-
China khawatir pencegatan kapal kargo Iran oleh AS dapat merusak keamanan perdagangan internasional.
-
Penangkapan kapal Touska dilakukan AS di tengah upaya perundingan damai di Pakistan.
-
Beijing mendesak AS dan Iran mematuhi gencatan senjata demi normalisasi Selat Hormuz.
Suara.com - Langkah militer Amerika Serikat yang mencegat paksa kapal kargo berbendera Iran memicu kekhawatiran mendalam terhadap stabilitas jalur perdagangan global.
Pemerintah Tiongkok secara resmi menyoroti tindakan ofensif tersebut sebagai ancaman bagi normalisasi navigasi internasional di perairan Selat Hormuz.
Dikutip dari Anadolu, penangkapan kapal kargo Touska oleh Marinir AS dipandang berpotensi merusak momentum gencatan senjata yang baru saja berjalan singkat.
Dunia internasional kini menanti kepastian kelanjutan dialog damai di tengah meningkatnya tensi militer antara Washington dan Teheran.
Beijing menegaskan bahwa perdamaian di wilayah tersebut merupakan kunci utama bagi kelancaran arus barang dan energi dunia.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyatakan urgensi menjaga keamanan di salah satu jalur air terpenting dunia.
Beliau menekankan bahwa menjaga stabilitas Selat Hormuz adalah kepentingan bersama bagi seluruh komunitas internasional tanpa terkecuali.
"Selat Hormuz adalah jalur air penting bagi barang dan perdagangan global, dan menjaganya agar tetap aman dan stabil melayani kepentingan komunitas internasional," ujar Guo Jiakun kepada wartawan di Beijing.
Pemerintah China melihat tindakan koersif di laut hanya akan memperpanjang konflik yang merugikan banyak pihak secara ekonomi.
Baca Juga: Xi Jinping: Selat Hormuz Harus Dibuka!
"Terkait Amerika Serikat yang mengambil (kapal) Iran dengan paksa, kami menyampaikan kekhawatiran kami," kata Guo.
Kronologi Pencegatan Kapal di Teluk Oman
Aksi militer ini bermula dari pengumuman Presiden Donald Trump mengenai keberhasilan pasukan angkatan lautnya melumpuhkan kapal Iran.
Kapal kargo tersebut dituduh berusaha menembus blokade laut yang diterapkan Amerika Serikat di sekitar kawasan Teluk Oman.
Kapal penghancur rudal USS Spruance dilaporkan melakukan intervensi fisik setelah peringatan lisan diabaikan oleh awak kapal Touska.
Saat ini, kapal beserta isinya berada dalam penguasaan penuh pasukan Marinir Amerika Serikat sebagai bagian dari operasi blokade.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sejumlah Harga BBM Naik Hari Ini, JK: Tidak Bisa Tahan Lagi Negara Ini, Keuangannya Defisit
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 5 Tinted Sunscreen yang Bagus untuk Flek Hitam dan Melasma
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
Pilihan
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
-
Respons Santai Jokowi Soal Pernyataan JK: Saya Orang Kampung!
-
Pemainnya Jadi Korban Tendangan Kungfu, Bos Dewa United Tempuh Jalur Hukum
-
Penembakan Massal Louisiana Tewaskan 8 Anak, Tragedi Paling Berdarah Sejak Awal Tahun 2024
-
Viral Tendangan Kungfu ke Lawan, Eks Timnas Indonesia U-17 Terancam Sanksi Berat
Terkini
-
Parkir Valet di Mal Jakarta Tembus Rp 250 Ribu, DPRD DKI Minta Aturan Baru Segera!
-
Kado Hari Kartini: Setelah 22 Tahun, DPR Akan Sahkan RUU PPRT Jadi Undang-Undang Hari Ini!
-
Kritik Dibalas Represif Aparat, Amnesty Ungkap Wajah Suram Kebebasan Sipil RI
-
Tudingan Intimidasi Memanas di Sidang! Istri Eks Wamenaker Noel Ancam Polisikan Irvian Bobby
-
Rusia Kritik Penguatan Nuklir Inggris dan Prancis, Dinilai Picu Perlombaan Senjata
-
Trio Pemimpin Dunia Ini Dijuluki Predator dan Bikin Rusak Tatanan Global
-
Skandal Pemerintahan Trump! Punya Hubungan Gelap dengan Bodyguard, Menaker AS Mundur
-
AS Mulai Ketar-ketir, Bakal Terpukul Jika Harga Bensin Tembus 3 Dolar
-
Perempuan Tangguh di Balik Setir Taksi: Kisah Ivany Menembus Ragu dan Bertahan Demi Nafkah Keluarga
-
Komnas Perempuan Bongkar Pola Predator Seksual: Satu Pelaku Kerap Beraksi Berulang!