- Israel menetapkan "Jalur Kuning" di Lebanon Selatan, sebuah taktik militer yang membagi wilayah dan menghancurkan desa-desa perbatasan seperti yang dilakukan di Jalur Gaza.
- Sekjen Hezbollah Naim Qassem menegaskan perlawanan tetap siaga dan akan membalas setiap pelanggaran gencatan senjata karena tidak memercayai itikad baik pihak zionis.
- PBB mencatat lebih dari 10.000 pelanggaran gencatan senjata oleh Israel yang mengakibatkan ratusan warga Lebanon tewas di tengah upaya diplomasi semu Donald Trump.
Suara.com - Israel secara sepihak menetapkan kebijakan militer "Jalur Kuning" (Yellow Line) di Lebanon Selatan sebagai upaya sistematis untuk menduduki dan menghancurkan wilayah tersebut dengan pola yang sama persis seperti genosida di Jalur Gaza.
Langkah agresif militer zionis ini memicu kemarahan publik internasional lantaran dianggap sebagai bentuk pengkhianatan nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata yang baru saja berjalan selama sepuluh hari.
Di bawah komando Menteri Pertahanan Israel Katz, tentara pendudukan kini mulai meratakan desa-desa perbatasan Lebanon dengan dalih keamanan, yang oleh para pengamat disebut sebagai proses "Gazafikasi" demi memperluas zona jajahan mereka.
Militer Israel mengeklaim bahwa penetapan "Jalur Kuning" dilakukan setelah pasukan mereka mengidentifikasi adanya pejuang yang dianggap melanggar kesepahaman gencatan senjata.
Kebijakan "Jalur Kuning" ini sebelumnya telah digunakan di Gaza untuk membagi wilayah Palestina menjadi zona-zona terpisah di bawah kendali ketat moncong senjata tentara zionis.
Sejak taktik ini diterapkan di Gaza, Israel secara rutin menembaki siapa pun yang mendekati garis tersebut dan telah menghancurkan ratusan rumah warga sipil tanpa ampun.
Data menunjukkan serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 773 orang dan melukai lebih dari 2.000 lainnya sejak periode yang diklaim sebagai "gencatan senjata" dimulai.
Nour Odeh dari Al Jazeera melaporkan bahwa pengumuman ini merepresentasikan kelanjutan dari agenda biadab untuk menghancurkan Lebanon Selatan secara total.
Strategi Penghancuran Desa Perbatasan
Baca Juga: Selat Hormuz Dibuka Total, Iran Jamin Jalur Minyak Dunia Aman Saat Gencatan Senjata
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, telah memerintahkan tentaranya untuk menghancurkan desa-desa di perbatasan Lebanon dengan menggunakan model penghancuran yang sama seperti di Beit Hanoon dan Rafah.
"Menteri Pertahanan Israel Israel Katz telah mengatakan bahwa tentara telah diinstruksikan untuk menghancurkan desa-desa Lebanon di perbatasan berdasarkan model Beit Hanoon dan Rafah, dan kita tahu persis seperti apa bentuknya karena tidak ada yang tersisa di sana," ungkap Nour Odeh dalam laporannya.
Israel kini menyamakan desa-desa Syiah dengan infrastruktur militer Hezbollah sebagai pembenaran untuk melakukan pembantaian warga sipil secara massal.
Meski gencatan senjata sedang berlangsung, artileri zionis tetap membombardir kota-kota seperti Beit Leif, Qantara, dan Touline di Lebanon Selatan.
Tentara zionis berdalih bahwa serangan mereka adalah bentuk pertahanan diri terhadap ancaman yang dianggap mendesak, meskipun klaim tersebut sering kali tidak terbukti di lapangan.
Perlawanan Hezbollah dan Pelanggaran Zionis
Berita Terkait
-
Iran: Damai Boleh, Perang Lagi Gak Masalah, AS-Israel Akan Merugi!
-
Warga Lebanon Pulang di Tengah Gencatan Senjata Rapuh, Serangan Israel Masih Terjadi
-
Indonesia Sambut Baik Gencatan Senjata Israel-Lebanon, Kemlu: Semua Pihak Harus Menahan Diri
-
Hampir Tiga Tahun Genosida di Palestina oleh Israel, Berapa Korbannya?
-
Gencatan Senjata Rapuh? Hizbullah Ngotot Israel Harus Angkat Kaki dari Lebanon Selatan
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
FIFA Buka Voting Tim Terbaik Piala Dunia 2026: Argentina Sumbang 5 Pemain, Spanyol?
-
Dari Pameran Kudatuli, Megawati Titip Pesan untuk Generasi Muda Indonesia
-
Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur
-
Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan
-
Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru
-
Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan