News / Internasional
Kamis, 16 April 2026 | 12:59 WIB
Kapal macet di Selat Hormuz (TOI)
Baca 10 detik
  • Amerika Serikat mengerahkan 10.000 personel militer untuk memblokade total akses laut menuju pelabuhan Iran.

  • Arus pengiriman minyak mentah dunia lumpuhkan akibat penutupan jalur strategis di Selat Hormuz.

  • Ratusan kapal tanker raksasa terjebak di Teluk tanpa kepastian keberangkatan akibat risiko keamanan.

Di sisi lain, kapal Christianna dan Elpis yang membawa produk Iran dari wilayah Teluk justru tertahan dan berhenti total di dekat perairan Uni Emirat Arab.

Di tengah ketatnya penjagaan, kapal Rosalina yang mengangkut komoditas jagung menjadi satu-satunya armada yang diizinkan melintas menuju pelabuhan Iran.

Hal ini sejalan dengan pernyataan resmi otoritas Amerika Serikat mengenai kelonggaran aturan bagi pengiriman yang bersifat bantuan kemanusiaan dan pangan.

Kapal Seachampion juga dilaporkan berhasil meninggalkan wilayah konflik setelah menyelesaikan pengiriman kedelai ke Iran dan melanjutkan perjalanan menuju Oman.

Namun, secara keseluruhan jumlah kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz menurun drastis sejak blokade resmi diberlakukan pada hari Senin lalu.

Data dari Kpler mengungkapkan bahwa hanya ada 16 kapal komoditas yang tercatat melakukan penyeberangan sejak pengetatan keamanan tersebut diaktifkan secara penuh.

Tumpukan Kapal Raksasa di Gerbang Selat Hormuz

Hingga pertengahan April, tercatat ada sekitar 670 kapal komoditas yang tertahan di sisi barat selat karena tidak berani melanjutkan pelayaran.

Krisis ini menyebabkan lebih dari 55 kapal pengangkut minyak mentah berukuran sangat besar atau VLCC terjebak tanpa kepastian di dalam kawasan Teluk.

Baca Juga: Iran Sebut Blokade AS di Selat Hormuz Bisa Ganggu Gencatan Senjata

Kapal-kapal yang tertahan tersebut diketahui milik berbagai perusahaan besar dari negara-negara kuat seperti Jepang, Tiongkok, Yunani, hingga Korea Selatan.

Meski gencatan senjata telah dimulai, trauma serangan terhadap 30 kapal komersial sejak awal Maret masih menghantui para operator kapal internasional.

Hingga saat ini, stabilitas di Selat Hormuz masih sangat rapuh dengan kehadiran ribuan tentara Amerika Serikat yang memegang kendali penuh atas jalur tersebut.

Blokade di Selat Hormuz ini dipicu oleh pecahnya perang terbuka antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu.

Selat Hormuz merupakan jalur paling vital di dunia yang menghubungkan produsen minyak Timur Tengah dengan pasar global di Asia, Eropa, dan Amerika Utara.

Penutupan atau hambatan di jalur ini secara historis selalu memicu lonjakan harga energi dan ketidakstabilan ekonomi di berbagai belahan dunia.

Load More