- Serangan militer Israel di Lebanon Selatan menghambat 63% konvoi bantuan kemanusiaan PBB akibat kendala keamanan dan koordinasi.
- Krisis kemanusiaan di Lebanon semakin kritis dengan rusaknya 80% pasar serta terbatasnya sumber daya bagi warga.
- AS memfasilitasi pertemuan diplomatik antara delegasi Lebanon dan Israel di Washington untuk meredakan ketegangan militer yang berkepanjangan.
Suara.com - Akses bantuan kemanusiaan ke Lebanon Selatan kian terhambat di tengah serangan militer Israel yang kian brutal.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan mayoritas konvoi bantuan gagal mencapai tujuan akibat kendala keamanan dan koordinasi di lapangan.
Direktur Regional Program Pangan Dunia (WFP) Samer AbdelJaber mengatakan hampir 63% konvoi yang direncanakan tidak dapat diselesaikan.
“Hampir 63% konvoi bantuan ke Lebanon selatan tidak terlaksana karena tidak ada respons atau penolakan dalam proses dekonflik,” ujarnya dalam sidang Parlemen Eropa di Brussel, Selasa (14/4) waktu setempat seperti dilansir dari Middle East Monitor.
AbdelJaber menambahkan, bahkan konvoi yang telah mendapat izin pun masih menghadapi hambatan serius.
“Tim kami kerap dihentikan di banyak titik. Pekan lalu, satu misi konvoi membutuhkan waktu hingga 15 jam untuk selesai,” kata AbdelJaber.
Situasi di Lebanon selatan disebut semakin kritis dengan lebih dari 80% pasar terdampak. Kondisi ini membuat kebutuhan kemanusiaan meningkat tajam, sementara sumber daya yang tersedia semakin terbatas.
PBB juga memperingatkan dampak global jika krisis ini terus berlanjut.
Hingga pertengahan 2026, sekitar 45 juta orang di dunia berpotensi jatuh ke dalam kelaparan akut, termasuk 5,2 juta orang di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.
Baca Juga: Manuver AS! Coba Dudukan Lebanon dan Israel tapi Berakhir Tanpa Jabat Tangan
Tekanan terhadap rantai pasok kemanusiaan juga disebut melampaui krisis sebelumnya.
AbdelJaber menilai kondisi saat ini bahkan lebih berat dibanding masa pandemi COVID-19 dan perang Ukraina, dengan biaya lebih tinggi serta waktu pengiriman yang makin lama.
Dalam forum yang sama, Koordinator Forum Kemanusiaan dan Pembangunan Lebanon Mohamad Mansour mendesak tindakan internasional yang lebih tegas.
Mohamad Mansour menyoroti pelanggaran hukum humaniter dan serangan terhadap infrastruktur sipil yang terus terjadi.
“Uni Eropa harus menggunakan pengaruh politiknya untuk menegakkan hukum humaniter dan memastikan akuntabilitas bagi pelanggar,” kata Mansour.
Ketua Komite Pembangunan Parlemen Eropa Barry Andrews juga mengungkap kondisi lapangan yang memburuk.
Berita Terkait
-
Manuver AS! Coba Dudukan Lebanon dan Israel tapi Berakhir Tanpa Jabat Tangan
-
Iran Beberkan Update Negosiasi Damai ke Turki, Soroti Dosa Besar AS-Israel
-
Skenario Terburuk IMF, Perang Iran Bikin Pertumbuhan Ekonomi Dunia Anjlok Hingga Level Terendah
-
Mengenal Oghab 44, Benteng Bawah Gunung Iran yang Siap Hancurkan Armada AS di Selat Hormuz
-
Sisi Humanis Warga Iran, Tawarkan Buah ke Jurnalis Padahal Rumahnya Hancur Lebur Habis Diserang
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
Pilihan
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
Terkini
-
Bukan Cuma Fisik, Chat Mesum Termasuk Kekerasan Seksual: Pakar Soroti Kasus Mahasiswa UI
-
Tuduh Jubir KPK Sebar Fitnah Soal Sitaan Barang, Faizal Assegaf Lapor ke Dewas
-
Aktivis Sambut Seruan Dasco: Persatuan Nasional Lebih Krusial daripada Opini Disharmoni
-
Solusi Macet Jakarta? DKI Bangun Flyover Latumenten dan Bintaro Puspita Hingga 2030
-
Pemprov DKI Siap Siaga Hadapi KLB Keracunan Pangan, Perketat Pengawasan MBG di Sekolah
-
Sandiaga Uno Sebut Ekonomi Hijau Kunci Utama Ciptakan Lapangan Kerja Masa Depan
-
Ngaku Jadi Korban 'Deepfake' AI, Rismon Sianipar Bantah Fitnah Jusuf Kalla: Itu Video Rekayasa!
-
Bantah Terima Uang Miliaran, Rismon Sianipar Ungkap Alasan Pilih Damai di Kasus Ijazah Jokowi
-
Legislator Golkar Tagih Revisi UU Pemilu: Banyak Putusan MK Mendesak Segera Ditindaklanjuti
-
Ketegangan di Yerusalem Meningkat usai Pemasangan Pintu Besi di Kawasan Bersejarah