- Pemprov DKI Jakarta mewaspadai peralihan penggunaan LPG 12 kg ke gas subsidi 3 kg akibat lonjakan harga jual.
- Kenaikan harga gas non-subsidi di Jakarta terjadi karena dinamika pasar global, harga CP Aramco, dan gejolak geopolitik.
- Pemerintah memperketat pengawasan distribusi gas subsidi menggunakan sistem KTP untuk memastikan penyaluran tepat sasaran bagi masyarakat kurang mampu.
Suara.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi eksodus atau perpindahan besar-besaran pengguna LPG 12 kilogram ke gas subsidi 3 kilogram.
Langkah ini diambil menyusul adanya lonjakan harga yang cukup signifikan pada komoditas gas non-subsidi di wilayah ibu kota.
Kepala Dinas PPKUKM Provinsi DKI Jakarta, Elisabeth Ratu Rante Allo, mengungkapkan bahwa kenaikan harga ini merupakan imbas dari dinamika pasar global yang tak terelakkan.
"LPG 12 kilogram mengalami kenaikan sebesar Rp36.000 atau sekitar 18,75 persen, dari Rp192.000 menjadi Rp228.000 per tabung. Sedangkan LPG 5,5 kg naik Rp17.000 atau sekitar 18,89 persen, dari Rp90.000 menjadi Rp107.000 per tabung," ujar Ratu, Selasa (21/4/2026).
Ratu merinci bahwa fluktuasi harga juga dipengaruhi oleh lonjakan harga kontrak LPG dunia atau CP Aramco serta meningkatnya Indonesian Crude Price (ICP).
Selain itu, gejolak geopolitik di kawasan Timur Tengah turut memberikan andil terhadap terganggunya jalur logistik energi secara global, yang berdampak pada harga jual ke konsumen.
Kendati harga merangkak naik, Pemprov DKI memastikan pasokan gas non-subsidi di seluruh depo dan penyalur tetap dalam kondisi aman terkendali.
"Berdasarkan pantauan di lapangan, stok LPG 5,5 kg dan 12 kg saat ini terpantau stabil di level agen maupun pangkalan. Distribusi berjalan normal ke seluruh depo dan penyalur di lima wilayah kota administrasi serta Kabupaten Kepulauan Seribu. Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan panic buying," kata Ratu.
Fokus utama pemerintah saat ini adalah mengantisipasi perilaku masyarakat mampu yang berpotensi menyasar gas "melon" demi menyiasati selisih harga yang kian lebar.
Baca Juga: Rugikan Negara Rp243 Miliar! Bareskrim Sikat 330 Tersangka Penyalahgunaan BBM dan LPG Bersubsidi
Salah satu contohnya seperti Supriyanto, warga Manggarai, Jakarta Selatan yang mulai berpikir ulang untuk tetap memakai LPG 12 kilogram di tengah kenaikan harga yang cukup menekan dompet.
"Harga naiknya Rp36 ribu dari atas. Sampai bawah naiknya bisa Rp50 ribu. Kayaknya jadi mikir 7 kali buat beli gas 12 kilogram," keluhnya saat berbincang dengan Suara.com baru-baru ini.
Nantinya, pihak dinas bersama para pemangku kepentingan akan memperkuat monitoring di berbagai sektor usaha komersial kelas atas seperti restoran, kafe, hingga perhotelan.
"Selain itu, kami mengimbau ASN dan masyarakat mampu agar tetap menggunakan LPG non-subsidi," tegas Ratu.
Edukasi secara persuasif juga akan terus digencarkan agar subsidi negara yang melekat pada gas 3 kilogram tetap dinikmati oleh warga yang benar-benar membutuhkan.
Ratu tak lupa menekankan bahwa aturan ketat dalam mekanisme pembelian gas subsidi yang menggunakan KTP masih berlaku di seluruh pangkalan resmi.
"Sesuai ketentuan yang berlaku, pembelian LPG 3 kg di pangkalan resmi wajib menggunakan KTP yang telah terdaftar dalam sistem Merchant Apps Pertamina (MAP). Setiap transaksi dicatat dalam sistem, sebagai bagian dari pengendalian distribusi LPG subsidi agar tepat sasaran," ucapnya.
Berita Terkait
-
Rugikan Negara Rp243 Miliar! Bareskrim Sikat 330 Tersangka Penyalahgunaan BBM dan LPG Bersubsidi
-
Dari Dapur ke Dompet: Dampak Nyata Kenaikan LPG 12 Kg
-
Pengusaha Warteg Khawatir Gas LPG 3Kg Langka
-
Harga LPG dan BBM Nonsubsidi Naik dan Porsi Makan Kita yang Kian Mungil
-
Harga LPG Non-Subsidi 'Terbang', Bahlil: Pemerintah Tak Campur Tangan, Ikut Harga Dunia!
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
Terkini
-
Korupsi KBS Terungkap: Dana Perawatan Satwa Menguap ke Kantong Pribadi Dirut
-
Usai Mundur, Nanik Spill Tipis-tipis Sosok Kepala BGN Baru: Siap Jewer kalau Menyimpang
-
Weton Tulang Wangi Hari Apa? Ini Ciri-Ciri Kepribadiannya Menurut Primbon Jawa
-
Lampung Bersiap Jadi Rumah Kapal Induk Pertama Indonesia Giuseppe Garibaldi
-
Cukai Vape Sumbang Rp2,8 T, Bea Cukai Wanti-wanti Ledakan Produk Ilegal Ancam Penerimaan Negara
-
Kebijakan Pemerintah Ini Bikin Bisnis Akar Rumput Untung, BBRI Ikutan Cuan
-
Lampu Hijau Peluncuran! Sertifikasi Xiaomi Pad 9 dan Xiaomi 17 Fold Resmi Terbit
-
Mobil Bisa Dihack? Intip Fakta Ngerinya yang Ternyata Beda dari Film Hollywood
-
Mobil Bisa Dihack? Intip Fakta Ngerinya yang Ternyata Beda dari Film Hollywood
-
4 Browcara Lokal Tahan Keringat untuk Alis Rapi Seharian di Cuaca Panas