-
Sembilan WNI dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla menuju Gaza ditangkap otoritas militer Israel.
-
Pemerintah Indonesia didesak menggunakan forum Board of Peace untuk membebaskan para relawan dan jurnalis.
-
Pihak keluarga menegaskan misi tersebut murni kemanusiaan tanpa membawa senjata, melainkan logistik bantuan.
"Saya khawatirnya IDF [militer Israel] yang macam-macam, menyakiti secara fisik," ujarnya.
Hany menceritakan bahwa putranya sempat batal berlayar pada pertengahan tahun lalu karena tidak mendapatkan izin resmi darinya.
"Saya tidak izinkan," kata Hany saat ditemui di Bandung, mengenang peristiwa Agustus 2025.
Namun, panggilan tugas jurnalistik kembali datang ketika pihak redaksi memberikan instruksi resmi untuk meliput pelayaran kemanusiaan global tersebut.
"Ketika mau berangkat, belum ada kepastian Thoudy berlayar atau tidak. Hanya ada tugas meliput kegiatan itu. Jadi seperti tugas liputan biasanya, saya izinkan," ujar Hany.
Keputusan krusial akhirnya diambil saat kapal bersiap bertolak dari wilayah transit di Turki setelah pertimbangan matang disepakati bersama. Hasrat untuk mendokumentasikan krisis secara langsung mengalahkan rasa takut terhadap potensi penahanan oleh otoritas militer asing.
"Mungkin ada pertimbangan tertentu dan mungkin sudah diprogramkan untuk konvoi kapalnya, dia minta izin lagi ke saya," kata Hany.
"Sama seperti orang tua lain, adakah orang tua yang mengantarkan anaknya ke risiko-risiko yang sudah jelas. Sebagai ibu, saya juga berpikir begitu," tuturnya.
"Tapi saya berpikir, sebagai ibu saya tahu betul keinginan dan passion anak. Saya berpikir, anak saya jangan hidup untuk ibu dan saudaranya, tapi untuk dirinya sendiri.
Baca Juga: Benjamin Netanyahu Minta Lepaskan Aktivis Global Sumud Flotilla
"Saya lihat passion Thoudy di situ. Saya tanya, berapa persen keyakinan untuk berangkat? Dia sempat bilang 80%.
"Kami obrolkan bahwa dia tahu betul risikonya dan tujuannya, baik dari sisi pribadi maupun profesionalismenya. Akhirnya saya dukung dia secara moral dan doa," kata Hany.
Komunikasi terakhir antara pihak keluarga dan awak kapal sempat terjalin beberapa jam sebelum terjadinya operasi penyergapan maritim. Dalam pesan penutupnya, para relawan mengonfirmasi posisi mereka yang masih berada di wilayah perairan internasional bebas.
Kini, fokus utama keluarga dan perusahaan media adalah menjaga stabilitas psikologis para korban selama berada di bawah interogasi Israel. Kontrol diri yang kuat di dalam tahanan dianggap sebagai faktor penentu keselamatan seluruh sandera sipil tersebut.
"Jangan sampai dia kehilangan kontrol dirinya yang bisa menyebabkan kerugian buat dirinya dan teman-teman-nya," kata Hany.
"Karena menurut Thoudy dan tim yang lain, itulah kuncinya," ujar Hany.
Insiden penangkapan ini menambah daftar panjang konfrontasi militer Israel terhadap armada kemanusiaan internasional yang mencoba menembus blokade Gaza. Global Sumud Flotilla merupakan koalisi masyarakat sipil lintas negara yang secara konsisten mengirimkan bantuan logistik melalui jalur laut.
Indonesia, yang tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Israel, selalu mengandalkan pihak ketiga atau forum multilateral dalam penyelesaian kasus kekerasan komparatif. Kasus penahanan sembilan WNI ini menjadi ujian terbaru bagi efektivitas diplomasi kemanusiaan Indonesia di panggung geopolitik Timur Tengah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Harga Serum Penghilang Flek Hitam yang Efektif dan Aman, Ini 5 Rekomendasi Produknya
- Warga Jogja Protes Desil Naik, Status Miskin Masuk Desil 9, Pemda DIY Minta BPS Klarifikasi
- Kunjungi Korban Gempa di NTT Hari Ini, Gus Miftah Gelontorkan Bantuan Rp500 Juta
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Kalimantan Membara, Ridwan Andi Wittiri Desak Evaluasi Total Karhutla: Ini Soal Nyawa Rakyat
-
Viral Kuskus Waigeo di Atas Pohon Tumbang: Saat Hutan Habitat Satwa Endemik Papua Menyusut
-
Bung Ropan Ubah Pernyataan soal Rizky Ridho, Peluang ke Timnas Indonesia Masih Terbuka
-
Sempat Ingin Berhenti demi Orang Tua, Kasman Kini Jadi Jembatan Bahasa di Industri Nikel Obi
-
Siapkan 1.000 Pengacara dan Digitalisasi Data, PPP Mulai Panaskan Mesin Hadapi Pemilu 2029
-
Hadirkan CFX Cryptalk dan CFX Seaside Mixer, Ekosistem CFXM Dorong Sinergi Industri Aset Digital
-
Seorang Relawan Gempa Flores Dikabarkan Gugur saat Bantu Korban Bencana
-
Saat Membeli Rumah, Mengapa Jejak Karbon Sering Tak Jadi Pertimbangan?
-
Gelar Serpong Warrior Challenge Run 2026, BRI Buka Promo Diskon Tiket 50 Persen di BRImo
-
Soal Karhutla, PKB Sentil Menhut: Jangan Cuma 'Cosplay Damkar'