- Peserta Aksi Kamisan ke-808 di depan Istana Merdeka mengikuti kuliah jalanan bersama dosen FISIP UI, Irwansyah.
- Irwansyah mengkritik komersialisasi pendidikan yang menjadikan kampus sebagai pabrik tenaga kerja industri, bukan pencetak pemikir humanis kritis.
- UI dinilai abai terhadap sejarah pelanggaran HAM mahasiswa, sehingga menciptakan generasi baru yang apatis terhadap demokrasi dan kemanusiaan.
Suara.com - Di bawah sengatan terik matahari Jakarta, pemandangan berbeda tampak di depan Istana Merdeka. Jika biasanya massa aksi meledak dalam orasi yang berapi-api, peserta Aksi Kamisan ke-908 justru memilih duduk beralaskan aspal.
Mereka tidak sekadar berdemonstrasi, melainkan menyimak sebuah "Kuliah Jalanan" yang menggugat nalar publik.
Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), Irwansyah, berdiri di tengah massa untuk merefleksikan kembali marwah Reformasi 1998.
Baginya, ada yang salah dengan cara kita memproduksi pengetahuan hari ini.
Ia menilai, ilmu pengetahuan telah diprivatisasi untuk melanggengkan kekuasaan.
Itu hanya dibuat untuk mereka yang sudah berkuasa dan menindas orang lain.
Komersialisasi Kampus dan Mahasiswa sebagai Komoditas
Mengenang memorinya sebagai mahasiswa berusia 23 tahun pada pergolakan 1998, Irwansyah melontarkan kritik pedas terhadap cengkeraman lembaga finansial global seperti IMF.
Ia menyoroti bagaimana prinsip neoliberalisme—liberalisasi, deregulasi, dan privatisasi—telah menyusup hingga ke nadi pendidikan.
Baca Juga: Tak Ada Kementerian Keamanan, Polri Tetap di Bawah Presiden
Dampaknya terasa nyata: kampus kini tak ubahnya ruang komersial yang menyerupai fasilitas umum berbayar.
Alih-alih mencetak pemikir humanis, institusi pendidikan dituding hanya memproduksi "tenaga kerja" yang siap pakai di pasar industri.
"Tanpa pengetahuan, bagi kita hanyalah sebuah objek yang mudah dikalahkan. Kekuatan yang tak bisa dicuri, tak bisa dibeli dari kita, adalah pengetahuan," tegas Irwansyah. Namun, ia mengingatkan bahwa pengetahuan yang sejati harus lahir dari kesadaran diri, bukan dari narasi penguasa atau penindas.
Kritik Irwansyah semakin memuncak saat ia menyorot institusinya sendiri, Universitas Indonesia.
Ia menuding UI abai dan sengaja mengubur jejak sejarah kelam pelanggaran HAM yang melibatkan mahasiswanya sendiri.
Satu nama yang ia angkat adalah Yap Yun Hap, mahasiswa UI yang tewas ditembak dalam Tragedi Semanggi I pada 24 September 1999.
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
- Bawa Energi Positif, Ini 7 Warna Cat Tembok yang Mendatangkan Hoki Menurut Feng Shui
- 5 HP Snapdragon untuk Budget Rp2 Juta, Multitasking Stabil dan Hemat Baterai
- 6 Sunscreen Moisturizer Terbaik untuk Anti Aging, Kulit Kencang dan Bebas Kerutan
Pilihan
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
Terkini
-
Nyaru Jadi Manajer, 4 WNA China di Jakbar Ternyata Komplotan Scam Online Kelas Kakap
-
KNKT Ungkap Fakta Baru Kecelakaan Kereta Bekasi Timur
-
Driver Ojol Senang GoRide Hemat Dihapus: Pendapatan Naik, Orderan Tetap Gacor
-
Usai Ditemui Putin, Xi Jinping akan Melawat ke Korut: Barisan Anti Amrik Rapatkan Barisan
-
'Maaf Negara Mengkhianatimu', Pesan Haru Aksi Kamisan untuk Andrie Yunus
-
Kecelakaan Maut Bekasi Timur: Sopir Taksi Listrik Injak Gas Tapi Transmisi di Posisi Parkir!
-
Pemberkasan Rampung, Siapa Yang Jadi Tersangka Kecelakaan Kereta Api di Bekasi Timur?
-
Malaysia Gugat TikTok Karena Dinilai Gagal Kendalikan Penyebaran Konten Fitnah
-
Konser di Titik Nol Jogja, Ratusan Anak Muda Serukan Kebebasan Bersuara
-
Ingat Poster Demo Era 98, Haris Rusly Moti Minta Prabowo Lebih Progresif Berantas Korupsi