News / Nasional
Rabu, 06 Mei 2026 | 14:25 WIB
Ilustrasi musim kemarau. [Istimewa]
Baca 10 detik
  • BMKG memprediksi musim kemarau 2026 di Indonesia berlangsung lebih kering dan panjang akibat dinamika iklim global fase netral.
  • Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026 yang mencakup 61,4 persen wilayah di berbagai daerah Indonesia.
  • BMKG mengimbau pemangku kepentingan segera melakukan aksi nyata untuk meminimalkan risiko kekeringan pada sektor pangan dan air.

Suara.com - BMKG memprediksi musim kemarau 2026 di Indonesia akan berlangsung lebih kering dari biasanya di sebagian besar wilayah.

Sementara itu hanya terdapat 3 ZOM (0,4%) di wilayah Gorontalo dan Sulawesi Tenggara yang berpotensi mengalami kemarau Atas Normal atau lebih basah.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan kondisi ini juga berdampak pada durasi musim kemarau yang lebih panjang di banyak wilayah.

"Dengan kondisi ini, durasi musim kemarau di 57,2% wilayah Indonesia diprediksi lebih panjang dari normalnya," tambah Faisal dalam keterangannya, ditulis Rabu (6/5/2027).

BMKG menjelaskan, kondisi kemarau 2026 tidak lepas dari dinamika iklim global.

Fenomena La Niña Lemah yang berakhir pada Februari 2026 kini telah bergeser ke fase Netral dan berpotensi berkembang menjadi El Niño pada pertengahan tahun.

Faisal mengungkapkan, hasil pemantauan menunjukkan kondisi iklim global masih berada dalam fase netral.

Pemantauan anomali iklim global di Samudera Pasifik menunjukkan nilai indeks ENSO saat ini berada pada angka -0,28 (Netral) dan diprediksi bertahan hingga Juni 2026.

Namun demikian, mulai pertengahan tahun peluang munculnya El Niño kategori Lemah-Moderat sebesar 50-60% mulai semester kedua tahun ini perlu menjadi perhatian. Selain itu, kondisi Samudera Hindia juga relatif stabil.

Baca Juga: Hujan Masih Guyur Jabodetabek di Tengah Kemarau, Begini Penjelasan BMKG

“Sementara itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap stabil pada fase Netral sepanjang tahun,” kata Faisal.

BMKG juga memprediksi puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus 2026 dan mencakup sebagian besar wilayah Indonesia.

Berdasarkan hasil analisis BMKG, puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi terjadi pada bulan Agustus 2026, yang mencakup 429 ZOM atau sekitar 61,4% wilayah Indonesia. Kondisi kering diperkirakan akan meluas pada periode tersebut.

Memasuki bulan Agustus, cakupan wilayah yang mengalami puncak kemarau semakin meluas secara signifikan.

Kondisi kering ini akan mendominasi wilayah Sumatra bagian tengah dan selatan, Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, seluruh wilayah Bali dan Nusa Tenggara, serta sebagian Maluku dan Pulau Papua.

BMKG mengingatkan, kondisi kemarau yang lebih kering dan panjang ini berpotensi menimbulkan sejumlah risiko, terutama di sektor pangan dan sumber daya air.

Load More