News / Internasional
Kamis, 14 Mei 2026 | 17:37 WIB
Sejumlah prajurit TNI mengusung peti jenazah personel penjaga perdamaian yang tergabung dalam United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) saat upacara pelepasan di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (4/4/2026). [ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/YU]
Baca 10 detik
  • Presiden Italia Sergio Mattarella mengecam serangan militer Israel terhadap markas UNIFIL di Lebanon yang menewaskan personel penjaga perdamaian.
  • Serangan tersebut menewaskan tiga personel asal Indonesia, sehingga pemerintah menuntut penyelidikan transparan dan akuntabilitas penuh atas insiden.
  • Italia mendesak penghentian segera tindakan agresif di Lebanon untuk mencegah eskalasi konflik lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Dua personel Indonesia gugur pada Senin (30/3/2026) dalam insiden di dekat wilayah Bani Hayyan, Lebanon selatan.

Tragedi itu terjadi sehari setelah Praka Farizal Rhomadon gugur akibat serangan artileri di dekat Adchit Al Qusayr.

Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa keselamatan personel PBB harus dijamin dan setiap tindakan yang membahayakan peacekeepers merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional.

Seruan untuk Pencegahan Eskalasi

Dalam percakapan dengan Presiden Israel, Mattarella juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas kawasan dan kebebasan navigasi di perairan internasional.

Kantor kepresidenan Italia menyebut pembicaraan berlangsung terbuka dan langsung. Italia berharap konflik di Timur Tengah dapat segera diredakan demi stabilitas regional dan global.

Kecaman dari Italia dan tuntutan Indonesia mencerminkan meningkatnya perhatian internasional terhadap keamanan pasukan penjaga perdamaian PBB serta perlunya perlindungan terhadap mandat UNIFIL, demikian Antara.

Load More