News / Nasional
Selasa, 12 Mei 2026 | 14:18 WIB
Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 Tingkat Provinsi Kalimantan Barat. (Dok. Tim Media MPR RI)
Baca 10 detik
  • SMAN 1 Pontianak memprotes ketidakkonsistenan penilaian juri pada Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI di Kalimantan Barat.
  • Pihak sekolah menemukan perbedaan perlakuan penilaian terhadap jawaban serupa antara tim SMAN 1 Pontianak dan SMAN 1 Sambas.
  • Sekjen MPR RI menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme penilaian dan tata kelola keberatan guna menjaga integritas kompetisi.

Suara.com - Dunia pendidikan di Kalimantan Barat tengah diguncang polemik serius pasca pelaksanaan Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat provinsi.

SMAN 1 Pontianak meminta klarifikasi kepada pihak penyelenggara terkait dinamika penilaian yang dianggap merugikan siswa mereka.

Langkah ini diambil setelah aksi protes salah satu siswanya, Josepha Alexandra atau Ocha, viral di media sosial dan memicu perdebatan luas mengenai objektivitas dewan juri.

Melalui pernyataan resmi di akun Instagram sekolah, pihak SMAN 1 Pontianak menegaskan bahwa keberatan yang diajukan bukan sekadar reaksi emosional, melainkan hasil evaluasi teknis yang mendalam.

Pihak sekolah menyatakan telah meninjau kembali rekaman pertandingan tersebut secara mendalam sebelum melayangkan keberatan resmi.

Mereka menemukan adanya indikasi ketidakkonsistenan yang mencederai sportivitas kompetisi bergengsi tersebut.

Temuan Ketidakkonsistenan Penilaian Juri

Pihak sekolah mengungkapkan bahwa keputusan untuk meminta klarifikasi didasarkan pada hasil pengamatan tayangan ulang yang menunjukkan adanya ketidakkonsistenan dalam penilaian.

"Sehubungan dengan anjuran untuk menyaksikan tayangan ulang sebagai bentuk ikhtiar dalam mengonfirmasi jalannya pelaksanaan LCC 4 Pilar tingkat Kalimantan Barat, kami telah melakukan peninjauan kembali secara cermat," tulis SMAN 1 Pontianak dalam pernyataan resminya dikutip, Selasa (12/5/2026).

Baca Juga: Minta Maaf ke Siswa SMAN 1 Pontianak, Hetifah Sjaifudian Perjuangkan Tanding Ulang LCC 4 Pilar

Berdasarkan peninjauan tersebut, pihak sekolah menemukan poin-poin krusial yang dianggap merugikan tim mereka.

"Berdasarkan hasil tersebut, kami menemukan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dan klarifikasi," imbuh pernyataan tersebut

Salah satu sorotan utama adalah adanya perbedaan perlakuan terhadap dua sekolah yang memberikan jawaban dengan substansi serupa.

SMAN 1 Pontianak membeberkan bahwa terdapat kesamaan substansi jawaban antara tim mereka dengan tim dari SMAN 1 Sambas. Namun, hasil akhirnya justru berbanding terbalik.

"Adanya kesamaan substansi jawaban antara tim SMAN 1 Pontianak dan SMAN 1 Sambas, namun dewan juri memberikan pembenaran hanya kepada salah satu pihak tanpa penjelasan yang transparan," tulis pihak sekolah.

Hal ini memicu tanda tanya besar bagi para pendidik dan siswa mengenai standar penilaian yang digunakan oleh dewan juri.

Load More