- Menteri PPPA Arifah Fauzi mengajak masyarakat melawan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Jakarta pada Kamis lalu.
- Seluruh lapisan masyarakat diharapkan menciptakan lingkungan aman di sekolah, tempat kerja, keluarga, serta ruang publik dan digital.
- Data survei 2024 menunjukkan tingginya angka kekerasan yang dialami oleh perempuan dan anak di seluruh Indonesia kini.
Suara.com - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bergerak bersama melawan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Menurutnya, kebangkitan bangsa tidak akan pernah benar-benar terwujud apabila perempuan masih hidup dalam rasa takut dan anak-anak tumbuh dengan trauma akibat kekerasan.
“Kebangkitan bangsa tidak akan pernah tercapai apabila perempuan hidup dalam ketakutan dan anak-anak tumbuh dalam trauma. Mari kita bangkit bersama membangun budaya saling menghormati, menguatkan keberanian untuk melapor, dan menghadirkan keberpihakan nyata kepada korban. Kekerasan bukan budaya kita. Melindungi adalah tanggung jawab kita bersama,” ujar Arifah Fauzi dalam acara Ikrar Bersama Bangkit Lawan Kekerasan di Jakarta, Kamis.
Arifah menegaskan, seluruh ruang kehidupan masyarakat harus menjadi tempat yang aman bagi perempuan dan anak, mulai dari lingkungan kerja, sekolah, ruang publik, ruang digital, hingga lingkungan keluarga.
Ia juga menilai peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) harus dijadikan momentum untuk memperkuat kepedulian dan keberanian melindungi sesama dari tindakan kekerasan.
“Bangsa yang benar-benar bangkit adalah bangsa yang mampu menghadirkan rasa aman, keadilan, dan perlindungan bagi seluruh warganya, termasuk perempuan dan anak,” katanya.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah masih tingginya angka kekerasan di Indonesia. Berdasarkan Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2024, sebanyak 1 dari 4 perempuan usia 15-64 tahun pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual sepanjang hidupnya.
Sementara itu, Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 mencatat 1 dari 2 anak usia 13-17 tahun pernah mengalami kekerasan dalam berbagai bentuk selama hidup mereka.
Baca Juga: Polisi Buka Peluang Tambah Tersangka Kasus Daycare Little Aresha
Berita Terkait
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Kronologi Begal Kertapati: 2 Pelaku Bawa Parang, Kejar Korban hingga Berujung Maut
-
Sering Dianggap Cuma Kelelahan, Katup Jantung Bocor Bisa Ditangani Tanpa Operasi Terbuka
-
Korupsi KUR BSI Rp9,5 Miliar di OKI, Uang Pengganti 3 Terdakwa Tembus Rp9 Miliar
-
Buaya Muara 3 Meter Mendadak Muncul di Pantai Pasir Putih Cihara
-
Tenis Meja Indonesia Bidik 8 Besar di Asian Games 2026
-
Gempa NTT, PDIP Kirim Bantuan Khusus untuk Ibu Hamil dan Anak
-
Diisukan Ada OTT KPK, Begini Kondisi Kompleks Pemkab Bogor Malam Ini
-
Yasonna Laoly Dukung Kewarganegaraan Ganda Terbatas Usulan Prabowo: Demi Kepentingan Nasional
-
Purbaya: Pembatasan Subsidi BBM Hemat Anggaran 10 Persen
-
Sudah Beroperasi Tanpa Tarif, Tol Betung-Tempino-Jambi Seksi Bayung Lencir-Pijoan Segera Bertarif