- Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang menghindari awak media seusai audiensi di Gedung KPK, Jakarta.
- KPK menemukan potensi korupsi, inefisiensi, dan maladministrasi dalam tata kelola program MBG yang bernilai ratusan triliun rupiah.
- KPK menyoroti kesiapan infrastruktur serta regulasi BGN yang dinilai belum memadai dalam mengelola anggaran sangat besar.
Suara.com - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang tidak muncul memberikan keterangan kepada publik usai menghadiri audiensi di Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Padahal, pertemuan tersebut membahas hasil kajian KPK yang menemukan sejumlah potensi korupsi dan persoalan tata kelola dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Nanik diketahui datang bersama dua wakilnya, Agustina Arumsari dan Mayjen TNI Trenggono. Namun, setelah audiensi berakhir, hanya Agustina yang didampingi Deputi Pencegahan dan Monitoring KPK Aminuddin keluar melalui lobi depan untuk menyampaikan hasil pertemuan kepada awak media.
Saat ditanya mengenai keberadaan Nanik, baik Agustina maupun Aminuddin tidak memberikan penjelasan. Agustina hanya mengatakan BGN datang untuk menindaklanjuti rekomendasi yang sebelumnya disampaikan KPK.
“Oleh karena itu, kami bentuk tim lalu kami mendiskusikan 10 temuan tersebut dan kami menyusun rencana tindaknya,” ungkjap Agustina.
“Secara formal tadi kami menyampaikan rencana tindak tersebut,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Aminuddin memaparkan sejumlah persoalan yang ditemukan KPK dalam kajian program MBG.
Menurutnya, program bernilai ratusan triliun rupiah itu masih menyimpan potensi korupsi, inefisiensi, dan maladministrasi karena tata kelola serta sistem pengawasannya belum memadai.
“Hasil kajian kami menunjukkan bahwa uang yang kembali ke daerah itu jumlahnya sangat minim di bawah lima persen. Mayoritas perputaran uangnya itu kembali ke kota-kota besar,” ungkap Aminuddin.
Baca Juga: Rumor 'Orang Dalam' Bocorkan OTT Kuansing Mencuat, KPK: Itu Cuma Spekulasi!
Ia menjelaskan, hanya sebagian kecil pemasok Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berasal dari koperasi desa maupun Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), sehingga dampak ekonomi program bagi masyarakat di daerah masih sangat terbatas.
“Mereka hanya bagian makan saja satu ompreng per orang per hari tapi dampak ekonomi yang lainnya enggak ada, pun kalau ada sangat kecil sekali,” ujarnya.
Aminuddin juga menyoroti kesiapan BGN yang baru dibentuk tetapi langsung mengelola anggaran jumbo.
Menurutnya, infrastruktur, organisasi, dan regulasi lembaga tersebut belum sepenuhnya siap sehingga berisiko memunculkan persoalan tata kelola.
“Kondisi ini sangat rentan terjadi minimal kalau kita lihat dari sisi tata kelola akan berantakan,” ucapnya.
Ia menyebut BGN mengelola anggaran sekitar Rp85 triliun pada 2025 dengan serapan sekitar Rp61 triliun. Sementara pada 2026, anggaran program MBG melonjak menjadi Rp268 triliun.
“Lembaga baru berdiri, infrastrukturnya berantakan, organisasinya, regulasinya juga belum siap sudah mendapat anggaran cukup besar dengan anggaran jumbo,” tandas Aminuddin.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Harga Serum Penghilang Flek Hitam yang Efektif dan Aman, Ini 5 Rekomendasi Produknya
- Warga Jogja Protes Desil Naik, Status Miskin Masuk Desil 9, Pemda DIY Minta BPS Klarifikasi
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Doddy Hanggodo Sebut Gempa NTT "Makanan Sehari-hari", Ini Daftar Kontroversi sang Menteri PU
-
5 Perbedaan Jenis Puff Cushion Rubycell vs Velvet yang Bikin Hasil Makeup Beda
-
Membedah Makna Lagu 'Usik' Feby Putri: Seni Berdamai dengan Luka Masa Lalu
-
Duh! Asap Karhutla Ketapang Mengancam Pontianak hingga Negara Tetangga
-
Turun Langsung Cek Karhutla di Kalimantan, Prabowo Minta Tindak Tegas Setiap Pelanggar Hukum!
-
Rayakan 20 Tahun Debut, BigBang Bahas Identitas dan Kejayaan di Lagu BiiiG
-
Perang SUV Listrik Memanas: Nevo Q05 Pamer Ngecas Kilat, Leap Motor Andalkan Sasis Eropa
-
6 Cara Pakai Bedak Tabur di Atas Sunscreen agar Tidak Menggumpal, Makeup Jadi Halus
-
Elang Nias dan Burung Hantu Siau Dilaporkan Punah di Indonesia, Benarkah?
-
Mendidik Disiplin atau Mengulang Budaya Perpelocoan?