- Masjid Al-Muharram di Bantul berhasil memasang panel surya 4,30 kW pada 2023 melalui gerakan sedekah energi kolektif masyarakat.
- Program ini bertujuan mengatasi kendala pemadaman listrik serta mendukung kegiatan ibadah warga dengan memanfaatkan sumber energi terbarukan mandiri.
- Rumah ibadah di Indonesia dinilai memiliki potensi besar sebagai pusat edukasi dan penerapan transisi energi bersih bagi masyarakat luas.
Kini, panel surya berkapasitas 4,30 kW terpasang di atap masjid. Energi yang dihasilkan digunakan untuk mendukung kebutuhan listrik masjid, mulai dari pengeras suara, air wudhu, hingga kegiatan mengaji anak-anak.
Bagaimana Rumah Ibadah jadi Simpul Gerakan Energi Bersih?
Rumah ibadah selama ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ritual keagamaan. Dalam sejarahnya, masjid, gereja, pura, maupun vihara juga menjadi pusat peradaban dan ruang belajar masyarakat. Dari tempat-tempat tersebut, nilai agama kerap berkembang menjadi dorongan untuk menyelesaikan berbagai persoalan sosial, termasuk isu lingkungan.
Menurut M Magribul Falah, Manajer Nusa Tenggara Timur Net Zero Emission (NTT NZE) 2050 dari Institute for Essential Services Reform (IESR), dalam tradisi Islam ayat pertama yang turun adalah iqra atau “bacalah”. Maknanya tidak hanya membaca teks, tetapi juga memahami tanda-tanda kehidupan dan alam semesta sebagai bagian dari ciptaan Tuhan.
Di tengah krisis iklim dan ancaman kerusakan lingkungan, pendekatan tersebut mulai kembali diperkenalkan oleh sejumlah komunitas berbasis rumah ibadah. Mereka mencoba menghubungkan ajaran agama dengan persoalan energi, polusi, hingga keberlanjutan lingkungan secara lebih kontekstual.
Pendekatan itu dinilai semakin penting karena penggunaan energi fosil masih mendominasi sistem energi Indonesia. Dalam laporan Indonesia Energy Transition Outlook (IETO) 2026 yang diterbitkan IESR, sekitar 84 persen kebutuhan energi nasional masih bergantung pada energi fosil.
Ketergantungan tersebut dinilai berdampak langsung terhadap kerusakan lingkungan dan memperparah krisis iklim. Padahal, dalam banyak ajaran agama, manusia dipandang sebagai khalifah atau pemimpin di bumi yang memiliki tanggung jawab menjaga keberlangsungan alam.
Pandangan serupa disampaikan Pengurus Pesantren Ekologi Misykat Al-Anwar, Siti Barokah. Menurut dia, manusia sejatinya diciptakan untuk membawa nilai rahmatan lil alamin atau menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Dalam ajaran Islam, kata Siti, manusia tidak hanya dituntut membangun hubungan dengan Tuhan melalui konsep habluminallah, tetapi juga menjaga hubungan dengan sesama manusia (habluminannas) dan dengan alam (habluminalalam).
Baca Juga: Megawati dan Gereja Katedral Ikut Serahkan Hewan Kurban ke Masjid Istiqlal
“Ketiga hal tersebut seharusnya berjalan beriringan dan tidak dipisahkan,” ujar Siti.
Ia menjelaskan, nilai amal saleh tidak hanya dimaknai sebagai ibadah ritual semata, melainkan juga segala bentuk tindakan baik dalam kehidupan sehari-hari, termasuk cara manusia memperlakukan lingkungan dan menggunakan energi.
“Termasuk bagaimana kita menjaga keberlangsungan alam,” katanya.
Di tengah situasi tersebut, rumah ibadah dinilai memiliki peluang besar untuk ikut mendorong perubahan. Tidak hanya sebagai ruang spiritual, rumah ibadah juga dapat menjadi ruang edukasi dan contoh nyata penerapan energi bersih di tingkat komunitas.
Menghitung Potensi Transisi Energi dari Rumah Ibadah
David Firnando Silalahi, PhD Candidate dari School of Engineering, Australian National University, menilai Indonesia memiliki modal geografis yang sangat mendukung pengembangan energi surya secara luas.
