- Amerika Serikat menuntut Iran menghentikan total pengayaan uranium yang memicu kebuntuan diplomatik dalam konflik nuklir jangka panjang.
- Iran bersikeras bahwa pengayaan uranium adalah hak sah untuk kepentingan damai sesuai keanggotaan dalam Non-Proliferation Treaty.
- Pengamat menilai tuntutan Amerika Serikat yang tidak realistis menghambat perdamaian dan berpotensi mendorong Iran mengembangkan senjata nuklir.
Suara.com - Upaya perdamaian jangka panjang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terancam belum akan terwujud dalam waktu dekat. Hal ini akibat tuntutan yang dianggap tidak realistis dadi AS terkait program nuklir Teheran.
Pengamat Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhadi Sugiono, menyatakan bahwa fokus AS selama ini ada pada kebijakan zero enrichment atau pengayaan uranium nol persen. Namun bagi Iran itu adalah jalan buntu bagi diplomasi.
"Semua perundingan perdamaian dimaksudkan oleh Amerika untuk mencapai tujuan yang oleh Amerika, (bahkan) sebelumnya dilakukan dengan militer, itu meminta Iran untuk berhenti mengayakan uranium dan menyerahkan uranium yang sudah diperkayanya ke Amerika. Itu hal yang bagi Iran tidak mungkin dilakukan," ungkap Muhadi, saat dihubungi Suara.com, Selasa (21/4/2026).
Persoalan nuklir ini menjadi inti dari konflik panjang kedua negara. Iran bersikeras bahwa sebagai anggota Non-Proliferation Treaty (NPT) atau Non-Proliferasi Nuklir, mereka memiliki hak sah untuk mengembangkan teknologi nuklir.
Tujuannya untuk kepentingan damai, seperti pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Jika Iran tidak boleh sama sekali melakukan pengayaan maka sama dengan penghentian total teknologi nuklir yang ada.
"Kita butuh melakukan pengayaan supaya uranium itu bisa dipakai gitu lho karena uranium itu tidak ada di alam. Jadi material itu harus dikayakan dulu baru kemudian bisa digunakan," ujarnya.
Persoalan teknis yang kemudian muncul, kata Muhadi, yakni ketika kadar pengayaan untuk pembangkit tenaga listrik itu mencapai 60 persen. Pasalnya dengan tambahan sedikit saja, kadar pengayaan itu bisa digunakan untuk senjata nuklir.
Menurutnya AS perlu secara jelas menekankan apa yang diinginkan terhadap Iran.
Ia menyebut Teheran masih bisa mempertimbangkan jika Washington menginginkan zero nuclear weapons. Namun jika zero enrichment yang dikehendaki AS, maka upaya perdamaian akan menemui jalan buntu.
Baca Juga: China Kecam AS Sita Kapal Iran di Selat Hormuz, Peringatkan Risikonya
"Kalau yang diinginkan itu zero enrichment lupakan itu perdamaian, Iran tidak akan mau," tegasnya.
Tuntutan AS agar Iran tidak melakukan pengayaan selama 20 tahun dianggap Muhadi sebagai upaya untuk menghambat kemajuan teknologi Iran. Padahal, Iran sempat memberikan penawaran kompromi dengan membatasi pengayaan selama tiga tahun, namun ditolak oleh pihak Washington.
Kondisi ini diperparah dengan sikap AS yang sebelumnya mundur dari kesepakatan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), sebuah mekanisme multilateral yang sebenarnya berfungsi mengawasi aktivitas nuklir Iran.
"Ketika Iran kemudian tidak boleh melakukan pengayaan sama sekali berarti itu membunuh Iran," imbuhnya.
Lebih lanjut, Muhadi menyoroti adanya standar ganda yang dipraktikkan oleh AS dalam isu nuklir. Saat AS dinilai sangat keras menekan Iran, namun di sisi lain cenderung menutup mata terhadap kepemilikan senjata nuklir oleh Israel yang bahkan tidak tergabung dalam NPT.
Tekanan yang terus-menerus ini justru dikhawatirkan akan mendorong Iran untuk menjadikan nuklir sebagai instrumen pertahanan wajib, bukan lagi pilihan.
"Kalau situasinya seperti ini bagi Iran nuklir bukan lagi sebuah pilihan itu adalah kewajiban keharusan... Nah kalau dia sudah berpikir begitu lebih rumit lagi," ucapnya.
Gencatan senjata, tambah Muhadi, memang masih berpotensi untuk diperpanjang. Namun untuk menghasilkan perdamaian jangka panjang itu hal yang berbeda.
"Gencatan senjata mungkin akan diperpanjang karena itu memenuhi kepentingan kedua belah pihak tetapi seberapa jauh gencatan senjata meskipun diperpanjang itu akan menghasilkan perdamaian itu yang masih tanda tanya besar," pungkasnya.
Berita Terkait
-
China Kecam AS Sita Kapal Iran di Selat Hormuz, Peringatkan Risikonya
-
The Strokes Telanjangi Dosa Amerika Serikat, Kecam Agresi AS-Israel ke Iran
-
Bibit Bom Waktu Harga Pangan Bakal Meroket Imbas Perang AS - Iran Dimulai dari Sini
-
Gencatan Senjata AS-Iran Berakhir 22 April, Begini Analisis Pakar Hubungan Internasional
-
11 Ilmuwan Nuklir Tewas Misterius, DPR AS Bakal Periksa Kementerian Perang
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur
-
Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan
-
Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru
-
Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan
-
Langkah Kecil yang Diam-Diam Bisa Membuat Perempuan Lebih Percaya Diri
-
JPMorgan Optimistis Kepada BBRI, Saham Dinilai Masih Murah