News / Internasional
Rabu, 22 April 2026 | 18:06 WIB
Tentara Israel secara paksa menutup akses pendidikan bagi puluhan anak-anak di Umm al-Khair melalui blokade jalan utama. (MME)
Baca 10 detik
  • Tentara Israel melarang 55 siswa Palestina bersekolah dengan memblokade jalan di Umm al-Khair.

  • Pelajar melakukan demonstrasi menuntut hak pendidikan namun dibubarkan oleh pasukan bersenjata dan anjing.

  • Kekerasan pemukim di Tepi Barat meningkat tajam sejak pecahnya perang di wilayah Gaza.

Suara.com - Tentara Israel secara paksa menutup akses pendidikan bagi puluhan anak-anak di Umm al-Khair melalui blokade jalan utama.

Aksi pembubaran paksa dilakukan terhadap para siswa yang menuntut hak dasar mereka untuk belajar di sekolah.

Dikutip dari MME, kebijakan diskriminatif ini menunjukkan pola baru penghancuran masa depan generasi muda Palestina melalui isolasi geografis yang sistematis.

Blokade fisik berupa kawat berduri telah memutus nadi perjalanan harian siswa menuju ruang kelas mereka.

Tekanan psikologis terhadap anak-anak meningkat seiring hadirnya anjing pelacak dan senjata api di jalur pendidikan.

Kekerasan ini menjadi puncak dari larangan melintas yang telah berlangsung selama lebih dari satu pekan.

Khalil Hathaleen selaku pejabat pendidikan setempat menyatakan sedikitnya 55 siswa terpaksa absen karena jalanan ditutup.

Pasukan bersenjata lengkap dikerahkan hanya untuk menghadapi kerumunan anak sekolah yang membawa pesan perdamaian.

Penutupan jalan krusial antara Khirbet Umm al-Khair dan desa tetangganya menjadi pemicu utama ledakan kemarahan warga.

Baca Juga: Perdamaian AS - Iran Makin Runyam, Blokade Laut Donald Trump Sampai Samudra Hindia

“Pesan kami jelas, yaitu bahwa hari ini, mereka mencoba merampas hak kami atas pendidikan,” kata Hathaleen.

Dampak Pagar Kawat Berduri Pemukim

Seorang pemimpin pemukim ilegal bernama Nivo memasang pagar kawat sepanjang 50 meter di tengah jalan umum.

Tindakan sepihak ini menutup akses jalan sempit yang menjadi satu-satunya jalur aman bagi penduduk sipil.

Masyarakat internasional melihat ini sebagai bentuk nyata dari intimidasi yang dilindungi oleh otoritas keamanan resmi.

Hathaleen menegaskan bahwa tuntutan warga hanyalah keamanan bagi anak-anak saat berangkat menuntut ilmu di sekolah.

Load More