- Ketua Prodi HI UMY menyoroti dominasi Presiden Prabowo dalam menangani agenda diplomasi internasional secara langsung sejak Mei 2026.
- Kondisi ini menyebabkan peran institusional Kementerian Luar Negeri menjadi kurang menonjol dibandingkan pada masa pemerintahan sebelumnya.
- Dominasi presiden berpotensi menciptakan disorientasi arah politik luar negeri serta melemahkan fungsi strategis kelembagaan Kementerian Luar Negeri.
Suara.com - Ketua Program Studi Hubungan Internasional UMY, Ade Marup Wirasenjaya, kembali menyoroti dominasi Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai agenda diplomasi dan negosiasi internasional.
Pola tersebut dinilai berpotensi menimbulkan persoalan dalam tata kelola politik luar negeri Indonesia jika terus berlangsung dalam jangka panjang.
Menurut Ade, berbagai isu strategis luar negeri saat ini lebih banyak ditangani langsung oleh Presiden.
Kondisi tersebut membuat peran institusional Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) terlihat kurang menonjol dibandingkan pada periode pemerintahan sebelumnya.
Ia menilai kecenderungan tersebut merupakan refleksi dari karakter kepemimpinan Prabowo yang memiliki ambisi besar untuk tampil sebagai tokoh yang diperhitungkan dalam jajaran elite pemimpin dunia.
"Ini memang menggambarkan Pak Prabowo-nya sendiri memang sangat sangat berambisi, dia ingin menjadi pemimpin dunia gitu, pemimpin dalam jajaran elit pemimpin dunia," kata Ade kepada Suara.com, Jumat (29/5/2026).
Disebutkan Ade, kondisi tersebut dapat menjadi preseden yang kurang baik bagi kelembagaan diplomasi Indonesia.
Padahal, Kemenlu memiliki struktur dan sumber daya yang selama ini dibangun untuk menangani berbagai urusan strategis di bidang hubungan internasional.
"Kalau terus berlangsung ini preseden yang enggak bagus sebetulnya, apalagi di di Kementerian Luar Negeri kan dia selain ada menteri luar negeri kan ada tiga wakilnya. Terus tiga wakilnya mau dikemanain gitu loh?" tegasnya.
Baca Juga: Keluarga Korban Mei 98 Tagih Nyali Prabowo: Kami Lelah Diombang-ambing Bak Bola Pingpong
Ia membandingkan dengan masa Menteri Luar Negeri Retno Marsudi pada era pemerintahan Jokowi.
Saat itu, kata Ade, Kemenlu tetap memainkan peran yang cukup kuat dan memiliki ruang yang jelas dalam pengelolaan diplomasi Indonesia.
Jika pola saat ini terus berlanjut, Ade menilai dapat muncul persepsi bahwa posisi menteri luar negeri hanya berfungsi menjalankan tugas-tugas administratif. Sementara seluruh keputusan strategis berada di tangan presiden.
Kondisi tersebut akan berpotensi memunculkan kebingungan arah dalam politik luar negeri Indonesia.
"Menimbulkan semacam disorientasi di dalam politik luar negeri Indonesia sendiri," tandasnya.
Berita Terkait
-
Keluarga Korban Mei 98 Tagih Nyali Prabowo: Kami Lelah Diombang-ambing Bak Bola Pingpong
-
Prabowo Wajibkan Belajar Bahasa Prancis di Sekolah, Sandhy Sondoro Ngakak
-
Komisi X Bakal Minta Penjelasan Pemerintah Soal Kebijakan Prabowo Wajib Bahasa Prancis di Sekolah
-
Sapi Kurban Presiden Prabowo: Berisik di Elite Tapi Justru Untungkan Alit
-
Pejabat hingga Presiden Harus Ingat! Kurban dari Anggaran Negara Tak Bisa Gantikan Kewajiban Pribadi
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 Pilihan Motor Anti Low Back Pain, Cocok Buat Touring di Akhir Pekan
Pilihan
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
Terkini
-
Donald Trump Bandingkan Kondisi Perang Amerika Serikat dengan Vietnam dan Iran, Apa Katanya?
-
45 Orang Hilang di Lokasi Kebakaran Maut Bar Bangkok
-
Raksasa Mobil Ini Mau PHK 100 Ribu Pekerja: Kami Mau Lebi Efisien dan Kurangi Biaya
-
Orang India Jadi Korban Serangan Iran, 2 Tanker Uni Emirat Arab Dirudal
-
Perang Timur Tengah Memanas: Iran Serang Dua Kapal Tanker di Selat Hormuz, 1 Tewas
-
Amerika Serikat Kembali Blokir Selat Hormuz, Pasang Tarif Lintas 20 Persen
-
Mojtaba Khamenei: Kami Janji Balas Darah Ali Khamenei yang Mati Syahid
-
Pangkalan Laut Iran Hancur Diterjang Rentetan Ledakan di Kawasan Selat Hormuz
-
Harga Minyak Dunia Makin Menggila Usai Amerika Serikat dan Iran Perang Lagi
-
Bukan Cuma Iseng, Pelaku Teror Bom SDN Srengseng Sawah Ternyata Pernah Ancam Pak RT