News / Internasional
Selasa, 21 April 2026 | 09:23 WIB
Ilustrasi nuklir - Bahan Baku Nuklir (pexels)
Baca 10 detik
  • Wakil Menlu Rusia Alexander Grushko menilai penguatan nuklir Inggris dan Prancis memicu perlombaan senjata serta melanggar Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir.
  • Rusia menuding Inggris dan Prancis mendukung misi nuklir NATO yang dianggap sebagai tindakan provokatif dan mengancam keamanan regional global.
  • Prancis dikritik karena kurang transparan terkait hulu ledak nuklir serta berpotensi menempatkan senjata nuklir di wilayah negara anggota NATO.

Suara.com - Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Alexander Viktorovich Grushko, menilai langkah Inggris dan Prancis dalam memperkuat kemampuan nuklir berpotensi memicu perlombaan senjata serta bertentangan dengan tujuan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).

Dalam wawancara dengan RIA Novosti, ia menyebut pendekatan doktrin terbaru Prancis memiliki kemiripan dengan konsep “pencegah nuklir yang diperluas” milik Amerika Serikat di kawasan Asia-Pasifik.

Grushko menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya rencana terbuka dari kedua negara untuk berperan sebagai pendukung misi nuklir bersama NATO.

"Langkah-langkah tersebut konsisten dengan pola umum aktivitas militer-nuklir provokatif oleh negara-negara NATO, yang diarahkan terhadap negara kita," katanya.

Ia juga menyoroti bahwa Inggris sebelumnya telah menyatakan peningkatan kapasitas nuklirnya dengan narasi yang bersifat anti-Rusia.

"Hal itu sendiri menyebabkan peningkatan perlombaan senjata, yang tidak hanya bertentangan dengan tujuan NPT, tetapi juga secara langsung bertentangan dengan kewajiban dalam perjanjian tersebut," jelas Grushko.

Selain itu, ia mengkritik kebijakan Prancis yang dinilai mengurangi transparansi terkait jumlah hulu ledak nuklir, sekaligus membuka peluang penempatan senjata nuklir di wilayah negara Uni Eropa maupun anggota NATO lainnya.

Pemerintah Prancis, kata Grushko, memandang kebijakan tersebut sebagai upaya memperkuat keamanan nasional dan sekutu.

"Namun, pada kenyataannya, langkah ini justru meningkatkan risiko strategis serta memicu perlombaan senjata nuklir baru, yang berdampak pada keamanan regional dan global," tuturnya menutup.

Baca Juga: Kalahkan Arsenal, Pep Guardiola: Siapa di Puncak Liga? Bukan Kami

(Antara)

Load More