- Survei Bank Indonesia pada Juni 2026 mencatat penurunan indeks ekspektasi masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja di Indonesia.
- Persepsi negatif masyarakat dipicu oleh perlambatan aktivitas dunia usaha, meningkatnya angka PHK, serta ketidakpastian kondisi ekonomi global.
- Pemerintah perlu menciptakan iklim usaha kondusif melalui regulasi yang konsisten untuk mendorong investasi dan penyerapan tenaga kerja.
Suara.com - Optimisme masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja pada Juni 2026 melemah. Hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) menunjukkan indeks ekspektasi lapangan kerja mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, meski masih bertahan di zona optimistis.
Ekonom Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Imamudin Yuliadi, menilai hasil survei tersebut lebih mencerminkan persepsi publik terhadap kondisi ekonomi daripada gambaran riil pasar tenaga kerja.
Menurutnya, persepsi negatif itu muncul karena masyarakat melihat semakin banyak sinyal perlambatan aktivitas ekonomi.
"Masyarakat melihat ada sektor usaha yang mengalami perlambatan, bahkan penutupan. Di sisi lain, lapangan kerja formal belum mampu mengimbangi jumlah pencari kerja yang terus bertambah," kata Imam, dikutip, Selasa (14/7/2026).
Dipaparkan Imam, persepsi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan.
Mulai dari melambatnya aktivitas dunia usaha, meningkatnya kasus PHK di berbagai sektor, hingga dinamika politik yang ikut menekan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap prospek ekonomi.
Ia menyebut masyarakat masih memandang lapangan kerja dari sisi sektor formal. Sementara itu, kemampuan sektor formal dalam menyerap tenaga kerja dinilai belum mampu mengejar laju pertumbuhan jumlah pencari kerja.
Menurut Imam, ekspektasi masyarakat pun kian tertekan oleh berbagai perkembangan global dan nasional.
Konflik geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak, tekanan inflasi, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga dinamika politik dalam negeri dinilai memperburuk psikologis masyarakat dalam memandang peluang kerja.
Baca Juga: Aturan Kemasan Rokok Polos Dinilai Ancam 1,2 Juta Lapangan Kerja
Gelombang PHK yang terjadi di sejumlah perusahaan semakin memperkuat kekhawatiran tersebut.
Kondisi itu memunculkan keraguan apakah dunia usaha masih memiliki kapasitas untuk membuka lapangan pekerjaan baru di tengah tekanan ekonomi.
"Kalau perusahaan yang sudah berjalan saja harus melakukan PHK, tentu masyarakat akan bertanya bagaimana peluang rekrutmen bagi pencari kerja baru," ujarnya.
Meski demikian, Imam menilai peluang penciptaan lapangan kerja di Indonesia masih terbuka lebar apabila pemerintah mampu menciptakan iklim usaha yang kondusif.
Kepastian regulasi dinilai menjadi faktor penting untuk mendorong investasi dan ekspansi dunia usaha.
Ia menyebut sektor pariwisata, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta berbagai program strategis pemerintah masih berpotensi menjadi motor penyerapan tenaga kerja.
Namun, potensi tersebut hanya akan terealisasi apabila diiringi kebijakan yang konsisten dan tata kelola yang memberikan kepastian bagi pelaku usaha.
"Yang diperlukan adalah regulasi yang mampu memberikan kepastian dan optimisme kepada pelaku usaha. Jika program strategis dijalankan secara konsisten dengan tata kelola yang baik, lapangan kerja baru akan semakin banyak tercipta," tandasnya.
Berita Terkait
-
Aturan Kemasan Rokok Polos Dinilai Ancam 1,2 Juta Lapangan Kerja
-
Ilusi Program MBG: Sejuta Lapangan Kerja atau Sejuta Penerima APBN?
-
Raksasa Mobil Ini Mau PHK 100 Ribu Pekerja: Kami Mau Lebi Efisien dan Kurangi Biaya
-
Raksasa Otomotif Dunia Terguncang, Berencana Suntik Mati Separuh Model dan Lakukan PHK
-
Makan Bergizi Gratis: Program Gizi atau Program Pencipta Lapangan Kerja?
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
Terkini
-
Analis Sebut Prabowo Alami Miopi Politik: Hanya Tahu yang Baik-baik Saja
-
Pakar Bongkar Biang Kerok Korupsi Pejabat: Pilkada Mahal Bikin Kepala Daerah Berutang Budi
-
Habiburokhman Buka Suara Soal Kejagung Stop Usut SPPG Bermasalah: Saya Belum Tahu
-
Kejagung Ungkap Alasan Kortastipidkor Polri Datangi Gedung Bundar Bawa Koper Pink, Ada Apa?
-
Hanya Jawab Singkat, Begini Respons Kapolri Usai Dikritik Mahfud MD Soal Kasus Febrie
-
Siap Diresmikan Prabowo, LRT Jakarta Rute Manggarai Beroperasi Agustus 2026!
-
Kelanjutan Nasib JPO Tendean: Dibongkar Usai Rusak Parah, Ganti Rugi Miliaran Rupiah Masih Gelap
-
Masih Ada yang Belum Terjerat! KPK Buka Peluang Kembangkan Kasus Korupsi Kuota Haji
-
Pihak Don Ritto Klaim Uang Sitaan di Cafe de'Clan untuk Bangun Pelabuhan, Bukan Terkait Korupsi
-
Sering Picu Demo, 10 Undang-Undang Ini Tengah Dievaluasi oleh Kementerian HAM