-
Mojtaba Khamenei belum muncul ke publik sejak menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru.
-
Absensi fisik Mojtaba digunakan sebagai taktik melindungi negosiator dari kritik kelompok garis keras.
-
Elit politik Iran kini mengendalikan diplomasi di tengah ketidakpastian kondisi fisik pemimpin mereka.
Hal ini krusial mengingat basis pendukung garis keras di Iran sangat anti terhadap konsesi apa pun dengan Amerika.
Pemerintahan Donald Trump mengklaim telah terjadi perubahan karakter kepemimpinan di Teheran yang kini dianggap lebih masuk akal.
"Kami berurusan dengan orang-orang yang berbeda dari yang pernah dihadapi siapa pun sebelumnya," kata Trump bulan lalu.
Namun di dalam negeri, para pejabat Iran harus berjalan di atas tali tipis demi menjaga dukungan basis massa.
Setiap langkah diplomasi seperti pembukaan Selat Hormuz langsung memicu kecaman pedas dari media yang berafiliasi dengan pemerintah.
Masyarakat Iran kini berada dalam kondisi kebingungan mengenai siapa sebenarnya pemegang komando tertinggi yang memberikan persetujuan akhir.
Dilema Kelangsungan Hidup Rezim Teheran
Ketidakpastian ini membuat posisi Presiden Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menjadi sangat rentan.
"Mengelola hal ini sangat sulit ... ini adalah tanda dilema yang nyata," ungkap Hamidreza Azizi, peneliti dari German Institute for International and Security Affairs.
Baca Juga: Iran Serang Kapal Kontainer Dekat Selat Hormuz
Mereka harus menyeimbangkan tekanan eksternal dari Washington dengan kemarahan kelompok ideologis di Teheran yang menolak menyerah.
Wakil Presiden AS JD Vance menyebut bahwa setiap kesepakatan masih membutuhkan validasi dari otoritas tertinggi di Iran.
Namun realitanya Iran mungkin telah memasuki fase baru di mana restu fisik pemimpin tertinggi bukan lagi syarat mutlak.
Krisis kepemimpinan di Iran bermula setelah serangan udara besar-besaran yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei dan jajaran komandan militer tertinggi.
Penunjukan Mojtaba Khamenei dilakukan secara mendadak di tengah eskalasi konflik dengan Israel dan tekanan ekonomi akibat sanksi Amerika Serikat.
Ketidakhadirannya di ruang publik selama lebih dari sebulan telah menciptakan kekosongan visual yang kini dimanfaatkan oleh para elit politik untuk melakukan negosiasi ulang tanpa tekanan langsung dari figur otoritas tertinggi yang tradisional.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Cara Menghilangkan Kerak Gosong di Bawah Setrika agar Tidak Lengket dan Mengkilap
- Gelar Bukan Segalanya, Boni Hargens Sepakat dengan Prof Gayus Lumbuun Soal Aturan Sidang S3
- Wakapolri Minta Jajaran Siap Hadapi Isu Aksi 'Black September', Apa Itu?
- Heran Febrie Adriansyah Dipanggil sebagai Tersangka, Pengacara: Baru Kali Ini Kami Lihat
- Nasi di Rice Cooker Cepat Bau dan Kuning? Begini 10 Cara Mengatasinya
Pilihan
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
-
Cari 5 Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, 6 Kapal Sisir Laut hingga 271 Nautical Mile
Terkini
-
Beasiswa PNM Jadi Jembatan Pendidikan Anak Nasabah Mekaar Raih Mimpi
-
Pemerintah Bakal Gelontorkan Rp11 T untuk Rekening Massal, Apa Urgensinya?
-
Apa Itu Bedak Two Way Cake dan Bagaimana Cara Pakainya? Ini Penjelasannya
-
Cara Menempatkan Patung Katak Berkaki Tiga Chan Chu Penarik Rezeki, Jangan Sembarangan
-
Tim Gabungan Sita 2.188 Batang Rokok Ilegal di Wonosobo
-
Panas dengan Asia Barat, Aljazair Blokir Wilayah Udara untuk Pesawat UEA
-
PTPP Baru Bisa Lunasi Utang Bank Rp13,3 Triliun Hingga 2041
-
Harga Minyak Dunia Melonjak, Rupiah Mengkerut
-
'Tunggu ya, Pak. Maaf ya,' Gibran Mendadak Temui Warga yang Antre BBM di SPBU Palangka Raya
-
2 Cara Efektif Pakai Air Mawar untuk Mengempeskan Jerawat yang Membandel, Wajib Coba!