News / Nasional
Kamis, 04 Juni 2026 | 19:32 WIB
Pemilik rumah, Agus, menunjukkan barang-barang yang sempat terbakar api misterius, Selasa (2/6/2026). (Suara.com/Hiskia)
Baca 10 detik
  • Kebakaran misterius di Mriyan X, Sleman telah terjadi 97 kali selama tiga belas hari terakhir hingga Kamis (4/6/2026).
  • Peristiwa tersebut melumpuhkan usaha pemotongan ayam milik keluarga Mutfiana dan menyebabkan kerugian materiil mencapai sekitar Rp70 juta lebih.
  • Keluarga terdampak mengalami kelelahan fisik dan psikologis akibat harus berjaga sepanjang malam demi memadamkan titik api secara mandiri.

Ia mengatakan bantuan logistik dari warga setempat, relawan, dan pemerintah mulai berdatangan. Bantuan berupa APAR dan kebutuhan sehari-hari disebut cukup membantu keluarga bertahan selama situasi darurat berlangsung.

"Insyaallah cukup. Enggak cukup dicukup-cukupin," ujarnya.

Hanya Tidur Tiga Jam

Sejumlah barang yang sempat terbakar secara misterius di rumah warga Padukuhan Mriyan X, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Sleman, DIY, Senin (1/6/2026). (Suara.com/Hiskia)

Di balik upaya memadamkan api yang terus muncul secara tiba-tiba, kondisi fisik dan psikologis keluarga perlahan ikut terkuras. Fia mengaku dirinya bersama anggota keluarga lain nyaris tidak memiliki waktu istirahat yang cukup.

"Kalau kami tidur paling lama itu 3 jam. Selalu bergantian, 3 jam pasti dibantu sama relawan (berjaga)," ungkapnya.

Ia mengakui tekanan mental mulai dirasakan seluruh anggota keluarga. Kurang tidur, pola makan yang tidak teratur, hingga menurunnya nafsu makan menjadi kondisi yang kini mereka alami setiap hari.

"Tensi naik udah pasti. Begadang terus, kurang tidur, kurang makan, gizi enggak teratur," ujarnya.

Rumah yang mereka tempati saat ini dihuni tujuh orang untuk menginap dan total sekitar sebelas orang yang keluar masuk membantu penanganan.

Sebagian barang di lantai dasar rumah pun sudah mulai dikosongkan. Meski demikian, keterbatasan tempat membuat proses evakuasi barang tidak mudah dilakukan.

Kini, di tengah rumah yang sebagian mulai dikosongkan dan usaha yang tersendat, keluarga hanya berharap rentetan kemunculan api itu segera berakhir.

Baca Juga: Seminar KAGAMA HSE UGM: Atasi Bencana Hidrometeorologi Melalui Rehabilitasi Lanskap Berkelanjutan

Fia menuturkan bantuan yang paling mereka butuhkan saat ini pun sederhana, yakni sebuah blower atau kipas angin untuk membantu menghalau gas yang diduga memicu kebakaran berulang.

"Yang kami paling butuhkan saat ini adalah blower. Kami sangat butuh blower," tandasnya.

Menunggu Jawaban dari Penelitian

Di tengah berbagai dugaan mengenai keberadaan gas di sekitar rumah, Fia dan keluarga memilih menyerahkan seluruh proses penelitian kepada para ahli. Ia mengaku tidak memahami penjelasan teknis mengenai dugaan gas hidrogen maupun metana yang sempat disebut dalam investigasi awal.

"Kalau secara teori dan sebagainya itu aku enggak paham ya, karena kan aku orang awam. Jadi kuserahkan semua pada ahlinya," tuturnya.

Ia pun membuka akses seluas-luasnya bagi penelitian lanjutan. Menurutnya, penelitian tersebut penting bukan hanya untuk keluarganya, tetapi juga untuk menjawab kekhawatiran warga sekitar terkait kemungkinan penyebaran kejadian serupa.

"Sangat boleh karena itu sangat membantu, terutama membantu pertanyaan-pertanyaan yang ada di sekitar rumah," tandasnya.

Load More