News / Nasional
Selasa, 26 Mei 2026 | 17:28 WIB
Ilustrasi begal. [ANTARA]
Baca 10 detik
  • Sosiolog UGM, Andreas Budi Widyanta, menyatakan fenomena begal pocong sengaja dirancang untuk menciptakan ketakutan dan kepanikan massal di masyarakat.
  • Pola penyebaran rasa takut ini serupa dengan taktik era Orde Baru yang bertujuan mengarahkan persepsi publik melalui kecemasan.
  • Algoritma media sosial mempercepat penyebaran narasi ketakutan, sehingga masyarakat perlu bersikap kritis dan melakukan verifikasi informasi secara mandiri.

Perkembangan teknologi membuat penyebaran narasi yang memicu kepanikan menjadi jauh lebih cepat dibanding masa lalu.

Algoritma media sosial dinilai berperan dalam memperluas jangkauan informasi yang mengandung unsur ketakutan sehingga lebih mudah menjangkau masyarakat luas.

Lebih lanjut, Abe bilang terjadi pertemuan antara kepentingan kekuasaan dan logika bisnis platform digital yang sama-sama diuntungkan oleh tingginya perhatian publik terhadap isu-isu yang memancing emosi.

Kondisi tersebut, menurutnya, membuat warga rentan terjebak dalam arus informasi yang terus memproduksi rasa cemas dan ketakutan.

"Teknologi digital mempercepat transmisi 'fear monger' itu. Otokrasi negara bertemu otokrasi korporasi platform membuat warga terkepung gelombang narasi double otokrasi," tandasnya.

Di tengah maraknya penyebaran informasi terkait begal pocong, Abe mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah menerima begitu saja setiap informasi yang beredar di media sosial.

Sikap kritis diperlukan agar publik tidak terjebak dalam narasi yang sengaja dibangun untuk menciptakan kepanikan.

Selain itu, ia menekankan pentingnya penguatan masyarakat sipil sebagai benteng terhadap berbagai bentuk penyebaran ketakutan di ruang publik.

Solidaritas dan kemampuan masyarakat untuk melakukan verifikasi informasi menjadi faktor penting dalam memutus rantai kepanikan massal.

Baca Juga: Negara Tak Boleh Jadi Algojo, Mengapa Menteri Pigai Larang Polisi Tembak Mati Begundal?

"Perkuat konsolidasi masyarakat sipil, agar tidak termakan fear monger," tegasnya.

Ia turut menaruh perhatian pada peran media massa dalam menyikapi fenomena tersebut.

Ia menilai jurnalis memiliki tanggung jawab besar untuk menyajikan informasi secara proporsional dan tidak ikut memperbesar narasi yang dapat memperkuat kepanikan publik.

Load More