- Sekjen PKB Hasanuddin Wahid menyatakan partainya bersikap fleksibel terkait besaran ambang batas parlemen dalam revisi undang-undang pemilu mendatang.
- PKB menekankan bahwa penentuan angka ambang batas harus mengutamakan kedaulatan rakyat agar tidak menghilangkan suara sah pemilih.
- Hasanuddin menyarankan penyeragaman ambang batas antara tingkat nasional dan daerah guna menjaga stabilitas sistem politik yang akuntabel.
Suara.com - Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Hasanuddin Wahid, angkat bicara mengenai dinamika pembahasan ambang batas parlemen (Parliamentary Threshold/PT) di tengah Revisi UU Pemilu belum dibahas.
Menanggapi berbagai usulan, termasuk saran dari Menko Kumham Imipas Yusril Ihza Mahendra terkait perhitungan berbasis jumlah komisi di DPR, PKB menyatakan posisi yang fleksibel namun tetap memegang prinsip dasar demokrasi.
Ia menegaskan, bahwa hingga kekinian PKB belum mematok angka pasti untuk besaran PT di masa depan. Fokus utama PKB adalah memastikan bahwa aturan tersebut tidak mengabaikan kedaulatan rakyat.
"Soal PT, itu kita belum mematok harus angkanya berapa. Tetapi pola pikirnya, cara menghitungnya itu begini, bahwa bagaimana PT ini tidak memberangus suara yang sah. Jadi kan kedaulatan rakyat itu kan dihitung dengan suara mereka. Nah, bagaimana mau PT ini tidak sampai kemudian menghilangkan suara yang sudah masuk," ujar Hasanuddin di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, dikutip Selasa (5/5/2026).
Meskipun mengedepankan perlindungan suara pemilih, Hasanuddin mengakui bahwa ambang batas parlemen tetap diperlukan sebagai instrumen penguatan sistem politik dan stabilitas demokrasi di Indonesia.
"Sebagai sebuah pelembagaan politik dan demokrasi, memang PT itu perlu, agar politik kita semakin stabil, kemudian pelembagaan demokrasinya juga semakin bagus," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa dinamika demokratisasi harus menuju kemapanan dengan sistem politik yang akuntabel.
"Menjamin jalannya politik di Indonesia semakin baik, berkualitas, dan juga tidak terjadi tirani mayoritas dan diskriminasi kepada minoritas," imbuh pria yang akrab disapa Cak Udin ini.
Saat ditanya mengenai kemungkinan dukungan PKB jika angka PT dinaikkan di atas 4 persen, Hasanuddin menyebut pihaknya sangat terbuka terhadap diskusi asalkan memiliki landasan argumen yang kuat.
Baca Juga: PKB: Usul KPK Soal Capres-Cawapres Wajib Kader Partai 'Pikiran Menarik'
"Ke soal angka, PKB relatif ya, fleksibel aja. Tapi ukurannya yang saya tadi itu. Kan kalau empat, lima, tujuh atau berapapun itu kan harus ada reasoning yang dibangun bersama. Nah, kalau reasoning-nya sama, untuk yang saya sebut tadi, PKB pasti setuju," tuturnya.
Terkait adanya usulan pemberlakuan ambang batas di tingkat DPRD Provinsi maupun Kabupaten/Kota, Sekjen PKB menyarankan agar aturan tersebut diseragamkan dengan hasil di tingkat nasional untuk menjaga stabilitas.
"Ya ambang batas ngikutin yang nasional aja. Jadi lebih stabil, gitu kan? Jadi kalau ambang batas diberlakukan nasional, yang dapat PT nasional mungkin sampai ke bawah gitu... Tapi jangan dipisahkan antara ambang batas nasional dengan daerah. Nah, itu malah rancu nanti," tegasnya.
Ia juga memastikan bahwa komunikasi antarpartai politik mengenai aturan main pemilu ini terus berjalan dengan baik tanpa ada hambatan berarti.
"Nggak, nggak ada. Sampai selama ini nggak ada deadlock-nya. Kita sih komunikasi aktif ya dengan semua partai. Ya relatively kita bisa saling memahami, kemudian saling apa namanya, berdiskusi lebih lanjut, nggak ada deadlock sampai sekarang," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
- Link Resmi Pandang.istanapresiden.go.id buat Daftar Upacara Bendera HUT RI di Istana Negara
Pilihan
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
Terkini
-
Bank Sumsel Babel Raih Apresiasi Hari Anak Nasional, Tegaskan Komitmen Bangun Generasi Emas
-
Bank Sumsel Babel Perkuat Peran Dukung 100.000 Sultan Muda, Perluas Inklusi Keuangan Sumsel
-
El Nino 2026 Lampaui Level Kuat, Abdul Azis Desak Pemerintah Serius Atasi Kekeringan
-
Bank Sumsel Babel Perkuat Kemitraan Strategis dengan Pemkab Lahat, Dukung Akselerasi Ekonomi Daerah
-
6 Fakta Pemecatan dan Sanksi Pungli 4 ASN di Pemprov Banten
-
Usut Mutilasi Depok, Polisi Temukan HP Pelaku Tergabung dalam Grup Komunitas Gay
-
Macet Jalur Bojonegara Bikin Sopir Angkot Merugi, Pemprov Banten Janjikan Keputusan Baru 4 Hari Lagi
-
Tumbangkan Persib Bandung, Persebaya Surabaya Juara Piala Presiden 2026
-
KPK Bedah Dugaan Permainan Jalur Hijau dan Jalur Merah di Kasus Suap Bea Cukai
-
74 Kontraktor SPPG Minta Kepastian Pembayaran dan Penyelesaian Administrasi Proyek