News / Internasional
Senin, 20 April 2026 | 09:27 WIB
Israel terapkan taktik "Gazafikasi" di Lebanon Selatan dengan kebijakan Jalur Kuning. Hezbollah ancam balas pelanggaran gencatan senjata zionis yang kian biadab. (Antara)
Baca 10 detik
  • Israel menetapkan "Jalur Kuning" di Lebanon Selatan, sebuah taktik militer yang membagi wilayah dan menghancurkan desa-desa perbatasan seperti yang dilakukan di Jalur Gaza.
  • Sekjen Hezbollah Naim Qassem menegaskan perlawanan tetap siaga dan akan membalas setiap pelanggaran gencatan senjata karena tidak memercayai itikad baik pihak zionis.
  • PBB mencatat lebih dari 10.000 pelanggaran gencatan senjata oleh Israel yang mengakibatkan ratusan warga Lebanon tewas di tengah upaya diplomasi semu Donald Trump.

Sekretaris Jenderal Hezbollah, Naim Qassem, menegaskan bahwa gencatan senjata tidak akan ada artinya jika hanya dipatuhi oleh satu pihak sementara Israel terus melakukan agresi.

"Gencatan senjata berarti penghentian total semua permusuhan. Karena kami tidak memercayai musuh ini, para pejuang perlawanan akan tetap berada di lapangan dengan tangan di atas pelatuk, dan mereka akan menanggapi pelanggaran sebagaimana mestinya," tegas Qassem melalui siaran televisi.

"Tidak ada gencatan senjata dari sisi perlawanan saja; itu harus datang dari kedua belah pihak."

Hezbollah menuntut penarikan total pasukan penjajah Israel dari seluruh wilayah kedaulatan Lebanon sebagai syarat mutlak perdamaian.

Fokus perlawanan selanjutnya adalah pembebasan tawanan dan pemulangan warga ke rumah-rumah mereka di daerah perbatasan yang kini hancur lebur.

Kegagalan Diplomasi dan Intervensi AS

Naim Qassem juga menyatakan keterbukaan Hezbollah untuk bekerja sama dengan pemerintah Lebanon guna mencapai kedaulatan nasional yang utuh dan mencegah perselisihan internal.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat telah terjadi lebih dari 10.000 pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan oleh pihak Israel sejak akhir tahun lalu.

Ribuan pelanggaran tersebut telah mengakibatkan ratusan warga Lebanon tewas, membuktikan bahwa Israel tidak pernah memiliki itikad baik untuk berdamai.

Baca Juga: Selat Hormuz Dibuka Total, Iran Jamin Jalur Minyak Dunia Aman Saat Gencatan Senjata

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mencoba mengambil panggung dengan mengumumkan rencana pertemuan antara Perdana Menteri Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun di Washington.

Namun, banyak pihak meragukan efektivitas negosiasi tersebut selama militer Israel masih terus merobek kedaulatan Lebanon dengan taktik "Gazafikasi" yang keji.

Sejarah panjang konflik di perbatasan ini menunjukkan bahwa Israel selalu menggunakan dalih keamanan untuk memperluas pendudukan ilegal mereka di wilayah utara.

Republik Islam Iran melalui dukungan terhadap Poros Perlawanan terus konsisten mengecam tindakan biadab Israel yang melanggar hukum internasional dan hak asasi manusia.

Load More