- Kebakaran TPA Jatiwaringin, Tangerang, sejak 30 Juni 2026 menyebabkan polusi udara berbahaya berupa gas beracun dan partikel debu.
- Paparan asap kebakaran tersebut berisiko menimbulkan berbagai gangguan kesehatan mulai dari iritasi mata hingga penyakit saluran pernapasan.
- Kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak sangat terdampak, sehingga penanganan memerlukan pendekatan berbasis riset serta teknologi mutakhir.
Suara.com - Kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, yang terjadi sejak 30 Juni 2026, dinilai berpotensi menimbulkan dampak kesehatan bagi masyarakat akibat paparan asap dan polusi udara.
Dokter spesialis paru sekaligus Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof Tjandra Yoga Aditama, mengatakan terdapat sejumlah kajian ilmiah yang dapat menjadi rujukan dalam menilai sekaligus mengatasi dampak kesehatan akibat kebakaran sampah berskala luas.
Mengutip dari jurnal ilmiah Sustainability melalui artikel berjudul A Comprehensive Study of the Impact of Waste Fires on the Environment and Health, Tjandra memaparkan bahwa setidaknya ada lima dampak kebakaran sampah terhadap lingkungan dan kesehatan.
"Pertama, kebakaran berbagai jenis sampah yang luas dapat menimbulkan polusi udara dengan setidaknya delapan gas, yaitu amonia (NH3), karbon dioksida dioxide (CO2), karbon monoksida (CO), hidrogen sulfida (H2S), metana (CH4), nitrogen dioksida (NO2) dan sulfur dioksida (SO2)," jelas Tjandra dalam keterangannya, Selasa (7/7/2026).
Selain gas, Tjandra menerangkan bahwa kebakaran juga menghasilkan polusi bahan padat atau Particulate Matter (PM) dalam berbagai ukuran, termasuk PM 2,5 yang dapat masuk hingga ke alveolus paru.
Ia menambahkan, kebakaran biomassa sampah juga berpotensi melepaskan volatile organic compounds serta bahan kimia aromatik polisiklik ke udara.
Lebih lanjut, Tjandra menyebut gangguan kesehatan akibat kebakaran sampah dapat bervariasi, mulai dari keluhan ringan hingga penyakit yang lebih berat.
"Keluhan dan penyakit yang mungkin timbul dapat berupa sakit kepala, iritasi mata, gangguan kulit, gangguan saluran cerna. Selanjutnya akan berdampak pada paru dan saluran napas, seperti infeksi dalam berbagai derajatnya, mulai ISPA ringan sampai berat, dan gangguan pernapasan seperti serangan asma," tuturnya.
Ancaman terakhir, ditujukan bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan anak-anak serta yang memiliki gangguan paru kronik, berpotensi lebih mudah terkena gangguan kesehatan akibat kebakaran sampah di lahan seluas 14 hektare tersebut.
Baca Juga: Di Balik Kebakaran TPA Jatiwaringin: Bom Waktu Gas Metana dan Gagalnya Sistem Pengelolaan Sampah
Selain dampak kesehatan, Prof Tjandra juga menyoroti pemanfaatan teknologi dalam penanganan kebakaran sampah.
"Peran teknologi mutakhir dalam bentuk kecerdasan buatan 'artificial intelligence (AI)', 'Machine Learning (ML)' dan teknologi 'deep learning' dalam pengendalian kebakaran sampah luas ini," katanya.
Tjandra juga mengutip kajian dari Wisconsin Department of Natural Resources berjudul Environmental and Health Impacts of Open Burning yang menjelaskan kebakaran plastik dapat melepaskan bahan kimia seperti dioksin, benzo(a)pyrene (BAP), serta hidrokarbon poliaromatik.
"Semoga pengendalian dampak kesehatan kebakaran di TPA Jatiwaringin dilakukan dengan baik dan mengacu kajian ilmiah, tanpa menimbulkan korban yang berarti," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Kebakaran TPA Jatiwaringin Baru Padam 45 Persen Meski Tiga Helikopter Dikerahkan
-
Kebakaran TPA Jatiwaringin Belum Usai, Asap Beracun Bikin Puluhan Warga Tak Berani Pulang
-
Kebakaran TPA Jatiwaringin Hampir Padam, Daerah Diminta Waspadai Ancaman Serupa
-
Di Balik Kebakaran TPA Jatiwaringin: Bom Waktu Gas Metana dan Gagalnya Sistem Pengelolaan Sampah
-
Kebakaran TPA Jatiwaringin Meluas Hingga 15 Hektare
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Harga Serum Penghilang Flek Hitam yang Efektif dan Aman, Ini 5 Rekomendasi Produknya
- Warga Jogja Protes Desil Naik, Status Miskin Masuk Desil 9, Pemda DIY Minta BPS Klarifikasi
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Pati Kompak! Ratusan Ormas Deklarasi Damai di Alun-alun, Tegaskan Tolak Aksi Provokatif
-
Dari Panggung KKI 2026, Belasan UMKM Sumsel Membidik Pasar Nasional hingga Ekspor
-
Cek Kesehatan Gratis Efektif Deteksi Dini dan Eliminasi Kasus TBC di Tangsel
-
Karhutla Sumsel Belum Terkendali, 8 Lokasi Masih Terbakar, Air Makin Menipis
-
Guncang Lima Kota Besar, Deddy Corbuzier Bawa Invasi Indonesia Podcast Festival 2026 ke Luar Jakarta
-
Kemendagri Dorong Digitalisasi Transaksi Daerah Tak Sekadar Pembayaran, tapi Dongkrak PAD
-
Indonesia - China Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Bidang Pertahanan
-
Praperadilan Febrie: Ahli Sebut TPPU Pasca 2026 Wajib Pakai Pasal 607, Bukan UU Lama
-
28 Tahun Berlalu, Luka Mei 1998 Kembali Disuarakan Lewat Lagu
-
Bayi 3 Bulan di OKU Terbaring di ICU, 11 Hari Setelah Diduga Dianiaya Ayah Kandung