- KPK mencatat 15 kepala daerah terlibat korupsi sepanjang tahun 2025 hingga pertengahan 2026 akibat praktik balas budi politik.
- Pakar UMY, Ridho Al-Hamdi, menyatakan mahalnya biaya pilkada memicu penyalahgunaan kekuasaan dan merusak kualitas tata kelola pemerintahan daerah.
- Sistem politik yang mahal serta lemahnya integritas individu menjadi penyebab utama kerentanan penyalahgunaan APBD oleh kepala daerah terpilih.
Suara.com - Maraknya kepala daerah yang terseret kasus korupsi dinilai tak lepas dari mahalnya biaya politik dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).
Pakar Partai Politik dan Sistem Kepartaian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ridho Al-Hamdi, menyebut tingginya ongkos politik menjadi pemicu munculnya praktik balas budi yang berujung pada penyalahgunaan kekuasaan.
Sorotan itu muncul setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencatat telah menindak 15 kepala daerah sepanjang 2025 hingga pertengahan 2026. Kasus terbaru menjerat Bupati Sukoharjo Etik Suryani yang terjaring operasi senyap KPK pada 10 Juli 2026.
Ridho menilai, biaya politik yang tinggi membuat banyak kepala daerah berpotensi terjebak dalam kepentingan pihak-pihak yang membantu mereka selama proses pencalonan.
"Pilkada bukan proses yang murah. Ketika seseorang maju sebagai kepala daerah, sering kali ada dukungan finansial yang kemudian menimbulkan utang budi politik. Situasi inilah yang berpotensi memengaruhi cara seorang kepala daerah menjalankan pemerintahannya setelah terpilih," kata Ridho, Selasa (14/7/2026).
Menurutnya, praktik politik balas budi masih menjadi persoalan mendasar yang sulit dipisahkan dari kontestasi politik di tingkat daerah. Dampaknya tidak hanya menyeret kepala daerah ke kasus hukum, tetapi juga merusak kualitas tata kelola pemerintahan.
"Kalau proses rekrutmennya sudah mahal, maka proses setelah seseorang menjabat juga berpotensi ikut mahal. Di sinilah integritas kepala daerah mulai diuji," ucapnya.
Karena itu, Ridho menilai pembenahan tidak cukup dilakukan saat seseorang sudah menjabat, melainkan harus dimulai sejak proses pemilu dan pilkada.
"Selama sistem politik kita masih memberikan ruang bagi munculnya biaya politik yang tinggi, risiko penyalahgunaan kewenangan akan tetap ada," imbuhnya.
Baca Juga: KPK Dalami Alasan Bupati Kuansing Beri Amplop ke Menhut Raja Juli
Ia juga mengingatkan bahwa mahalnya biaya politik berpotensi menyeret pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) ke dalam kepentingan politik tertentu.
Tanpa pengawasan yang kuat dan integritas para penyelenggara pemerintahan, APBD menjadi sasaran yang rentan disalahgunakan.
Namun demikian, Ridho menegaskan persoalan tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh kelemahan sistem administrasi pemerintahan.
"Sistem anggaran memang penting, tetapi yang menjalankan sistem tersebut adalah manusia. Ketika integritas tidak menjadi landasan utama, berbagai mekanisme digital atau sistem pengawasan yang sudah dibangun tetap dapat diselewengkan," ungkapnya.
Ia menekankan bahwa karakter dan integritas individu tetap menjadi faktor penentu dalam mencegah korupsi.
"Karena itu, membangun karakter yang menjunjung kejujuran harus menjadi perhatian sejak pendidikan dasar hingga seseorang memasuki dunia politik," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
Terkini
-
Ekonom Bongkar Alasan Warga Pesimis Cari Kerja: PHK Marak, Ekonomi Melambat
-
Analis Sebut Prabowo Alami Miopi Politik: Hanya Tahu yang Baik-baik Saja
-
Habiburokhman Buka Suara Soal Kejagung Stop Usut SPPG Bermasalah: Saya Belum Tahu
-
Kejagung Ungkap Alasan Kortastipidkor Polri Datangi Gedung Bundar Bawa Koper Pink, Ada Apa?
-
Hanya Jawab Singkat, Begini Respons Kapolri Usai Dikritik Mahfud MD Soal Kasus Febrie
-
Siap Diresmikan Prabowo, LRT Jakarta Rute Manggarai Beroperasi Agustus 2026!
-
Kelanjutan Nasib JPO Tendean: Dibongkar Usai Rusak Parah, Ganti Rugi Miliaran Rupiah Masih Gelap
-
Masih Ada yang Belum Terjerat! KPK Buka Peluang Kembangkan Kasus Korupsi Kuota Haji
-
Pihak Don Ritto Klaim Uang Sitaan di Cafe de'Clan untuk Bangun Pelabuhan, Bukan Terkait Korupsi
-
Sering Picu Demo, 10 Undang-Undang Ini Tengah Dievaluasi oleh Kementerian HAM