- Presiden Prabowo menyoroti banyaknya perlintasan kereta liar pasca kecelakaan tragis di Bekasi Timur yang memicu duka publik.
- Penjaga perlintasan swadaya di Jawa Barat mengabdi belasan tahun menggunakan alat seadanya demi mencegah kecelakaan di permukiman.
- Penjaga perlintasan mendesak pemerintah menyediakan infrastruktur resmi dan solusi akses warga daripada melakukan penutupan jalur secara sepihak.
Suara.com - Tragedi kecelakaan KRL di Bekasi Timur baru-baru ini tidak hanya memicu duka, tetapi juga sorotan tajam dari Presiden Prabowo Subianto terkait ribuan perlintasan kereta api liar di Indonesia.
Di balik perdebatan regulasi, terselip kisah para penjaga perlintasan “bayangan” yang selama belasan tahun bertaruh nyawa tanpa pengakuan resmi, namun memikul beban keselamatan publik di pundak mereka.
Seorang mantan penjaga perlintasan liar di Jawa Barat, Al (31), membagikan keresahannya setelah mengabdi selama 15 tahun di pinggir rel. Baginya, keberadaan penjaga swadaya menjadi solusi atas lambatnya respons otoritas dalam mengamankan jalur kereta yang membelah permukiman warga.
"Ya itu paling ya, paling kita minta perhatiannya dari KAI, buat dibantu bikin palang lah, palangnya bikin yang serius,” kata Al saat podcast di kantor Suara.com, Jakarta Barat, dikutip pada Selasa (12/5/2026).
Bertahan dengan Alat Seadanya
Selama belasan tahun, Al dan rekan-rekannya bekerja tanpa legalitas resmi. Infrastruktur yang mereka gunakan pun jauh dari standar keselamatan transportasi nasional. Mereka hanya mengandalkan bambu dan tali tambang, namun tetap berjaga agar kendaraan tidak tertemper kereta yang melintas setiap harinya.
“Karena kita kan di sana palangnya cuma seadanya, Mba. Cuma pakai bambu, pemberatnya dimasukin karung. Minta perhatiannya dari situ aja," ungkapnya.
Meski jasanya dirasakan warga, para penjaga ini tidak memiliki perlindungan hukum. Jika terjadi kecelakaan, mereka rentan menjadi pihak pertama yang disalahkan. Padahal, kehadiran mereka justru menutup celah keamanan yang belum terjangkau pihak berwenang.
Al menilai pemerintah atau PT KAI tidak harus menutup perlintasan tersebut secara sepihak. Ia menyarankan adanya kolaborasi, di mana infrastruktur disediakan secara resmi, namun pengelolaannya tetap melibatkan warga setempat yang sudah memahami kondisi lapangan.
Dilema Penutupan: Keselamatan dan Akses Warga
Wacana penutupan perlintasan liar sebagai solusi pasca-kecelakaan Bekasi Timur juga menjadi kekhawatiran tersendiri. Bagi Al, penutupan tanpa jalur alternatif hanya akan menyulitkan masyarakat kecil.
Baca Juga: Palang Bambu dan HT Patungan, Warga Pertaruhkan Nyawa Jaga Perlintasan Liar
"Masalahnya kalo itu ditutup kita muternya harus berkilo-kilo kak, jauh banget, tapi macetnya ampun-ampunan," ungkapnya.
Ia berharap pemerintah tidak hanya melihat perlintasan liar sebagai persoalan angka kecelakaan semata, tetapi juga sebagai urat nadi aktivitas ekonomi warga. Menurutnya, alih-alih menutup akses, otoritas sebaiknya memberikan dukungan sarana dan prasarana yang lebih layak.
"Ya balik lagi ya, maksudnya kalo emang harus ada penutupan gitu ya harus dikasih juga jalan alternatifnya jangan terlalu muter jauh, apakah tetap kita yang jaga, tetap tolong bantu palang pintu keretanya aja yang dirapihin," ujarnya.
Reporter: Tsabita Aulia
Berita Terkait
-
Palang Bambu dan HT Patungan, Warga Pertaruhkan Nyawa Jaga Perlintasan Liar
-
Sisi Lain Perlintasan Liar: Ladang Ekonomi Warga Bantaran, Ada yang Raup Rp500 Ribu Sehari
-
Nekat Lewati Lintasan Tanpa Palang, Mobil Pengantar Haji Ditabrak KA Argo Bromo, 4 Tewas
-
Pasca Tragedi Bekasi, Prabowo Subianto Perintahkan Perbaikan 1.800 Perlintasan KA
-
KAI Akan Tutup Perlintasan Tak Penuhi Syarat Keselamatan, Termasuk yang Dibuka Warga
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
Terkini
-
Local Media Community Gandeng Google Dukung Penguatan Ekosistem Media Lokal
-
Tegas! Menkeu Purbaya Ungkap Tak Ada Kenaikan Gaji Guru di 2027
-
Renjana Perca, Saat Fashion Indonesia Bertemu Ekonomi Sirkular
-
Modal Foto AI Berseragam Polisi, Pria di Bandung Tipu Korban dan Bawa Lari Uang
-
Insentif Guru Ngaji di Bogor Jadi Rp1,2 Juta per Tahun
-
Jaga Gajah Sumatera, Pertamina Kilang Plaju Perkuat Upaya Melestarikan Warisan Alam Sumsel
-
Temukan 1.500 Warga Terjebak Grup LGBT Daring, Pemkab Serang Siapkan Langkah Pembinaan
-
Bank Sumsel Babel dan Unsri Bersinergi Menyiapkan Generasi Pemimpin Masa Depan
-
Havaianas Debut Kitten Heel di Copenhagen Fashion Week
-
Perombakan Buku Sekolah, Solusi Literasi atau Cuma Proyek Bisnis Baru?