-
Pemukim Israel menembak mati siswa remaja dan warga dewasa di sekolah Ramallah.
-
Serangan di Al-Mughayyir melibatkan pelaku berseragam militer dengan dukungan tentara infanteri.
-
Intensitas kekerasan pemukim di Tepi Barat melonjak tajam sejak akhir tahun lalu.
Ia menambahkan betapa intensnya situasi saat itu layaknya sebuah medan perang yang sesungguhnya.
"Penembakan itu tidak berhenti sesaat pun. Itu adalah perang dalam setiap arti kata tersebut," ungkap Hamed dengan getir.
Keluarga korban merasakan kepedihan mendalam karena pola kekerasan yang terus berulang selama bertahun-tahun.
Paman dari korban remaja mengungkapkan bahwa serangan ini tampak sudah direncanakan untuk memakan banyak korban.
"Aws sekarang menyusul ayahnya," kata Faraj, merujuk pada kematian ayah Aws dalam serangan serupa pada tahun 2019.
Ia mengenang bagaimana Aws kecil harus kehilangan ayahnya dan kini mengalami nasib yang sama tanpa kesalahan.
"Dia adalah seorang anak kecil pada waktu itu dan mengucapkan selamat tinggal kepada ayahnya dengan penuh kesedihan, tanpa ada kesalahan darinya, dan hari ini dia dibunuh dengan cara yang sama," tutur Faraj.
Direktur pendidikan setempat, Haniya Nazzal, mengecam keras penghancuran masa depan anak-anak di wilayah tersebut.
"Pendudukan Israel membunuh kepolosan [Nassan], dan halaman sekolah bersimbah darahnya," tegas Haniya.
Baca Juga: Penembakan Turis di Piramida Teotihuacan Meksiko Mengancam Keamanan Piala Dunia 2026
Kekerasan oleh pemukim Israel di wilayah pendudukan Tepi Barat menunjukkan tren peningkatan yang signifikan sejak Oktober 2023.
Selain penembakan di sekolah, militer juga dilaporkan merobohkan fasilitas pendidikan primer lainnya di Lembah Yordan.
Data dari Komisi Perlawanan Tembok dan Pemukiman mencatat hampir 500 serangan terjadi hanya dalam satu bulan terakhir.
Warga Al-Mughayyir menyatakan bahwa tekanan ini bertujuan untuk memaksa mereka meninggalkan tanah kelahiran secara sistematis.
Meski diteror, penduduk lokal berkomitmen untuk tetap bertahan dan menjaga kedaulatan tempat tinggal mereka dari agresi.
"Serangan ini bukan hal baru bagi desa kami," kata Abu Aliya menekankan keberanian warga menghadapi ancaman.
"Tapi kami tidak akan meninggalkan desa kami, dan kami akan selalu mempertahankannya," tutupnya penuh penegasan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
Pilihan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
Terkini
-
RUU HAM Ditargetkan Rampung 2026, Pemerintah Klaim Prosesnya Terbuka untuk Publik
-
3 HP Murah Tecno Terbaik Budget Rp1-2 Jutaan, Fitur Lengkap Sesuai Review
-
Sebagian Himbara Tak Lagi Miliki Bisnis Manajer Investasi, Sahamnya Dipegang Danantara
-
Selain Rudal Kiamat, Iran Kerahkan Hacker Lumpuhkan Jarigan Siber Vital Amerika Serikat
-
Masyarakat RI Makin Hidup Sehat, Bisnis Wellness Punya Peluang Moncer
-
Warna Lipstik OMG untuk Kulit Sawo Matang Nomor Berapa? Ini 6 Shade yang Bikin Wajah Makin Cerah
-
Kejar Tayang, Kru Harry Potter Sebut Syuting Serial Berlangsung Brutal
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Pemerintah Siapkan Insentif untuk Pemilik Truk ODOL yang Mau Beralih ke Truk Standar
-
Review Serial The East Palace: Kisah Mistik Berdarah dari Kerajaan Joseon