-
Penembakan Siswi Gaza di Kelas Matematika Bukti Pelanggaran Gencatan Senjata pada Zona Aman Militer
-
Tragedi Darah di Buku Catatan Ritaj Rihan Ungkap Kekejaman Penembak Jitu di Sekolah Gaza
-
Siswi Sembilan Tahun Tewas Ditembak Saat Belajar di Sekolah Abu Ubaida Gaza Utara Hari Ini
“Hari ini, sekitar satu jam setelah saya mengantarnya, saya menerima kabar bahwa putri saya telah terbunuh. Saya tidak pernah menyangka akan menerima kabar pembunuhannya saat dia berada di tempat belajar. Itu adalah kejutan yang melampaui kata-kata,” kata Abdulrahman.
Ibu korban, Ola, mengenang bagaimana ia merapikan rambut dan pakaian putrinya dengan penuh kasih sayang pada pagi yang nahas itu.
Ia kini hanya bisa memeluk buku tulis Ritaj yang separuh halamannya masih kosong namun sudah ternoda bercak darah merah pekat.
Pihak keluarga tidak pernah membayangkan bahwa jarak aman dari zona militer tidak menjamin keselamatan nyawa anak pertama mereka.
Bagi mereka, tindakan militer ini bukan sekadar kecelakaan perang, melainkan upaya sistematis untuk melumpuhkan masa depan intelektual anak-anak Gaza.
“Kami senang dia sudah cukup besar dan tetap hidup serta sehat setelah dua tahun genosida untuk membawa tas sekolah dan buku catatan. Dia akhirnya kembali ke sekolah. Dia pintar dan mencintai sekolah,” kenang ayahnya dengan pilu.
Target Militer pada Fasilitas Pendidikan Sipil
Pihak keluarga telah menyiapkan gaun dan sepatu baru untuk perayaan pernikahan kerabat yang direncanakan berlangsung pekan depan.
Namun, pakaian baru tersebut kini tersimpan sia-sia karena Ritaj justru pulang ke rumah dengan balutan kain kafan yang putih bersih.
Baca Juga: Mossad Punya Bos Baru, Tangan Kanan Benjamin Netanyahu Makin Yakin Bisa Gulingkan Rezim Iran
Kematian ini menambah panjang daftar anggota keluarga Ola yang tewas, mulai dari ibu, saudara perempuan, hingga keponakannya.
Eskalasi di sekitar Garis Kuning terus meluas setiap bulan, memaksa ribuan warga sipil yang baru kembali untuk kembali mengungsi.
“Sekolah itu seharusnya berada di area yang aman. Jaraknya tidak dekat dengan Garis Kuning, dan itulah sebabnya kami merasa cukup nyaman untuk mengirimnya ke sana untuk belajar,” jelas Ola.
Militer sering kali meratakan bangunan di area yang baru dikuasai, menghancurkan sisa-sisa kehidupan warga yang mencoba bertahan di zona tersebut.
Bagi warga Gaza, buku catatan yang berdarah adalah dokumen hukum paling kuat mengenai dugaan kejahatan perang yang menyasar anak sekolah.
“Saya telah memakaikan bajunya, menyisir rambutnya, dan mengikatnya untuk sekolah pagi ini. Dia dikembalikan kepada saya dalam keadaan mati, dengan wajah berlumuran darah. Saya masih tidak bisa memproses keterkejutan ini,” ungkap Ola tersedu.
“Ritaj ceria dan baik hati. Dia tidak pernah merepotkan saya dan akan selalu mengatakan 'ya, Mama' untuk semuanya. Bahkan sekarang, saya melihat bayangannya di depan saya. Saya tidak percaya dia sudah tiada,” lanjutnya.
“Ini adalah buku catatannya, dan ini adalah pelajaran yang dia pelajari hari ini, tetapi tidak bisa diselesaikan. Ini adalah halaman-halaman yang ternoda oleh darah putri saya. Ini bukan tinta; ini adalah darah putri saya,” tegas Ola sambil memegang buku tersebut.
Insiden penembakan ini terjadi di tengah situasi gencatan senjata yang sangat rapuh sejak Oktober 2025 di bawah mediasi Amerika Serikat.
Pihak Israel secara sepihak menetapkan batas "Garis Kuning" di dalam wilayah Jalur Gaza yang melarang akses bagi warga Palestina di sisi utara, selatan, dan timur.
Meskipun sekolah Abu Ubaida Bin al-Jarrah terletak di zona yang dianggap relatif aman, serangan artileri dan penembak jitu Israel dilaporkan rutin menyasar area pemukiman di sekitarnya.
Sejak kebijakan ini diberlakukan, puluhan warga sipil dilaporkan menjadi korban meski berada di luar zona terlarang, yang semakin memperburuk krisis kemanusiaan dan akses pendidikan di Gaza.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
- 5 Moisturizer Mengandung SPF untuk Pagi Hari, Melembapkan dan Mencerahkan Kulit
Pilihan
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
Terkini
-
Bakal Bertemu Prabowo-Gibran? Djarot Beri Sinyal Megawati Hadiri Peringatan Hari Lahir Pancasila
-
3 Kali ke Prancis dalam 5 Bulan, Elite PDIP Pertanyakan Urgensi Kunjungan Presiden Prabowo
-
Sumber Teror Api Misterius di Seyegan Mulai Terkuak, Tim UPN Soroti Gas Metana dari Bekas Rawa
-
Bukan Mistis! Misteri Barang Terbakar Sendiri di Sleman Terungkap, Pakar UGM Bongkar Biang Keroknya
-
Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
-
Prof Uceng: Negara Bukan Takut Film Pesta Babi, Tapi Takut Narasi Alternatif
-
Sebut Film 'Pesta Babi' Aman Secara Hukum, Uceng UGM: Jangan-Jangan Ada Unsur Politik?
-
Ribuan Lansia Jalan Sehat Meriahkan Puncak HLUN 2026 di NTT
-
Guru Besar UGM Cium Ada Perubahan Sikap yang Tak Biasa Usai Mama Sinta Lapor Polisi soal Pesta Babi
-
HLUN 2026 Momentum Wujudkan Lansia Tangguh Menuju Indonesia Emas