News / Nasional
Kamis, 21 Mei 2026 | 18:55 WIB
Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Univeristas Indonesia, Irwansyah, memberikan "Kuliah Jalanan" kepada massa Aksi Kamisan ke-908 di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (21/5/2026). (Suara.com/Cornelius Juan Prawira)
Baca 10 detik
  • Peserta Aksi Kamisan ke-808 di depan Istana Merdeka mengikuti kuliah jalanan bersama dosen FISIP UI, Irwansyah.
  • Irwansyah mengkritik komersialisasi pendidikan yang menjadikan kampus sebagai pabrik tenaga kerja industri, bukan pencetak pemikir humanis kritis.
  • UI dinilai abai terhadap sejarah pelanggaran HAM mahasiswa, sehingga menciptakan generasi baru yang apatis terhadap demokrasi dan kemanusiaan.

Suara.com - Di bawah sengatan terik matahari Jakarta, pemandangan berbeda tampak di depan Istana Merdeka. Jika biasanya massa aksi meledak dalam orasi yang berapi-api, peserta Aksi Kamisan ke-908 justru memilih duduk beralaskan aspal.

Mereka tidak sekadar berdemonstrasi, melainkan menyimak sebuah "Kuliah Jalanan" yang menggugat nalar publik.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), Irwansyah, berdiri di tengah massa untuk merefleksikan kembali marwah Reformasi 1998.

Baginya, ada yang salah dengan cara kita memproduksi pengetahuan hari ini.

Ia menilai, ilmu pengetahuan telah diprivatisasi untuk melanggengkan kekuasaan.

Itu hanya dibuat untuk mereka yang sudah berkuasa dan menindas orang lain.

Komersialisasi Kampus dan Mahasiswa sebagai Komoditas

Mengenang memorinya sebagai mahasiswa berusia 23 tahun pada pergolakan 1998, Irwansyah melontarkan kritik pedas terhadap cengkeraman lembaga finansial global seperti IMF.

Ia menyoroti bagaimana prinsip neoliberalisme—liberalisasi, deregulasi, dan privatisasi—telah menyusup hingga ke nadi pendidikan.

Baca Juga: Tak Ada Kementerian Keamanan, Polri Tetap di Bawah Presiden

Massa membuat 'makam' saat Aksi Kamisan ke-908 di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (21/5/2026). (Suara.com/Cornelius Juan Prawira)

Dampaknya terasa nyata: kampus kini tak ubahnya ruang komersial yang menyerupai fasilitas umum berbayar.

Alih-alih mencetak pemikir humanis, institusi pendidikan dituding hanya memproduksi "tenaga kerja" yang siap pakai di pasar industri.

"Tanpa pengetahuan, bagi kita hanyalah sebuah objek yang mudah dikalahkan. Kekuatan yang tak bisa dicuri, tak bisa dibeli dari kita, adalah pengetahuan," tegas Irwansyah. Namun, ia mengingatkan bahwa pengetahuan yang sejati harus lahir dari kesadaran diri, bukan dari narasi penguasa atau penindas.

Kritik Irwansyah semakin memuncak saat ia menyorot institusinya sendiri, Universitas Indonesia.

Ia menuding UI abai dan sengaja mengubur jejak sejarah kelam pelanggaran HAM yang melibatkan mahasiswanya sendiri.

Satu nama yang ia angkat adalah Yap Yun Hap, mahasiswa UI yang tewas ditembak dalam Tragedi Semanggi I pada 24 September 1999.

Load More