- Uganda menutup total perbatasan Kongo guna menghentikan penularan Ebola varian Bundibugyo yang belum memiliki vaksin.
- Kebijakan isolasi ketat 21 hari diterapkan setelah sejumlah tenaga kesehatan Uganda tertular pasien Kongo.
- Pemotongan anggaran bantuan oleh negara Barat memicu kelangkaan alat pelindung diri di episentrum wabah.
Namun, WHO tetap bersikeras menentang penutupan batas negara meski menyadari bahwa negara-negara di sekitar Kongo menghadapi risiko penyebaran yang masif.
Badan kesehatan PBB tersebut melabeli wabah ini sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional secara global.
Penutupan "mendorong pergerakan orang dan barang ke penyeberangan perbatasan informal yang tidak dipantau, sehingga meningkatkan kemungkinan penyebaran penyakit," kata lembaga tersebut.
Geografi perbatasan Uganda-Kongo yang membentang ratusan mil dengan ribuan jalur tikus tradisional mempersulit efektivitas pengawasan aparat keamanan.
Aktivitas ekonomi sirkular dan hubungan kekerabatan membuat warga lokal terbiasa melintasi batas negara secara bebas setiap harinya.
Respons medis di Kongo berjalan lambat karena identifikasi varian Bundibugyo terlambat berminggu-minggu akibat keterbatasan alat tes yang awalnya hanya menyasar varian umum.
Krisis kian rumit akibat intervensi milisi bersenjata di Kongo Timur, tingginya angka pengungsi internal, dan buruknya infrastruktur transportasi logistik.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mendesak dilakukannya gencatan senjata komprehensif demi membuka jalur aman bagi para sukarelawan medis.
"Serangan terhadap fasilitas kesehatan membuat pelacakan kasus dan kontak mereka hampir mustahil dilakukan," cuit Tedros melalui akun media sosial resminya.
Baca Juga: Isu Wabah Ebola, Kongo Tolak Permintaan Isolasi 21 Hari Jelang Piala Dunia 2026
Kekurangan APD, masker pelindung wajah, kit pengujian cepat, hingga kantong jenazah membuat para pekerja medis Kongo merasa tidak dilindungi secara layak.
Kondisi psikologis masyarakat Kongo yang trauma akibat konflik berkepanjangan justru memicu aksi anarkis berupa pelemparan batu ke klinik-klinik darurat.
Uganda sejauh ini telah mencatat tujuh kasus konfirmasi domestik, termasuk satu fatalitas pria berusia 59 tahun yang meninggal di ibu kota Kampala.
Di luar pengetatan perbatasan, kelalaian perilaku masyarakat yang berkerumun merayakan kemenangan klub sepak bola Arsenal di tengah epidemi turut disesalkan otoritas.
Masyarakat diimbau kembali menegakkan protokol kesehatan dasar seperti penolakan jabat tangan dan penggunaan sanitasi tangan secara berkala.
Secara historis, Kongo telah didera 17 kali wabah Ebola sepanjang sejarah berdirinya negara tersebut.
Para pakar kesehatan global sepakat bahwa pemotongan dana bantuan kemanusiaan oleh Amerika Serikat dan negara sekutu tahun lalu menjadi pemicu utama hancurnya benteng pertahanan medis di Kongo Timur.
Akibatnya, di tengah ancaman perjalanan internasional, pemerintahan Donald Trump bahkan berencana mengalihkan evakuasi warga Amerika yang terpapar Ebola ke fasilitas isolasi di Kenya daripada memulangkan mereka ke tanah air.
Berita Terkait
Terpopuler
- Singapura Diguncang Gelombang Protes Rakyatnya, Buntut Rencana Penggundulan Hutan untuk Perumahan
- Daihatsu Kenalkan Mobil 120 Jutaan, 1 Liter Jalan 27 Km
- Cara Membersihkan Bunga Es dengan Aman dan Cepat Tanpa Merusak Freezer
- 6 HP Realme RAM 12 GB dengan Performa Kencang, Mulai Rp2 Jutaan
- Erick Thohir Buka Hasil Evaluasi Timnas Indonesia usai Gagal di Piala AFF 2026
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
Pasukan GP Ansor Siap Tindak yang Ganggu Muktamar Ke-35 NU Jombang
-
Kudeta Niger Gagal, Pasukan Pemerintah Melumpuhkan Penyerang Pangkalan Niamey
-
Boni Hargens Soroti Pengangkatan Kapolri sebagai Anggota Kehormatan KSBSI: Bukan Sekadar Seremonial
-
Bukan Ex-Officio! Romli Atmasasmita Tegaskan Status Listyo Sigit di KSBSI Hanya Bentuk Apresiasi
-
Apa Itu Sistem AHWA? Cara Baru Pilih Ketua Umum PBNU di Muktamar NU ke-35 Tahun 2026
-
Muktamar ke-35 NU Diwarnai Aksi Protes, Gus Yahya: Saya Mohon
-
Presiden Prabowo Tutup Muktamar NU Ke-35 di Jombang, Senin Besok
-
Gus Ipul Pastikan Forum Muktamar NU Ke-35 Bebas Ubah Keputusan Organisasi
-
Review Film The Last Sunrise: Makna Kehidupan di Balik Senyum dan Air Mata
-
Jepang Kirim Pasukan Bela Diri Bantu Meredam Kebakaran Hutan Kalimantan