- Siswa disabilitas psikososial di SMA Strada Thomas Aquino Tangerang diduga mengalami diskriminasi dan hambatan akses pendidikan sejak Juni 2024.
- Pihak sekolah menjatuhkan nilai nol dalam ujian dan menahan rapor siswa setelah tuduhan pelanggaran tata tertib selama ujian.
- KPAI menegaskan sekolah wajib menyediakan pendidikan inklusif serta SDM yang memahami kebutuhan siswa disabilitas sesuai undang-undang perlindungan anak.
Suara.com - Kasus yang dialami GMS, peserta didik dengan kondisi disabilitas psikososial di SMA Strada Thomas Aquino, Tangerang, kembali menyoroti pentingnya perlindungan anak dan penerapan pendidikan inklusif di sekolah.
Keluarga GMS menilai putranya mengalami diskriminasi hingga hak pendidikannya terhambat, sementara kasus tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana sekolah memahami kebutuhan peserta didik penyandang disabilitas psikososial.
Menurut ibu GMS, Vivienne Wahab, persoalan bermula pada Februari 2024 saat putranya dituduh tidak mengerjakan tugas. Konflik memuncak ketika ujian akhir sekolah pada Juni 2024. GMS dijatuhi nilai nol pada dua mata pelajaran karena dianggap membuka aplikasi lain saat ujian berbasis aplikasi Sokrates.
"Diberi nilai 0 (nol) di dua mapel hari pertama (ujian), termasuk nilai esainya yang tidak menggunakan HP," kata Vivienne, Rabu (1/7/2026).
Vivienne membantah tuduhan tersebut. Menurutnya, putranya hanya mengambil tangkapan layar jawaban, tindakan yang sebelumnya tidak pernah dipermasalahkan dan tidak diatur sebagai pelanggaran dalam tata tertib ujian.
Ia juga mengaku pihak sekolah meminta GMS mencari sekolah lain serta menahan rapor dan status Dapodik sehingga hak pendidikan putranya terhambat. Keluarga turut mempersoalkan penanganan perkara oleh sejumlah lembaga karena dinilai tidak memberikan perlindungan yang semestinya.
Disabilitas Psikososial Bukan Sekadar Gangguan Mental
Merujuk UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, disabilitas psikososial merupakan bagian dari disabilitas mental, yakni gangguan pada fungsi pikir, emosi, dan perilaku, seperti skizofrenia, bipolar, depresi, gangguan kecemasan, maupun gangguan kepribadian.
Namun, tidak semua orang dengan gangguan kesehatan mental otomatis menjadi penyandang disabilitas psikososial. Status tersebut muncul ketika kondisi yang berlangsung lama, ditambah hambatan dari lingkungan, membuat seseorang kesulitan berpartisipasi secara setara dalam kehidupan, termasuk di sekolah.
Baca Juga: Handy Wihartady Ditunjuk jadi Direktur Utama PLN Enjiniring, Siapa Dia?
Karena itu, penyandang disabilitas psikososial berhak memperoleh pendidikan, layanan kesehatan, pekerjaan, dan perlakuan yang bebas dari stigma maupun diskriminasi.
ODDP dan ODGJ Tidak Sama
Istilah Orang dengan Disabilitas Psikososial (ODDP) berbeda dengan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Dikutip dari situs Pisat Rehabilitasi YAKKUM, ODDP merujuk pada pendekatan berbasis hak penyandang disabilitas yang tidak hanya melihat diagnosis medis, tetapi juga hambatan sosial yang dialami seseorang.
Karena itu, penanganannya tidak cukup melalui layanan kesehatan, melainkan juga dukungan keluarga, sekolah, dan lingkungan agar penyandang dapat berpartisipasi secara setara. Pendekatan ini juga sejalan dengan Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas PBB (UNCRPD).
Sementara itu, ODGJ merupakan istilah dalam layanan kesehatan yang merujuk pada seseorang dengan gangguan pikiran, perilaku, dan perasaan yang memerlukan penanganan medis sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Memahami perbedaan keduanya penting agar penyandang disabilitas psikososial tidak terus dilekatkan dengan stigma, melainkan dipandang sebagai individu yang memiliki hak yang sama untuk belajar, bekerja, dan berpartisipasi di masyarakat.
Sekolah Harus Siap Sejak Awal
Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Jasra Putra menegaskan sekolah umum memiliki kewajiban memenuhi hak anak penyandang disabilitas. Hal itu sejalan dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang mendorong pengarusutamaan pendidikan inklusif di seluruh satuan pendidikan, baik sekolah negeri, swasta, maupun sekolah berbasis keagamaan.
Menurut Jasra, tantangan terbesar bukan terletak pada regulasi, melainkan kesiapan sumber daya manusia (SDM). Banyak sekolah masih kekurangan guru maupun tenaga pendidik yang memahami kebutuhan peserta didik penyandang disabilitas, termasuk guru pendamping yang memiliki kompetensi di bidang pendidikan inklusif.
"Anak-anak dengan disabilitas butuh SDM yang memahami, menghormati, dan menghargai mereka. Guru dan tenaga pendidik harus dilatih, termasuk sosialisasi kepada orang tua dan peserta didik agar tidak terjadi diskriminasi."
Ia menambahkan, sekolah tetap dapat menegakkan tata tertib kepada seluruh peserta didik, termasuk penyandang disabilitas. Namun, penerapan aturan harus mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan anak serta mengedepankan upaya deteksi dini.
"Kalau sejak awal sekolah mengetahui ada anak penyandang disabilitas, seharusnya sekolah sudah siap sejak awal," katanya.
Karena itu, menurut Jasra, pendidikan inklusif tidak cukup hanya membuka akses bagi anak penyandang disabilitas untuk bersekolah di sekolah umum. Yang lebih penting adalah memastikan sekolah memiliki SDM, sistem pendampingan, dan lingkungan yang mampu memenuhi hak mereka tanpa diskriminasi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 2 Juli 2026, Ada Kuda hingga Anjing
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Dugaan Intimidasi Dokter Icha Dilakukan 3-4 Orang, Hasil Investigasi Diserahkan ke Polisi
-
Kemenkes Soroti Lemahnya Sistem Perlindungan Nakes usai Dugaan Intimidasi dr. Icha
-
Tarif Transjakarta Diusul Rp 5.000, Transjabodetabek Rp 10.000
-
Bukan yang Pertama! Polisi Duga Ada Korban Penyekapan Lain di Percetakan Senen
-
Dicap 'Lembek' Kritik Pemerintah, Said Didu: Saya Bukan Terwo!
-
Usai Minta Maaf, Om Zein Diminta Komnas Perempuan Perbaiki Cara Pandang soal Perempuan
-
Dulu Kontraktor Kini 'Gelandangan', Kisah Jafar Ali Setahun Bertahan di Trotoar Depan UNHCR
-
Menhut Raja Juli Soal Pertemuan dengan Bupati Kuansing: Amplop Dikembalikan, Tak Ada Pelepasan Hutan
-
Ibu Hamil Tewas Tertembak di Papua, DPR Minta Diusut Transparan
-
Said Didu Blak-blakan: Sebut Safari Politik Jokowi Disokong Oligarki hingga Para Koruptor