-
Pentagon melaporkan 415 prajurit Amerika Serikat luka dan 13 tewas dalam Operasi Epic Fury.
-
Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel telah mengakibatkan kematian lebih dari 1.300 orang.
-
Dialog diplomatik di Pakistan antara Amerika Serikat dan Iran berakhir tanpa adanya kesepakatan damai.
Suara.com - Angka kerugian personel militer Amerika Serikat terus merangkak naik di tengah berkecamuknya Operasi Epic Fury terhadap Iran.
Pentagon melaporkan sebanyak 415 anggota militer mereka mengalami luka-luka akibat intensitas pertempuran yang tinggi di kawasan tersebut.
Dikutip dari Anadolu kematian juga tidak terhindarkan dengan catatan 13 orang prajurit Amerika Serikat telah dinyatakan gugur dalam tugas.
Data resmi dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat pada hari Senin menegaskan besarnya ongkos manusia dari operasi militer ini.
Konflik ini mencerminkan eskalasi kekerasan yang semakin sulit dikendalikan sejak dimulainya invasi gabungan ke wilayah Iran.
Krisis keamanan regional mulai meledak hebat pada tanggal 28 Februari saat Amerika Serikat dan Israel bergerak bersama.
Serangan udara dan darat yang masif tersebut dilaporkan telah merenggut nyawa lebih dari 1.300 orang secara tragis.
Pemerintah Tehran tidak tinggal diam dan memberikan balasan yang sangat agresif terhadap serangan aliansi tersebut.
Hujan rudal dan pesawat nirawak milik Iran menyasar aset militer Amerika Serikat serta fasilitas strategis Israel.
Baca Juga: Iran Sebut Negosiasi Damai Cuma Teater Politik Trump, Teheran Tinggalkan Meja Perundingan
Negara-negara tetangga yang menampung infrastruktur militer Amerika Serikat juga ikut menjadi target serangan balasan dari Tehran.
Kegagalan Perundingan Diplomatik di Pakistan
Kondisi sempat mereda sesaat ketika gencatan senjata selama dua minggu diumumkan secara luas pada 8 April.
Pakistan mengambil peran vital sebagai mediator internasional untuk meredam pertumpahan darah yang lebih luas di kawasan.
Upaya damai tersebut membawa Washington dan Tehran dalam sebuah meja diskusi langsung yang sangat jarang terjadi.
Pertemuan tingkat tinggi itu berlangsung di Islamabad pada 11 April untuk mencari titik temu penyelesaian konflik.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sejumlah Harga BBM Naik Hari Ini, JK: Tidak Bisa Tahan Lagi Negara Ini, Keuangannya Defisit
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 5 Tinted Sunscreen yang Bagus untuk Flek Hitam dan Melasma
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
Pilihan
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
-
Respons Santai Jokowi Soal Pernyataan JK: Saya Orang Kampung!
-
Pemainnya Jadi Korban Tendangan Kungfu, Bos Dewa United Tempuh Jalur Hukum
-
Penembakan Massal Louisiana Tewaskan 8 Anak, Tragedi Paling Berdarah Sejak Awal Tahun 2024
-
Viral Tendangan Kungfu ke Lawan, Eks Timnas Indonesia U-17 Terancam Sanksi Berat
Terkini
-
SK DPP Bocor! PKS Bakal Copot Khoirudin, Suhud Alynudin Diusulkan Jadi Ketua DPRD DKI
-
1200 Jam Internet Mati Total, Warga Iran Putar Otak Gunakan VPN hingga Pakai Cara Ini
-
Parkir Valet di Mal Jakarta Tembus Rp 250 Ribu, DPRD DKI Minta Aturan Baru Segera!
-
China Kasih Paham Dampak Paling Buruk Konflik di Selat Hormuz Berkepanjangan
-
Kado Hari Kartini: Setelah 22 Tahun, DPR Akan Sahkan RUU PPRT Jadi Undang-Undang Hari Ini!
-
Kritik Dibalas Represif Aparat, Amnesty Ungkap Wajah Suram Kebebasan Sipil RI
-
Tudingan Intimidasi Memanas di Sidang! Istri Eks Wamenaker Noel Ancam Polisikan Irvian Bobby
-
Rusia Kritik Penguatan Nuklir Inggris dan Prancis, Dinilai Picu Perlombaan Senjata
-
Trio Pemimpin Dunia Ini Dijuluki Predator dan Bikin Rusak Tatanan Global
-
Skandal Pemerintahan Trump! Punya Hubungan Gelap dengan Bodyguard, Menaker AS Mundur