- Asosiasi Pangan Gizi Indonesia 3T berdemo di Jakarta Pusat, Rabu (8/7/2026), menuntut operasional ribuan dapur yang mangkrak.
- Sebanyak 6.000 unit dapur SPPG 3T terbengkalai selama delapan bulan sehingga pengelola mengalami kerugian hingga belasan triliun rupiah.
- Pengelola mendesak pemerintah segera menjalankan Perpres Nomor 115 dan membuka ruang dialog dengan Badan Gizi Nasional terkait masalah ini.
Suara.com - Ratusan pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tergabung dalam Asosiasi Pangan Gizi Indonesia (APGI) 3T ikut ambil bagian dalam aksi di Jalan Medan Merdeka Selatan sisi utara, Jakarta Pusat, Rabu (8/7/2026).
Mereka mendesak pemerintah pusat segera mengoperasikan ribuan dapur di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) yang telah mangkrak selama delapan bulan.
"Ini program dari 2025 yang merupakan SPPG 3T, di mana SPPG ini menggunakan dana pribadi, dana kawan-kawan semua, dana investor, tidak sepeser pun menggunakan dana negara," ujar Ketua Umum APGI 3T, Herwil Junaidi Harefa.
Ia mengungkapkan bahwa program yang seharusnya sudah rampung dan berjalan itu kini justru menjerat para pengelola dengan utang.
"Kami ditagih-tagih oleh perbankan, kami ditagih oleh rentenir, kami ditagih oleh tukang-tukang yang belum kami bayar," keluh Herwil.
Jumlah dapur SPPG 3T yang telah berdiri, tetapi belum beroperasi diklaim mencapai ribuan unit.
"Ada ribuan dapur, mungkin sekitar 6.000 dapur. Yang sudah PKS itu ada 645 SPPG di SK pertama. 645 yang sudah ada SK SPPG-nya, sudah ada BA verval-nya, sudah ada penetapan ke-SPPG-an, sudah ada VA virtual account-nya, dan sudah ada relawannya," beber Herwil.
Kerugian yang ditanggung setiap dapur akibat belum beroperasi pun diklaim mencapai miliaran rupiah. Jika dikalikan dengan total sekitar 6.000 dapur, total kerugian berpotensi menembus belasan triliun rupiah.
"Satu dapur itu diperkirakan Rp1,5 M sampai Rp2 M. Bayangkan kalau dia 6.000 dapur. Berapa kerugian kami?," tanya Herwil.
Herwil juga menuntut Presiden dan pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) menegakkan Peraturan Presiden Nomor 115 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Baca Juga: Dihadang saat Mau Geruduk BGN, Orator Demo MBG Sebut 1,5 Juta Pekerja Terancam: Negara Harus Hadir!
"Kami menuntut bahwa agar pemerintah pusat, dalam hal ini Presiden, dan pimpinan BGN ini dapat mengakomodir apa yang menjadi tuntutan kami. Di mana Perpres 115 itu harus ditegakkan, itu harus dijalankan," pintanya.
Herwil bahkan menawarkan opsi agar dana yang telah dikeluarkan para pengelola dikembalikan apabila pemerintah kesulitan melanjutkan program tersebut.
"Kalau memang ini sulit untuk negara, kembalikan saja dana kami, nggak usah kami melaksanakan ini lah, biar negara yang menjalankan. Dan pesan kami, kalau memang negara bisa membangun ini, kenapa hadirkan kami rakyatnya? Jangan miskinkan kami," sorotnya.
Herwil menyayangkan sikap Badan Gizi Nasional (BGN) yang menurutnya tidak lagi membuka ruang dialog dengan pihak asosiasi, meski disebut sebagai mitra.
"Sampai sekarang, yang katanya BGN kami ini sahabat, mitra, tapi sampai detik ini ruang diskusi, ruang dialog dengan kami mitra, tidak ada. Kami terputus," kisahnya.
Ia berharap pimpinan BGN kembali membuka komunikasi dengan asosiasinya maupun mitra-mitra lain yang terdampak kisruh penyelenggaraan MBG.
"Terbuka dong dengan kami. Kami bisa membantu kok, ya. Kami bukan musuh, kami teman. Ayo buka ruang diskusi," ajak Herwil.
Massa pendukung MBG masih bertahan di kawasan IRTI setelah upaya mereka mendatangi kantor BGN dihadang kepolisian.
Mereka menunggu hasil pertemuan perwakilan yang diizinkan bertemu dengan pimpinan BGN.
Berita Terkait
-
Dihadang saat Mau Geruduk BGN, Orator Demo MBG Sebut 1,5 Juta Pekerja Terancam: Negara Harus Hadir!
-
Penelitian UI: Program Makan Bergizi Gratis Berpotensi Picu Food Waste, Apa Dampaknya?
-
Demo Pendukung MBG Digelar Hari Ini, 1.686 Personel Gabungan Turun Mengamankan
-
Guru Besar UGM: Refocusing MBG Tak Cukup Pangkas Penerima, Desain Program Harus Dirombak
-
BGN Janji Benahi Program MBG agar Lebih Tepat Sasaran
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Babak Belur Emiten Kaesang: Hanya Mampu Bayar Buruh Harian dan Operasikan Satu Pabrik
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
Terkini
-
Biaya Haji 2027 Naik Rp20 Juta, DPR Tolak Subsidi APBN: Bermasalah Secara Syariat!
-
Pesan Duka Megawati untuk Ali Khamenei Disiarkan Televisi Iran, Singgung Warisan Bung Karno
-
Buntut Demo Tidore, DPR Minta Pemerintah Cairkan Rp132 Triliun DBH untuk Gaji PPPK!
-
Viral Pencurian Pagar Besi Kampung Melayu, Polisi Ringkus Satu Pelaku
-
Dugaan Tambang Ugal-ugalan di Desa Rantau Bakula, Walhi Beri Waktu Satu Bulan untuk Solusi
-
Polemik Ijazah Jokowi Dinilai Tak Akan Berakhir Tanpa Bukti Fisik di Persidangan
-
25 Tahun Menutup Saluran, 7 Bangunan Liar di Tanah Abang Dibongkar Usai Dilaporkan Warga
-
Mengapa Penebangan Hutan Bisa Membuat Banjir Semakin Sering Terjadi?
-
KPK Periksa Kepala Divisi LPEI Terkait Dugaan Korupsi Kredit yang Rugikan Negara Rp11 Triliun
-
Suara Bising 24 Jam dan Teror Limbah: Jeritan Warga Rantau Bakula Menuntut Keadilan ke Jakarta