“Indonesia ini negara yang sepanjang tahun mendapatkan matahari. Berbeda dengan negara empat musim yang dalam beberapa bulan minim sinar matahari. Artinya, kita punya potensi energi surya yang sangat besar,” ujar David.
Menurut dia, rumah ibadah seperti masjid, gereja, pura, hingga vihara umumnya memiliki luasan atap yang cukup besar dan relatif ideal untuk pemasangan panel surya. Selain itu, teknologi panel surya saat ini juga dinilai semakin mudah diakses dan direplikasi oleh masyarakat.
“Teknologinya sebetulnya tidak rumit. Instalasinya sudah bisa dilakukan teknisi lokal, bahkan lulusan STM pun sudah banyak yang mampu memasangnya,” kata dia.
David memperkirakan jumlah rumah ibadah di Indonesia mencapai ratusan ribu unit. Untuk masjid saja, jumlahnya diperkirakan sekitar 300 ribu bangunan. Jika ditambah rumah ibadah agama lain, jumlahnya bisa mencapai lebih dari 400 ribu unit.
Dengan asumsi sederhana setiap rumah ibadah memasang panel surya berkapasitas rata-rata 5 kilowatt peak (kWp), maka potensi listrik yang dihasilkan diperkirakan mencapai sekitar 1,5 gigawatt.
“Itu angka yang besar. Baru hitungan kasar dari rumah ibadah saja,” ujarnya.
Menurut David, rumah ibadah juga memiliki pola konsumsi listrik yang berbeda dibanding bangunan komersial atau rumah tangga. Pada masjid, misalnya, penggunaan listrik cenderung meningkat hanya pada waktu-waktu tertentu seperti salat berjamaah atau kegiatan pengajian. Sementara pada siang hari, energi dari panel surya berpotensi tidak terpakai sepenuhnya.
“Artinya listrik itu bisa disalurkan ke jaringan dan dimanfaatkan masyarakat luas,” kata dia.
Hal serupa juga berlaku pada gereja yang umumnya aktif digunakan satu atau dua hari dalam seminggu. Di luar waktu tersebut, listrik dari panel surya berpotensi menjadi surplus energi yang dapat dimanfaatkan lebih luas.
Saat Rumah Ibadah Jadi Ruang Syiar Transisi Energi
Namun bagi David Firnando Silalahi, potensi rumah ibadah tidak berhenti pada hitungan kapasitas listrik semata. Ia menilai rumah ibadah memiliki efek pengganda yang kuat dalam mempercepat adopsi energi bersih di masyarakat.
“Orang itu biasanya butuh contoh. Ketika rumah ibadah memasang panel surya, masyarakat akan melihat langsung dan lebih mudah meniru,” ujarnya.
Praktik serupa juga mulai muncul di rumah ibadah agama lain. Di Jakarta, Gereja Katedral turut mengembangkan penggunaan energi bersih melalui pemasangan panel surya untuk mendukung kebutuhan listrik gereja.
Sistem panel surya tersebut digunakan untuk menjalankan kebutuhan kelistrikan gereja pada siang hari dengan memanfaatkan energi matahari sebagai sumber listrik terbarukan.
Total kapasitas panel surya yang terpasang mencapai 238,02 kilowatt peak (kWp), setara dengan kebutuhan listrik sekitar 183 rumah berdaya 1.300 watt. Melalui penggunaan energi surya itu, Gereja Katedral disebut mampu menghemat biaya listrik hingga sekitar 30 persen dari total kebutuhan listrik sebelumnya.
Menurut David, pengaruh institusi dan tokoh agama menjadi faktor penting dalam membangun kesadaran transisi energi. Ceramah, pengajian, maupun kegiatan keagamaan dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan isu energi bersih secara lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Ia menilai transisi energi pada akhirnya bukan hanya urusan pemerintah atau industri besar. Perubahan juga dapat dimulai dari ruang-ruang komunitas, termasuk rumah ibadah.
“Jangan pasrah pada keadaan. Manusia diberi kemampuan berpikir untuk mencari solusi, termasuk dalam menghadapi krisis energi dan perubahan iklim,” kata dia.
