- Ketua Komisi VII DPR RI, Saleh Partaonan Daulay, mengkritik Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, karena tidak menyapanya saat rapat pada Rabu (3/6/2026).
- Saleh menyoroti ketimpangan alokasi anggaran Kementerian Pariwisata dan mendesak efektivitas penyerapan anggaran agar berdampak nyata bagi sektor ekonomi nasional.
- Komisi VII DPR RI memutuskan melanjutkan pendalaman evaluasi anggaran bersama Wakil Menteri Pariwisata setelah rapat kerja sempat terganggu agenda menteri.
Suara.com - Suasana rapat kerja Komisi VII DPR RI pada Rabu (3/6/2026) diwarnai momen menarik saat Ketua Komisi VII DPR RI, Saleh Partaonan Daulay, menyatakan kekecewaannya secara terbuka kepada Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana.
Saleh mengaku merasa diabaikan lantaran tidak disapa oleh Sang Menteri saat memasuki ruang rapat.
Momen ini bermula ketika Menteri Pariwisata baru saja menyelesaikan paparannya mengenai evaluasi kinerja dan serapan anggaran Semester I Tahun 2026.
Karena Menteri harus meninggalkan rapat lebih awal untuk agenda lain, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia Chalim memberikan kesempatan pertama kepada Saleh untuk memberikan catatan.
“Terima kasih Ibu Menteri telah memberikan penyampaian terkait dengan program-program yang sudah dilaksanakan oleh Kementerian Pariwisata di semester 1 2026. Untuk itu kita akan langsung saja berdiskusi. Dari meja pimpinan dahulu sudah ada Pak Ketua yang ingin menyampaikan catatan karena waktu juga terbatas, Ibu Menteri ada rapat yang harus hadir langsung. Saya silakan Pak Ketua,” ujar Chusnunia di ruang rapat.
Namun, mengawali bicaranya, Saleh justru menyinggung perlakuan yang ia terima saat tiba di ruangan. Ia membandingkan perlakuan Menteri terhadap dirinya dengan anggota Komisi VII lainnya, Lamhot Sinaga.
"Terima kasih sudah hadir semua, ini karena Bu Menteri mau pergi duluan makanya saya mau bicara, takutnya saya enggak sempat bicara. Karena saya pas masuk tadi tidak disapa, yang disapa malah Pak Lamhot," kata Saleh.
Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut menceritakan detail kejadian yang membuatnya merasa janggal.
"Jadi begitu Pak Lamhot masuk, 'selamat datang Pak Lamhot'. Jadi saya pas datang tadi, padahal saya terlambatnya tiga menit, empat menit lah, tidak begitu lama kan, disapa pun enggak. Jadi saya pikir apa salah saya sama Bu Menteri hehe," ungkap Saleh sambil tersenyum.
Baca Juga: Dasco Tegaskan Revisi UU Pemilu Jadi Inisiatif DPR, Komisi II Segera Gelar Pembahasan
Saleh menegaskan bahwa tegurannya tersebut merupakan bentuk keterbukaan dirinya sebagai orang Medan.
"Jadi biasa lah, kalau orang Medan kan terus terang pak, ya kan, apa adanya gitu, bukan ada apanya, tapi memang apa adanya saja, itulah yang saya rasakan," tambahnya.
Setelah menyampaikan keluhannya, Saleh beralih ke substansi rapat. Ia mengkritik distribusi anggaran di Kementerian Pariwisata yang dinilai tidak merata antar kedeputian.
Ia menyoroti besarnya porsi anggaran untuk promosi dan event dibanding unit kerja lain yang hanya mendapat alokasi kecil.
"Masing-masing kedeputian ini itu alokasi anggarannya berapa secara riil pada 2026 lalu dan gimana ekspektasi dari Kemenpar ini pada tahun 2027," ucap Saleh.
Ia juga menekankan bahwa penyerapan anggaran harus memberikan dampak nyata bagi sektor pariwisata dan ekonomi nasional, bukan sekadar angka di atas kertas.
Berita Terkait
-
Dasco Tegaskan Revisi UU Pemilu Jadi Inisiatif DPR, Komisi II Segera Gelar Pembahasan
-
Kepala BGN Diganti, Dasco: DPR Apresiasi Pemerintah Dengar Aspirasi Rakyat
-
Toko Disegel dan Bawang Busuk, Pengusaha UMKM Bali Minta Perlindungan DPR Lawan Oknum Polisi
-
Revisi UU Polri Disebut Tak Banyak Berubah, DPR Fokus pada 8-9 Pasal
-
Habiburokhman Sentil Dino Patti Djalal: Jangan Sok Paling Tahu Diplomasi
Terpopuler
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
- 5 HP dengan Kamera Telefoto Terbaik untuk Konten Media Sosial
Pilihan
-
Drama 'Penjemputan' Dadan Hindayana Cs, Ada yang Sempat Lari ke Jabar
-
4 Anggota TNI Penyiram Air Keras ke Andrie Yunus Dituntut 2,5 Tahun, Jaksa Sebut Aksi Balas Dendam
-
Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
-
Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
-
KPK Gelar OTT di Kantor Imigrasi Jakarta Barat, Jadi Operasi Ke-11 Sepanjang 2026
Terkini
-
Kantor BGN Digeledah Kejagung Usai Dadan Dicopot, Mensesneg: Tunggu Saja Hasilnya
-
Ekonomi Dicekik Sanksi AS, Rusia Tegaskan Dukungan Tanpa Henti untuk Kuba
-
Penggeledahan Belum Rampung, Tim Kejagung Masih Periksa Kantor BGN
-
Energi Terbarukan Kian Murah, Mengapa Masih Sulit Berkembang di Indonesia?
-
Prabowo Sering ke Luar Negeri, Dasco Pasang Badan: Strategi Presiden Dinamis, Tak Bisa Dibatasi
-
Danantara Disorot! Minim Transparansi Jadi Celah Korupsi dan Gerus Kepercayaan Investor
-
Dasco Tegaskan Revisi UU Pemilu Jadi Inisiatif DPR, Komisi II Segera Gelar Pembahasan
-
Pertahanan Udara Bahrain Rontokkan 3 Rudal Iran, Situasi Teluk Persia Memanas
-
Jangan Cuma Elite, DPR Desak Rakyat Dilibatkan Jadi Mitra SPPG
-
Usai Dadan Dicopot, Kejagung Geledah Kantor BGN, Istana: Mari Kita Tunggu Hasil Kerja Jaksa