-
Okupansi hotel di kota tuan rumah Piala Dunia 2026 merosot jauh di bawah target.
-
Kendala visa dan pembatalan kamar oleh FIFA menjadi penyebab utama rendahnya reservasi.
-
Kebijakan imigrasi yang ketat membuat wisatawan asing enggan berkunjung ke Amerika Serikat.
Suara.com - Sektor perhotelan di berbagai kota penyelenggara Piala Dunia 2026 kini sedang menghadapi ancaman krisis akibat angka pemesanan kamar yang terjun bebas.
Meskipun jutaan tiket pertandingan telah ludes terjual, data lapangan menunjukkan bahwa antusiasme tersebut tidak berbanding lurus dengan reservasi penginapan.
Dikutip dari NPR, ketimpangan ini memicu kekhawatiran besar bagi para pemilik aset properti yang sebelumnya berharap pada lonjakan devisa dari kunjungan internasional.
Kondisi lesu ini diperparah oleh kebijakan imigrasi yang ketat serta tingginya biaya perjalanan menuju Amerika Serikat bagi fans global.
Banyak calon penonton lebih memilih untuk membatalkan rencana perjalanan mereka karena rumitnya birokrasi masuk ke negara paman sam tersebut.
Laporan terbaru dari American Hotel and Lodging Association (AHLA) mengungkapkan bahwa pembatalan skala besar oleh FIFA menjadi pemicu utama kekosongan kamar.
Organisasi sepak bola dunia tersebut secara mendadak melepas kuota kamar yang sebelumnya telah dipesan, sehingga membuat hotel kehilangan potensi pendapatan.
“Terlepas dari lebih dari 5 juta tiket yang terjual (untuk pertandingan Piala Dunia), permintaan ini belum diterjemahkan ke dalam pemesanan hotel yang kuat,” ungkap AHLA dalam laporannya.
Kota seperti Kansas City mencatat penurunan drastis, bahkan lebih rendah dibandingkan dengan tingkat okupansi pada musim panas tahunan biasanya.
Baca Juga: Pelatih Irak Sebut Timnas Indonesia Paling Dirugikan di Round 4 Kualifikasi Piala Dunia 2026
Data survei menunjukkan bahwa sekitar 85 hingga 90 persen hotel di Kansas City melaporkan angka reservasi yang sangat mengecewakan.
Survei terhadap ratusan operator hotel menunjukkan bahwa citra Amerika Serikat sebagai destinasi yang ramah bagi turis asing mulai luntur.
Calon pengunjung internasional merasa terbebani dengan masa tunggu visa yang lama serta kenaikan biaya administrasi yang signifikan.
“Bahkan dengan antisipasi global yang meningkat, jalur menuju AS bagi banyak pelancong Piala Dunia terasa semakin kurang seperti sambutan karpet merah,” jelas pihak AHLA.
Ada persepsi kuat di kalangan pelancong bahwa mereka akan menghadapi ketidakpastian proses masuk serta pemeriksaan bandara yang sangat ketat.
“Ada persepsi bahwa pelancong internasional mungkin menghadapi waktu tunggu visa yang lama, kenaikan biaya visa, dan ketidakpastian yang berkepanjangan seputar pemrosesan masuk,” tambah AHLA.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan