- Menteri Energi Israel, Eli Cohen, mengakui proses aneksasi nyata melalui pembangunan infrastruktur di wilayah Tepi Barat Palestina.
- Pemerintah Israel menghubungkan permukiman ilegal dengan jaringan listrik dan air nasional sebagai bentuk penerapan kedaulatan secara praktik.
- Tindakan tersebut memicu eskalasi kekerasan dan mengancam peluang solusi dua negara karena dianggap melanggar hukum internasional secara masif.
Suara.com - Pemerintah Israel secara terbuka mengakui mereka sedang melakukan proses aneksasi atau pencaplokan secara nyata di wilayah pendudukan Tepi Barat Palestina.
Pernyataan mengejutkan ini disampaikan langsung oleh Menteri Energi Israel, Eli Cohen, pada Senin (20/4) waktu setempat.
Dikutip dari Anadolu Agency, Selasa (21/4/2026), langkah ini dilakukan di tengah penentangan keras dari komunitas internasional yang menganggap aktivitas tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional yang berat.
Eli Cohen, yang juga merupakan anggota Kabinet Keamanan Israel, menegaskan aktivitas pembangunan dan penguasaan lahan yang saat ini terjadi di Tepi Barat bukan lagi sekadar wacana.
"Aneksasi Tepi Barat adalah sama saja dengan menerapkan kedaulatan Israel secara praktik," kata Eli Cohen.
Untuk diketahui, istilah "menerapkan kedaulatan secara praktik" (applying sovereignty in practice) sering digunakan oleh otoritas Israel untuk merujuk pada upaya aneksasi wilayah Palestina secara sistematis.
Melalui unggahan di media sosial X, Cohen mengungkapkan bahwa dirinya telah mencapai kesepakatan dengan Ketua Dewan Regional Samaria, Yossi Dagan.
Kesepakatan tersebut mencakup langkah konkret untuk menghubungkan berbagai permukiman ilegal baru di Tepi Barat, dengan jaringan listrik dan air nasional Israel.
Beberapa wilayah yang masuk dalam daftar prioritas sambungan infrastruktur ini antara lain adalah Homesh, Sa-Nur, Rehavam, dan Ebal.
Baca Juga: The Strokes Telanjangi Dosa Amerika Serikat, Kecam Agresi AS-Israel ke Iran
Langkah ini dianggap sebagai preseden berbahaya oleh banyak pihak. Pasalnya, menghubungkan permukiman ilegal dengan infrastruktur nasional seperti listrik dan air, merupakan bentuk pengakuan permanen terhadap keberadaan pemukim di wilayah yang seharusnya menjadi bagian dari masa depan negara Palestina.
Selama puluhan tahun, Otoritas Palestina telah berulang kali mendesak komunitas internasional untuk segera menghentikan ekspansi permukiman Israel di wilayah pendudukan.
Namun, seruan tersebut hingga kini belum membuahkan hasil yang signifikan di lapangan. Ekspansi justru semakin masif dan kini mendapatkan dukungan infrastruktur resmi dari pemerintah pusat Israel.
Data saat ini menunjukkan bahwa sekitar 750.000 pemukim ilegal Israel tinggal di ratusan permukiman yang tersebar di seluruh Tepi Barat yang diduduki. Dari jumlah tersebut, sekitar 250.000 orang berada di Yerusalem Timur.
Pada wilayah-wilayah itu, warga Palestina melaporkan seringnya terjadi serangan dari para pemukim yang bertujuan untuk memaksa mereka mengungsi dan meninggalkan tanah kelahiran mereka.
Sejak menjabat pada Desember 2022, pemerintahan di bawah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memang terus mempercepat aktivitas permukiman di seluruh Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur.
Tag
Berita Terkait
-
The Strokes Telanjangi Dosa Amerika Serikat, Kecam Agresi AS-Israel ke Iran
-
Bibit Bom Waktu Harga Pangan Bakal Meroket Imbas Perang AS - Iran Dimulai dari Sini
-
Kapal Perang Israel Tembak Mati Wanita Palestina di Pantai Gaza
-
1200 Jam Internet Mati Total, Warga Iran Putar Otak Gunakan VPN hingga Pakai Cara Ini
-
Trio Pemimpin Dunia Ini Dijuluki Predator dan Bikin Rusak Tatanan Global
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
FIFA Buka Voting Tim Terbaik Piala Dunia 2026: Argentina Sumbang 5 Pemain, Spanyol?
-
Dari Pameran Kudatuli, Megawati Titip Pesan untuk Generasi Muda Indonesia
-
Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur
-
Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan
-
Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru
-
Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan