- Menteri Keuangan mengusulkan pungutan tarif kapal di Selat Malaka untuk meningkatkan penerimaan negara dan memanfaatkan posisi strategis Indonesia.
- Rencana tersebut memicu penolakan tegas dari Malaysia dan Singapura karena dianggap bertentangan dengan prinsip kebebasan navigasi internasional.
- Wacana pengelolaan jalur pelayaran tersibuk dunia ini masih bersifat gagasan awal dan belum siap diterapkan oleh pemerintah Indonesia.
Suara.com - Wacana pemerintah Indonesia untuk mengenakan tarif terhadap kapal yang melintasi Selat Malaka memicu perhatian di kawasan Asia Tenggara. khususnya Malaysia.
Gagasan ini dinilai berpotensi mengubah dinamika pengelolaan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia.
Menteri Keuangan Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa mengusulkan skema pungutan sebagai langkah untuk meningkatkan penerimaan negara sekaligus memaksimalkan nilai strategis posisi geografis Indonesia.
Ia mencontohkan kebijakan yang diterapkan Iran di Selat Hormuz sebagai referensi awal.
“Saat ini Iran telah mengenakan biaya terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz. Apabila skema serupa diterapkan dan dibagi di antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura untuk Selat Malaka, hal tersebut berpotensi memberikan manfaat ekonomi yang signifikan. Terlebih, porsi jalur Indonesia merupakan yang terbesar dan terpanjang,” kata Purbaya.
Meski demikian, Purbaya menegaskan bahwa ide tersebut masih sebatas wacana dan belum siap untuk langsung diterapkan.
Ia menyebut gagasan ini sebagai upaya mendorong perubahan cara pandang dalam mengelola potensi nasional, agar tidak lagi bersifat pasif.
Menurutnya Indonesia perlu mengambil langkah yang lebih aktif dan terukur dalam memanfaatkan posisi strategisnya di jalur perdagangan global.
Pendekatan ini disebut selaras dengan visi pemerintah yang menempatkan Indonesia sebagai pemain utama, bukan sekadar pelengkap dalam arus ekonomi dunia.
Baca Juga: Tembus Rp10.355 Triliun, Likuiditas Uang Beredar Maret 2026 Tumbuh 9,7 Persen
Namun, respons dari negara tetangga tidak sejalan. Malaysia dan Singapura secara tegas menolak rencana tersebut.
Perdebatan juga meluas ke ranah publik, terutama di Malaysia. Sejumlah warganet mempertanyakan relevansi dan dampak kebijakan tersebut terhadap stabilitas kawasan.
"Ide itu dating setelah Indonesia memberikan izin penerbangan lintas wilayah tanpa batas kepada AS, tepat di halaman belakang China. Ini ide yang sangat buruk," tulis @ling***
"Berdasarkan norma-norma maritim internasinoal, selat-selat Utama pada umumnya tetap terbuka tanpa adanya tol. Selat tersebut (Malaka) terbagi oleh Indonesia, Malaysia, dan Singapura, sehingga tidak ada satupun negara yang dapat secara sepihak memasang biaya," jelas @nouv***
"Solusi sederhana. Tinggal berlayar di sisi Malaysia dari Selat itu. Toh itu wilayah yang dibagi Bersama. Indonesia tidak punya semuanya," timpal @kris***
Dengan posisi Selat Malaka sebagai jalur vital perdagangan global, setiap kebijakan yang berkaitan dengan pengelolaannya berpotensi berdampak luas, tidak hanya bagi negara-negara ASEAN, tetapi juga bagi stabilitas ekonomi internasional.
Berita Terkait
-
Alarm Bahaya! 4700 Warga Malaysia Kehilangan Pekerjaan dalam 16 Hari, Bagaimana di Indonesia?
-
BI Guyur Insentif Rp427,9 Triliun Buat Perbankan, Bank Asing Juga Kebagian
-
IHSG Masih Rungkad di Jumat Pagi ke level 7.378
-
Heboh Usulan Purbaya Pungut Tarif di Selat Malaka, Malaysia Singgung 'Titipan' AS
-
Rupiah di Level Kritis Rp17.300, Pakar Sarankan Ini Buat Pemerintahan Prabowo
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Anggaran Pakan Hewan di Kebun Binatang Surabaya Dikorupsi Rp10,2 M di, DPR Minta Semua Diperiksa!
-
Review A Toxic Love Story: Manipulasi Lebih Mematikan dari Kekerasan Fisik?
-
Gantikan Hotman, Mantan Jubir KPK Kini Pasang Badan Jadi Advokat Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah
-
KPK Bongkar Alasan Tahan Febrie, Ada 'Surat Sakti' yang Dikirim Sejak Jumat Pagi
-
Berapa Lama Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Bakal Mendekam di Rutan KPK?
-
Apa Kata KPK soal Klaim Kriminalisasi Febrie Adriansyah? Ini Penjelasan Lengkapnya
-
Tayang 2027, Drama Misteri-Kriminal 'Code' Rilis Jajaran Pemeran Utama
-
Karena Buru-buru Sudah Malam, Alasan Kejagung Tak Pakaikan Rompi Pink ke Febrie Adriansyah
-
Dua Kata Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Masuk ke Rutan KPK Tanpa Pakai Rompi Pink
-
Budget 4 Jutaan? 5 HP Gaming Ini Bisa Push Rank Tanpa Lag