Pandangan serupa disampaikan M Magribul Falah, Manajer Nusa Tenggara Timur Net Zero Emission (NTT NZE) 2050 dari Institute for Essential Services Reform (IESR). Menurut dia, aksi berbasis iman memiliki kekuatan besar untuk membentuk kebiasaan baru yang lebih ramah lingkungan di tengah masyarakat.
“Normalisasi aksi berbasis iman memberikan contoh nyata kepada masyarakat bahwa pola hidup yang selaras dengan kelestarian alam merupakan keseimbangan hidup antara Tuhan, manusia, dan alam,” ujar Magribul.
Menurut dia, pendidikan lingkungan yang diperkenalkan melalui pesantren maupun komunitas agama juga berpotensi menciptakan efek domino di masyarakat. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh anak didik dapat direplikasi kembali di lingkungan tempat tinggal mereka.
“Aksi berbasis iman yang dilakukan di pesantren atau komunitas agama dapat menjadi bagian dari penyebaran nilai-nilai agama itu sendiri,” kata dia.
Dalam beberapa tahun terakhir, keterlibatan komunitas agama dalam isu lingkungan dan krisis iklim di Indonesia juga dinilai semakin terbuka. National Coordinator GreenFaith Indonesia, Hening Parlan, menyebut organisasi keagamaan mulai melihat isu iklim sebagai bagian dari persoalan kemanusiaan dan keadilan sosial.
“Organisasi keagamaan besar seperti Muhammadiyah mulai aktif membicarakan krisis iklim sebagai persoalan kemanusiaan dan tanggung jawab moral,” ujar Hening.
Ia mengatakan GreenFaith Indonesia dalam beberapa tahun terakhir telah melatih ratusan anak muda lintas agama untuk memahami keadilan iklim dan transisi energi berkeadilan.
Menurut Hening, pendekatan berbasis iman menjadi penting karena isu iklim sering kali terasa jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Karena itu, isu lingkungan perlu dihubungkan dengan persoalan yang lebih dekat, seperti banjir, kesehatan, pangan, hingga kemiskinan.
“Isu iklim mulai dipahami bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga soal kesehatan, keadilan sosial, dan masa depan generasi berikutnya,” kata dia.
Hening menilai langkah penting ke depan adalah memperluas edukasi berbasis iman, melibatkan lebih banyak tokoh agama, serta memperkuat gerakan anak muda lintas agama di tingkat komunitas. Selain itu, kolaborasi lintas agama dinilai penting untuk membangun solidaritas bersama dalam menghadapi krisis iklim dan mendorong transisi energi berkeadilan.
Penulis: Natasha Suhendra
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
- Persija Sudah Temukan Pengganti Mauricio Souza, Target Juara Super League Musim Depan
- 5 Moisturizer Mengandung SPF untuk Pagi Hari, Melembapkan dan Mencerahkan Kulit
Pilihan
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
Terkini
-
Soal TNI Berantas Begal, Anggota Komisi I: Bisa Dilakukan Terbatas, Tapi Bukan Pengganti Polisi
-
5 Hari Hilang di Hutan IKN, Pemburu Ini Ditemukan Hidup secara Ajaib
-
Mengapa Iran Mengendalikan Selat Hormuz?
-
Prabowo Minta Bahasa Prancis di Sekolah, JPPI: Belajar Bahasa Indonesia Saja Masih Susah
-
Indonesia Gabung Kampanye Global 50-in-5: Masa Depan Digital Masyarakat Lebih Terhubung & Inklusif
-
Reformasi 98 Disebut Gagal, Penjahat Masa Lalu Kini Jadi Pahlawan
-
Jalan di Lenteng Agung Amblas 3 Meter, Perbaikan Butuh 2-3 Hari
-
Tercatat Jadi Penasihat Little Aresha Daycare, Dosen UGM Ngaku Tak Tahu Struktur Organisasi
-
Dolar Menggila dan Harga Pangan Naik, Pengelola Dapur Khawatir Gizi MBG Tak Optimal
-
Geger! Pria Ditemukan Tewas Tergantung di Danau Sunter, Videonya Viral di Medsos