- Peserta Aksi Kamisan ke-808 di depan Istana Merdeka mengikuti kuliah jalanan bersama dosen FISIP UI, Irwansyah.
- Irwansyah mengkritik komersialisasi pendidikan yang menjadikan kampus sebagai pabrik tenaga kerja industri, bukan pencetak pemikir humanis kritis.
- UI dinilai abai terhadap sejarah pelanggaran HAM mahasiswa, sehingga menciptakan generasi baru yang apatis terhadap demokrasi dan kemanusiaan.
Hingga kini, menurutnya, sosok Yap Yun Hap tidak pernah diakui secara resmi oleh kampus, tak ada monumen untuk mengenangnya, apalagi diajarkan dalam kurikulum sejarah universitas.
Irwansyah menilai penghapusan ingatan kolektif ini adalah langkah sistemik untuk menciptakan generasi yang apatis terhadap politik dan Hak Asasi Manusia (HAM).
Efek dominonya, generasi baru menjadi buta terhadap kolonialisme internal yang masih terjadi, termasuk konflik di Papua.
"Begitulah jahatnya lembaga-lembaga pendidikan, yang seharusnya menghasilkan nilai-nilai luhur, mengajarkan hak asasi manusia. Mereka memilih untuk menyembunyikan dan tidak mengajarkan sejarah sehingga generasi baru tidak peduli pada politisi, tidak peduli pada demokrasi, tidak peduli pada hak asasi manusia, dan tidak peduli satu sama lain," pungkasnya dengan nada getir.
Masih ada harapan
Irwansyah mengutarakan apa yang terjadi di Indonesia saat ini bukanlah kelanjutan dari cita-cita reformasi, melainkan sebuah rezim otoriter, fasis, dan imperialis.
Meski begitu, ia menyerukan kepada massa aksi dan generasi muda untuk tidak larut dalam kesedihan, melainkan mengubah kemarahan menjadi energi perlawanan.
Di sela-sela kuliah, ia melantangkan "Rakyat Bersatu, Tak Bisa Dikalahkan!".
Ia hendak mengajak aksi massa untuk menumbuhkan pengetahuan sebagai senjata untuk mewujudkan demokrasi sejati yang bebas dari penindasan manusia atas manusia lainnya.
Baca Juga: Tak Ada Kementerian Keamanan, Polri Tetap di Bawah Presiden
Sudah menjadi kewajiban kita untuk selalu mengajar. Karena saya selalu percaya bahwa pengetahuan adalah kekuatan," tegasnya dalam menutup kuliah umum.
Reporter: Cornelius Juan Prawira
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Wajah Baru Bogor Barat, 6 Stasiun Kereta Siap Garap Jalur Parung Panjang - Jasinga
-
Dear Mom, Kabut Asap Makin Pekat, Ini Tanda Anak Mulai Terdampak
-
Kabut Asap Palembang Makin Pekat, Kapan Sekolah Mulai Belajar dari Rumah?
-
Ekonom Ungkap Efek Domino Karhutla: Dari Biaya Berobat hingga Pendapatan Warga Tertekan
-
Sumsel Dikepung 1.742 Hotspot, Seberapa Aman Warga dari Kabut Asap?
-
Viral Debt Collector Cek Nomor Mesin Kendaraan, Anggota DPR: Ya Sudah Lha
-
Lahan Perkebunan Indofood di Muba Terbakar, Mengapa Sumber Api Diminta Diusut?
-
Tak Perlu Transit, Citilink Kini Terbang Langsung Palembang-Yogyakarta Setiap Hari
-
Megawati Sentil Pragmatisme Politik: Jangan Jadikan Uang dan Kekuasaan sebagai Tujuan
-
Rekening Aktivis Pati Dibekukan, Koalisi Sipil: Jangan Jadikan Bank Alat Membungkam Kritik