News / Internasional
Rabu, 15 April 2026 | 14:46 WIB
Ritaj Abdulrahman Rihan (MME)
Baca 10 detik
  • Penembakan Siswi Gaza di Kelas Matematika Bukti Pelanggaran Gencatan Senjata pada Zona Aman Militer

  • Tragedi Darah di Buku Catatan Ritaj Rihan Ungkap Kekejaman Penembak Jitu di Sekolah Gaza

  • Siswi Sembilan Tahun Tewas Ditembak Saat Belajar di Sekolah Abu Ubaida Gaza Utara Hari Ini

“Hari ini, sekitar satu jam setelah saya mengantarnya, saya menerima kabar bahwa putri saya telah terbunuh. Saya tidak pernah menyangka akan menerima kabar pembunuhannya saat dia berada di tempat belajar. Itu adalah kejutan yang melampaui kata-kata,” kata Abdulrahman.

Ibu korban, Ola, mengenang bagaimana ia merapikan rambut dan pakaian putrinya dengan penuh kasih sayang pada pagi yang nahas itu.

Ia kini hanya bisa memeluk buku tulis Ritaj yang separuh halamannya masih kosong namun sudah ternoda bercak darah merah pekat.

Pihak keluarga tidak pernah membayangkan bahwa jarak aman dari zona militer tidak menjamin keselamatan nyawa anak pertama mereka.

Bagi mereka, tindakan militer ini bukan sekadar kecelakaan perang, melainkan upaya sistematis untuk melumpuhkan masa depan intelektual anak-anak Gaza.

“Kami senang dia sudah cukup besar dan tetap hidup serta sehat setelah dua tahun genosida untuk membawa tas sekolah dan buku catatan. Dia akhirnya kembali ke sekolah. Dia pintar dan mencintai sekolah,” kenang ayahnya dengan pilu.

Target Militer pada Fasilitas Pendidikan Sipil

Pihak keluarga telah menyiapkan gaun dan sepatu baru untuk perayaan pernikahan kerabat yang direncanakan berlangsung pekan depan.

Namun, pakaian baru tersebut kini tersimpan sia-sia karena Ritaj justru pulang ke rumah dengan balutan kain kafan yang putih bersih.

Baca Juga: Mossad Punya Bos Baru, Tangan Kanan Benjamin Netanyahu Makin Yakin Bisa Gulingkan Rezim Iran

Kematian ini menambah panjang daftar anggota keluarga Ola yang tewas, mulai dari ibu, saudara perempuan, hingga keponakannya.

Eskalasi di sekitar Garis Kuning terus meluas setiap bulan, memaksa ribuan warga sipil yang baru kembali untuk kembali mengungsi.

“Sekolah itu seharusnya berada di area yang aman. Jaraknya tidak dekat dengan Garis Kuning, dan itulah sebabnya kami merasa cukup nyaman untuk mengirimnya ke sana untuk belajar,” jelas Ola.

Militer sering kali meratakan bangunan di area yang baru dikuasai, menghancurkan sisa-sisa kehidupan warga yang mencoba bertahan di zona tersebut.

Bagi warga Gaza, buku catatan yang berdarah adalah dokumen hukum paling kuat mengenai dugaan kejahatan perang yang menyasar anak sekolah.

“Saya telah memakaikan bajunya, menyisir rambutnya, dan mengikatnya untuk sekolah pagi ini. Dia dikembalikan kepada saya dalam keadaan mati, dengan wajah berlumuran darah. Saya masih tidak bisa memproses keterkejutan ini,” ungkap Ola tersedu.

Load More