-
Ahmad Vahidi pimpin IRGC, membawa ideologi radikal yang mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah.
-
Rekam jejak Vahidi melibatkan serangan teror global dan penindasan brutal terhadap demonstran Iran.
-
Penunjukan ini memicu keraguan atas komitmen Iran terhadap gencatan senjata dengan Amerika Serikat.
"Dalam pandangan saya, dia lebih dominan saat ini, meskipun mereka terkoordinasi. Ini bukan waktunya untuk persaingan internal," ujar Sabti.
Jauh sebelum nama Qassem Soleimani dikenal luas, Vahidi telah meletakkan fondasi bagi operasi intelijen dan serangan luar negeri Iran.
Ia menjabat sebagai komandan Pasukan Quds pada dekade 1990-an, menginisiasi jaringan proksi milisi yang tersebar di Lebanon dan sekitarnya.
"Ahmad Vahidi adalah perwujudan dari sayap paling militan Republik Islam," kata Daftari kepada Fox News Digital.
"Sebagai pendahulu Qassem Soleimani di Pasukan Quds, dia membantu membangun infrastruktur teror Teheran di luar negeri."
Keterlibatannya dalam melatih kelompok-kelompok militan di Lebanon selatan menjadi akar dari aliansi kuat Iran dengan Hizbullah.
Rekam jejaknya mencakup dugaan keterlibatan dalam pengeboman barak Beirut 1983 dan serangan terhadap komunitas Yahudi AMIA di Argentina tahun 1994.
Sanksi Berlapis dan Penindasan Domestik
Dunia internasional merespons sepak terjang Vahidi dengan berbagai lapisan sanksi ekonomi dan pembatasan perjalanan lintas negara.
Baca Juga: Bibit Bom Waktu Harga Pangan Bakal Meroket Imbas Perang AS - Iran Dimulai dari Sini
Washington menjatuhkan sanksi padanya atas keterlibatan dalam program rudal nuklir serta pelanggaran hak asasi manusia yang berat.
Vahidi dituding bertanggung jawab atas pemutusan akses internet dan tindakan represif terhadap demonstran dalam tragedi kematian Mahsa Amini.
Uni Eropa juga menyoroti penggunaan peluru tajam serta penahanan sewenang-wenang terhadap jurnalis di bawah komando taktis Vahidi.
"Di bawah kepemimpinannya, lebih banyak kejahatan serupa yang diperkirakan akan terjadi di Barat terhadap orang Yahudi dan non-Yahudi," peringat Yigal Carmon, pendiri MEMRI.
Kekhawatiran utama saat ini adalah Vahidi mungkin hanya menggunakan negosiasi sebagai strategi untuk mengatur ulang kekuatan militer.
Karakternya yang sangat ekstrem membuat peluang tercapainya perdamaian permanen dengan pihak Barat menjadi sangat kecil dan berisiko.
Sabti memperingatkan bahwa radikalisasi sistemik ini akan membuat Teheran enggan untuk menghentikan peperangan yang sedang berlangsung.
"Dia membawa lebih banyak radikalisasi ke dalam sistem dan mungkin tidak ingin menghentikan perang, karena itu melayani kepentingan Garda Revolusi untuk melanjutkan," kata Sabti.
Carmon menegaskan bahwa mempercayai komitmen damai dari figur seperti Vahidi merupakan sebuah kesalahan fatal bagi keamanan internasional.
"Memercayainya adalah kesalahan besar. Dia termasuk dalam korps keras 'MATI UNTUK AMERIKA'," tegas Carmon.
Ahmad Vahidi adalah mantan Menteri Pertahanan Iran yang memiliki sejarah panjang dalam operasi rahasia militer di luar negeri.
Namanya masuk dalam daftar pencarian internasional Interpol terkait serangan bom di Argentina yang menewaskan 85 orang.
Penunjukannya sebagai kepala IRGC terjadi saat Iran menghadapi tekanan ekonomi dan militer hebat dari Amerika Serikat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
- 3 HP Xiaomi dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- 4 Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Tersangka Korupsi MBG Sony Sonjaya Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator, Siap Ungkap Pihak Lain
-
Terbukti Korupsi! Immanuel Ebenezer 'Noel' Dijatuhi Hukuman 4,5 Tahun dan Denda Rp200 Juta
-
Purbaya Bantah Kabar Akan Dicopot dari Kursi Menteri Keuangan
-
Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
-
Wamen Imipas Silmy Karim Ditahan KPK, Terborgol Pakai Rompi Oranye Usai Drama Menyerahkan Diri
Terkini
-
Menakar Ramalan '98 Jilid 2' Noel: Nyanyian Kosong atau Ancaman Nyata Penggulingan Prabowo?
-
'Presiden Punya Mata dan Telinga', Prabowo Pantau Terus Kasus Korupsi Imigrasi dan BGN
-
Antisipasi El Nino dan Krisis Sampah, Dedi Mulyadi Kumpulkan Kepala Daerah se-Jabar
-
Sentil Netizen, Eky Priyagung: Masyarakat Lebih Peduli Isu Viral Ketimbang Kerusakan Lingkungan
-
KPK Sita 19 Kendaraan hingga Perhiasan dari Rumah Silmy Karim
-
Mobil Sport, Motor Harley, Hingga Uang Asing Dibawa KPK dari Rumah Silmy Karim
-
Wamen Silmy Karim Tersangka Korupsi Rp145 M, Yusril Akui Imigrasi Masih Banyak Pungli
-
WALHI: Target Ekonomi 8 Persen Bisa Sulap Papua Jadi Hamparan Sawit Raksasa
-
Pemprov DKI Kebut Pembersihan Sampah Muara Angke, Ditargetkan Tuntas Akhir Pekan
-
'Nyerah Jadi WNI tapi Sayang sama RI', Aksi Ibu di Yogya Soroti Ekonomi hingga Korupsi