News / Nasional
Kamis, 21 Mei 2026 | 18:55 WIB
Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Univeristas Indonesia, Irwansyah, memberikan "Kuliah Jalanan" kepada massa Aksi Kamisan ke-908 di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (21/5/2026). (Suara.com/Cornelius Juan Prawira)
Baca 10 detik
  • Peserta Aksi Kamisan ke-808 di depan Istana Merdeka mengikuti kuliah jalanan bersama dosen FISIP UI, Irwansyah.
  • Irwansyah mengkritik komersialisasi pendidikan yang menjadikan kampus sebagai pabrik tenaga kerja industri, bukan pencetak pemikir humanis kritis.
  • UI dinilai abai terhadap sejarah pelanggaran HAM mahasiswa, sehingga menciptakan generasi baru yang apatis terhadap demokrasi dan kemanusiaan.

Hingga kini, menurutnya, sosok Yap Yun Hap tidak pernah diakui secara resmi oleh kampus, tak ada monumen untuk mengenangnya, apalagi diajarkan dalam kurikulum sejarah universitas.

Irwansyah menilai penghapusan ingatan kolektif ini adalah langkah sistemik untuk menciptakan generasi yang apatis terhadap politik dan Hak Asasi Manusia (HAM).

Efek dominonya, generasi baru menjadi buta terhadap kolonialisme internal yang masih terjadi, termasuk konflik di Papua.

"Begitulah jahatnya lembaga-lembaga pendidikan, yang seharusnya menghasilkan nilai-nilai luhur, mengajarkan hak asasi manusia. Mereka memilih untuk menyembunyikan dan tidak mengajarkan sejarah sehingga generasi baru tidak peduli pada politisi, tidak peduli pada demokrasi, tidak peduli pada hak asasi manusia, dan tidak peduli satu sama lain," pungkasnya dengan nada getir.

Masih ada harapan

Irwansyah mengutarakan apa yang terjadi di Indonesia saat ini bukanlah kelanjutan dari cita-cita reformasi, melainkan sebuah rezim otoriter, fasis, dan imperialis.

Meski begitu, ia menyerukan kepada massa aksi dan generasi muda untuk tidak larut dalam kesedihan, melainkan mengubah kemarahan menjadi energi perlawanan.

Di sela-sela kuliah, ia melantangkan "Rakyat Bersatu, Tak Bisa Dikalahkan!".

Ia hendak mengajak aksi massa untuk menumbuhkan pengetahuan sebagai senjata untuk mewujudkan demokrasi sejati yang bebas dari penindasan manusia atas manusia lainnya.

Baca Juga: Tak Ada Kementerian Keamanan, Polri Tetap di Bawah Presiden

Sudah menjadi kewajiban kita untuk selalu mengajar. Karena saya selalu percaya bahwa pengetahuan adalah kekuatan," tegasnya dalam menutup kuliah umum.

Reporter: Cornelius Juan Prawira

Load More