News / Nasional
Selasa, 30 Juni 2026 | 09:05 WIB
Ilustrasi pembiayaan. (Freepik)
Baca 10 detik
  • PNM melalui program Mekaar meraih penghargaan internasional berkat penyaluran modal inklusif kepada 23 juta nasabah perempuan di Indonesia.
  • Strategi utama mencakup pemberian pinjaman modal yang disertai pendampingan rutin serta edukasi literasi keuangan bagi para pelaku usaha.
  • Program ini memfasilitasi transformasi digital dan legalitas usaha untuk meningkatkan daya saing serta kemandirian ekonomi bagi pengusaha perempuan.

Selain mendapatkan akses pembiayaan tanpa agunan, para nasabah dibekali dengan pelatihan pemanfaatan teknologi melalui aplikasi PNM Digi.

Langkah ini diambil untuk memastikan para ibu rumah tangga yang memiliki usaha kecil tidak gagap teknologi dan mampu memperluas pasar mereka melalui platform digital.

Selain literasi keuangan dan digital, aspek legalitas usaha menjadi perhatian serius. Banyak pengusaha ultra mikro yang selama ini terkendala dalam mengembangkan bisnis karena tidak memiliki izin resmi.

Oleh karena itu, fasilitasi pembuatan Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikasi halal menjadi bagian dari paket pemberdayaan yang diberikan.

Dengan memiliki NIB dan sertifikat halal, produk-produk hasil karya nasabah perempuan ini memiliki daya saing yang lebih tinggi di pasar yang lebih luas.

Pendekatan komprehensif ini dinilai menjadi faktor krusial dalam meningkatkan kapasitas usaha sekaligus memperkuat struktur ekonomi masyarakat bawah.

Legalitas usaha memberikan rasa aman bagi pelaku usaha sekaligus membuka peluang untuk menjalin kerja sama dengan rantai pasok yang lebih besar.

Kontribusi Perempuan dalam Ekonomi Nasional

Penghargaan Top Company in Ultra Micro Finance for Women Empowerment ini menjadi cermin betapa besarnya kontribusi perempuan dalam menopang ekonomi keluarga di Indonesia.

Baca Juga: Komnas Perempuan Minta Maaf, Akui Kasus Penyekapan Yuvita di Bandung Ekstrem dan Sadis!

Mayoritas nasabah program Mekaar adalah ibu rumah tangga yang merintis usaha dari skala sangat kecil, seperti warung kelontong, usaha kuliner rumahan, kerajinan tangan, hingga penyedia jasa skala lingkungan.

Meningkatnya kapasitas usaha para perempuan ini berdampak langsung pada pendapatan keluarga.

Mereka tidak hanya berperan sebagai pengelola keuangan rumah tangga, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi di komunitas lokal.

Uang yang berputar di tingkat ultra mikro ini terbukti menjadi bantalan ekonomi yang kuat saat terjadi gejolak ekonomi global.

Model pemberdayaan yang mengombinasikan akses modal, pendampingan berkelanjutan, dan peningkatan kapasitas teknis dinilai sebagai solusi yang paling relevan saat ini.

Apresiasi yang diterima bukan sekadar simbol keberhasilan bisnis, melainkan pengakuan atas peran strategis dalam membangun kemandirian jutaan perempuan Indonesia serta memperkuat fondasi ekonomi kerakyatan dari level yang paling dasar.

Load More