- Presiden AS Donald Trump memberlakukan blokade maritim terhadap pelabuhan Iran serta melancarkan serangan militer sejak Selasa waktu setempat.
- Pemerintah AS mengancam akan membombardir infrastruktur sipil Iran pekan depan jika Teheran menolak kembali melakukan perundingan diplomatik resmi.
- Konflik bersenjata yang meluas hingga kawasan Teluk menyebabkan harga minyak dunia melonjak drastis sebesar 15 persen pekan ini.
Di wilayah Iran sendiri, pemerintah daerah di Pulau Qeshm dan kota Bandar Abbas melaporkan adanya hantaman proyektil AS di wilayah mereka pada Selasa malam.
Dalam konteks keamanan maritim, pemerintah AS menuduh Iran telah menyerang tujuh kapal komersial dalam kurun sepekan terakhir, yang mengakibatkan belasan awak kapal tewas, hilang, atau menderita luka-luka.
Uni Emirat Arab (UEA) sebelumnya juga mengonfirmasi tewasnya satu kru asal India dan delapan lainnya terluka ketika dua kapal tanker minyak milik mereka dihantam rudal jelajah Iran di Selat Hormuz.
Pihak IRGC membenarkan telah melumpuhkan dua kapal supertanker raksasa di selat tersebut yang dilabeli sebagai "offending", dengan dalih kapal-kapal itu mengabaikan peringatan navigasi.
Pembatalan Tarif 20 Persen dan Dampak Ekonomi Global
Terkait wacana kontroversial mengenai pemungutan biaya pengamanan sebesar 20 persen bagi lalu lintas kapal di Selat Hormuz, Trump secara resmi membatalkan ide tersebut pada hari Selasa.
Pembatalan ini terjadi setelah usulan itu dibanjiri kritik dari badan pelayaran PBB dan komunitas internasional. Sebagai alternatif, Trump mengindikasikan akan mengejar kesepakatan investasi dari negara-negara Teluk, di mana ia mengklaim sejumlah negara lebih memilih berinvestasi di AS daripada dibebankan tarif transit perairan.
Pasca-pencabutan gagasan tarif tersebut, blokade militer AS terhadap kapal-kapal yang transit ke dan dari pesisir Iran resmi diberlakukan kembali pada pukul 20.00 GMT. Trump menegaskan bahwa Selat Hormuz kini terbuka bagi semua pelayaran internasional, kecuali armada milik Iran.
Perang yang telah berlangsung sejak Februari ini mulai berdampak signifikan pada lanskap ekonomi dunia. Harga minyak mentah patokan Brent dilaporkan meroket 15 persen selama sepekan terakhir, menyentuh angka $85 per barel atau yang tertinggi sejak pertengahan Juni lalu.
Baca Juga: Rupiah Hari Ini Melemah ke Rp18.129 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu
Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa perpanjangan masa perang menghadirkan risiko masif bagi perekonomian global, mengingat banyak negara telah menghabiskan cadangan minyak strategis mereka untuk melindungi konsumen dari inflasi harga energi.
Berita Terkait
-
Dituding Penjahat Perang, Amerika Diadukan ke PBB Usai Serang Warga Sipil di Iran Selatan
-
Rupiah Menguat ke Rp18.048 per Dolar AS, Inflasi Amerika yang Melandai Jadi Pendorong Utama
-
Donald Trump Ancam Ratakan Iran: Bikin Kesepakatan Atau Anda Tidak Miliki Apapun yang Tersisa
-
Susul Korut, Amerika Serikat Membekukan Aset Kripto Terkait Iran Senilai Rp 2,3 Triliun
-
Target Serangan AS ke Iran Selanjutnya, Pembangkit Listrik dan Jembatan
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
Terkini
-
Indonesia Dinilai Terjebak 'Carbon Lock-in', Mengapa Target Energi Bersih Berisiko Sulit Tercapai?
-
Habis Serang AS, IRGC Iran Hasut Warga Yordania: Bebaskan Tanah Islam dari Penjajah Amerika
-
Tanaman Malapari Berpotensi Jadi Komoditas Bioenergi, Bagaimana BRIN Dorong Pengembangannya?
-
Amerika Serikat Mau Hentikan Bantuan Rp 59,63 Triliun ke Israel
-
Babak Baru Kasus Nadiem Makarim, Sidang Banding Akan Digelar Awal Agustus
-
Usai Diambil Alih, Kawasan Hotel Sultan Akan Disulap Jadi Sumber Baru Pemasukan Negara
-
Dituding Penjahat Perang, Amerika Diadukan ke PBB Usai Serang Warga Sipil di Iran Selatan
-
Kondisi Remaja Korban Rudapaksa 27 Pria di Sampang Membaik, Korban Mulai Berani Bercerita
-
Peron Baru Stasiun Bogor Beroperasi Hari Ini, Siap Layani KRL 12 Gerbong
-
32 Tahun Jadi Guru, Mimpi Isayas Tigi Lihat Sekolah Gratis di Papua Tengah Akhirnya Terwujud