News / Internasional
Jum'at, 24 April 2026 | 20:05 WIB
Selat Hormuz
Baca 10 detik
  • Amerika Serikat menyusun rencana serangan militer baru menyasar aset asimetris dan infrastruktur Iran.

  • Target operasi mencakup komandan Garda Revolusi Ahmad Vahidi jika negosiasi damai resmi gagal.

  • Presiden Trump tetap memberlakukan blokade pelabuhan Iran sambil menunggu peluang dialog damai susulan.

Suara.com - Potensi eskalasi perang bersenjata di Timur Tengah kembali mengemuka setelah militer Amerika Serikat merancang skenario serangan baru jika upaya diplomatik dengan Iran berakhir sia-sia.

Fokus utama operasi kali ini diarahkan pada pelumpuhan armada perang asimetris Iran yang selama ini dianggap sebagai ancaman nyata di Selat Hormuz.

Dikutip dari Sputnik, perencanaan taktis ini menjadi jawaban atas kegagalan dialog di Islamabad yang tidak menghasilkan titik temu bagi kedua negara yang bertikai.

Kapal macet di Selat Hormuz (TOI)

Pemerintah AS kini menyasar kapal serang cepat serta infrastruktur penyebar ranjau milik Teheran guna memastikan keamanan jalur perdagangan laut dunia.

Langkah ini diambil menyusul berakhirnya masa gencatan senjata dua pekan yang sebelumnya disepakati pada awal April lalu.

Rencana serangan tersebut mencakup penghancuran fasilitas dwiguna seperti jembatan strategis dan pembangkit listrik yang menyokong operasional negara.

Tidak hanya aset fisik, militer AS juga mempertimbangkan untuk melakukan penargetan langsung terhadap jajaran elit pemimpin negara tersebut.

Salah satu sosok yang masuk dalam daftar bidikan utama adalah Ahmad Vahidi, tokoh berpengaruh sekaligus komandan Korps Garda Revolusi Islam.

Strategi ini mencerminkan pendekatan agresif yang pernah dicanangkan pada era pemerintahan sebelumnya dalam menghadapi pembangkangan Iran.

Baca Juga: Utusan Trump Usul Iran Diganti Italia di Piala Dunia 2026, FIFA: Mereka Pasti Datang

Situasi semakin memanas karena Washington saat ini masih memberlakukan blokade ketat terhadap seluruh pelabuhan utama di wilayah Iran.

Presiden Donald Trump menyatakan bahwa pihaknya tetap membuka ruang bagi perpanjangan masa gencatan senjata meskipun tekanan ekonomi terus berlanjut.

Pemerintah AS memperkirakan adanya celah komunikasi untuk mencapai kesepakatan damai dalam kurun waktu 36 hingga 72 jam mendatang.

Namun, belum ada pernyataan resmi mengenai dimulainya kembali aksi militer terbuka di tengah ketidakpastian hasil negosiasi internasional.

"Sementara itu, Trump pada Selasa mengatakan bahwa Washington akan memperpanjang gencatan senjata sambil tetap melanjutkan blokade."

Ketegangan ini berakar pada aksi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menghantam Iran pada akhir Februari silam.

Load More