 0,5 gram dan tidak boleh mengandung pemanis alami maupun buatan. - Level B: sehat
Kadar gula 0,5-6 gram dan boleh mengandung pemanis alami. - Level C: kurang sehat
Kadar gula 6-12,5 gram dan dapat mengandung pemanis alami maupun buatan. - Level D: tidak sehat
Kadar gula lebih dari 12,5 gram dan mengandung pemanis alami maupun buatan.
Garam
- Level A: sangat sehat
Kadar garam kurang dari 5 mg dan diperbolehkan mencantumkan klaim bebas garam/natrium. - Level B: sehat
Kadar garam 5-120 mg dan diperbolehkan mencantumkan klaim rendah garam. - Level C: kurang sehat
Kadar garam 120-500 mg. - Level D: tidak sehat
Kadar garam lebih dari 500 mg.
Lemak
- Level A: sangat sehat
Kadar lemak kurang dari 0,5 gram. - Level B: sehat
Kadar lemak 0,5-3 gram. - Level C: kurang sehat
Kadar lemak 3-17 gram. - Level D: tidak sehat
Kadar lemak lebih dari 17 gram.
Setiap level juga diberi tanda khusus, yakni level A berwarna hijau tua, level B hijau neon, level C kuning, dan level D merah.
Budi menyampaikan bahwa tujuan pencantuman level tersebut adalah sebagai edukasi bagi masyarakat. Dengan begitu, masyarakat diharapkan lebih memperhatikan kandungan gula, garam, dan lemak saat membeli makanan dan minuman.
Baca Juga: BPOM Perbarui Aturan Cemaran Mikroba, Batasi Kandungan Bakteri pada Mi Instan hingga Bakso
"Ini sifatnya lebih ke edukasi masyarakat. Jadi masyarakat diarahkan bisa melihat kalau mau beli minuman, nah mendingan yang sehat atau mau ambil makanan yang sehat. Sekarang, untuk sementara kita ada masa transisi, nanti pencantuman untuk di level ini masih kita minta mereka lakukan sendiri," pungkas Budi.
Berita Terkait
-
BPOM Perbarui Aturan Cemaran Mikroba, Batasi Kandungan Bakteri pada Mi Instan hingga Bakso
-
Awas Wajah Rusak! Bareskrim Bongkar 'Pabrik' Skincare Bermerkuri di Bogor, Dijual Murah Rp35 Ribu
-
Tak Hanya Anak, Vaksin Campak Kini Bisa Digunakan Orang Dewasa
-
BPOM Perluas Vaksin Campak untuk Dewasa, Tenaga Kesehatan Jadi Prioritas
-
Baliho 'Aku Harus Mati' Disorot, Kemenkes: Bisa Picu Pikiran Negatif Pada Orang Rentan
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
Terkini
-
Bakal Bertemu Prabowo-Gibran? Djarot Beri Sinyal Megawati Hadiri Peringatan Hari Lahir Pancasila
-
3 Kali ke Prancis dalam 5 Bulan, Elite PDIP Pertanyakan Urgensi Kunjungan Presiden Prabowo
-
Sumber Teror Api Misterius di Seyegan Mulai Terkuak, Tim UPN Soroti Gas Metana dari Bekas Rawa
-
Bukan Mistis! Misteri Barang Terbakar Sendiri di Sleman Terungkap, Pakar UGM Bongkar Biang Keroknya
-
Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
-
Prof Uceng: Negara Bukan Takut Film Pesta Babi, Tapi Takut Narasi Alternatif
-
Sebut Film 'Pesta Babi' Aman Secara Hukum, Uceng UGM: Jangan-Jangan Ada Unsur Politik?
-
Ribuan Lansia Jalan Sehat Meriahkan Puncak HLUN 2026 di NTT
-
Guru Besar UGM Cium Ada Perubahan Sikap yang Tak Biasa Usai Mama Sinta Lapor Polisi soal Pesta Babi
-
HLUN 2026 Momentum Wujudkan Lansia Tangguh Menuju Indonesia Emas