-
Konflik Iran menyebabkan kenaikan biaya hidup rumah tangga Inggris hingga ratusan poundsterling tahun ini.
-
Harga bensin dan diesel melonjak akibat fluktuasi harga minyak mentah di pasar internasional.
-
Suku bunga hipotek meningkat tajam, menghambat impian warga Inggris memiliki hunian dengan biaya rendah.
Suara.com - Konflik bersenjata yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat telah memberikan pukulan telak bagi stabilitas finansial rumah tangga di Inggris.
Krisis ini menyebabkan pengeluaran rata-rata keluarga usia kerja membengkak hingga ratusan poundsterling sepanjang tahun ini.
Dikutip dari BBC, laju inflasi yang semula diprediksi melandai kini justru berbalik arah akibat ketidakpastian distribusi komoditas global.
Sektor transportasi dan perumahan menjadi garda terdepan yang paling terdampak oleh fluktuasi pasar internasional ini.
Para ahli memperingatkan bahwa tanpa gencatan senjata permanen, daya beli masyarakat akan terus tergerus secara signifikan.
Kenaikan harga minyak mentah dunia secara otomatis mengerek biaya pengisian tangki kendaraan bagi jutaan pengemudi.
Setiap kenaikan harga grosir minyak sebesar 10 dolar AS berdampak pada tambahan biaya sekitar 7 pence per liter.
Meskipun sempat terjadi tren penurunan sejak pertengahan April, biaya pengisian bensin rata-rata tetap naik belasan poundsterling.
Kondisi ini diperparah oleh gangguan logistik di Timur Tengah yang menghambat kelancaran distribusi energi ke pasar Eropa.
Baca Juga: Bahlil Beri Peringatan Harga BBM Nonsubsidi Bisa Naik Terus, Jika...
Sektor ritel kini berada di bawah pengawasan ketat regulator untuk memastikan tidak adanya praktik manipulasi harga selama krisis.
Beban Suku Bunga dan Ketidakpastian Sektor Properti
Harapan masyarakat akan penurunan suku bunga pinjaman perumahan atau hipotek kini sirna seiring meningkatnya risiko perang.
Perbankan merespons situasi dengan menaikkan bunga KPR sebagai bentuk antisipasi terhadap biaya pendanaan yang lebih mahal.
"Energi tetap berada jauh di atas level sebelum perang, yang berarti banyak rumah tangga menghadapi penurunan daya beli tahun ini," ujar James Smith, kepala ekonom di lembaga pemikir Resolution Foundation.
Hilangnya ribuan produk hipotek dari pasar mempersempit pilihan konsumen yang ingin mengamankan aset properti mereka.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Terungkap Fakta Baru, Bayi T. Rex Langsung Langsung Jadi Predator Setelah Menetas
-
Mau Benahi Tata Kelola, BGN Minta Anggaran MBG 2027 Sebanyak Rp 270 Triliun
-
FIFA Buka Voting Tim Terbaik Piala Dunia 2026: Argentina Sumbang 5 Pemain, Spanyol?
-
Dari Pameran Kudatuli, Megawati Titip Pesan untuk Generasi Muda Indonesia
-
Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur
-
Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan
-
Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru
-
Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi