- Homeless media bersaing dengan media arus utama, memanfaatkan celah digital dengan format cepat, visual menarik, dan eksperimen postmodern.
- Pembaca homeless media tidak memprioritaskan status verifikasi, tetapi fokus pada daya tarik visual serta relevansi konten yang dikurasi algoritma.
- Adaptasi platform menyebabkan persaingan beralih fokus pada kemampuan adaptasi terhadap logika platform, mengabaikan standar verifikasi Dewan Pers.
Keberhasilan ini memang tidak tanpa resiko, ketika logika platform sepenuhnya dominan, nilai- nilai verifikasi, akurasi dan keberimbangan berubah menjadi keputusan : cukup menarik dibagikan. Ketiadaan status kelembagaan juga membuat homeless media rawan tersangkut hukum akibat sengketa pemberitaan.
Pendekatan standar verifikasi Dewan Pers yang bersifat institusional memang penting, tetapi menjadi problematis dalam masyarakat jaringan yang bersifat fleksibel dan cepat berkembang. Homeless media dapat dengan mudah menyesuaikan konten dan pesannya sesuai perubahan lingkungan, sekaligus menjangkau lebih banyak audiens dalam waktu singkat.
Jika tidak diwadahi, tantangannya bukan antara memilih media arus utama atau homeless media. Kredibilitas akan tetap bergantung pada kepastian bahwa, di tengah arus platformisasi, publik tetap mendapatkan rujukan informasi yang jelas, akurat dan layak dipercaya.
Kekosongan regulasi sama artinya membiarkan homeless media tumbuh tanpa kerangka etik yang diakui, sementara publik tidak mendapatkan panduan yang memadai untuk menilai kualitas dan akuntabilitas konten. Kredibilitas menjadi sesuatu yang subyektif, karena popularitas, viralitas dan engagment yang menentukan—bukan oleh proses jurnalistik yang dapat dipertanggungjawabkan...
Andreas Tri Pamungkas
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Yogyakarta
Berita Terkait
-
Gen Z, Homeless Media, dan Kesadaran akan Kebenaran Informasi
-
JK Hingga Jurnalis Korban Pengeroyokan Terima Anugerah Dewan Pers 2025
-
AJI Gelar Aksi Solidaritas, Desak Pengadilan Tolak Gugatan Mentan Terhadap Tempo
-
Jurnalis Myanmar Dorong Pembentukan Dewan Pers ASEAN, Perkuat Solidaritas Kebebasan Pers
Terpopuler
- 5 Mobil Murah 3 Baris Under 1500cc tapi Jagoan Tanjakan: Irit Bensin dan Pajak Ramah Rakyat Jelata
- Promo Superindo 17 Maret 2026, Diskon sampai 50 Persen Buah, Minyak hingga Kue Lebaran
- Timur Tengah Memanas, Rencana Terbangkan Ribuan TNI ke Gaza Resmi Ditangguhkan
- 15 Tulisan Kata-kata Unik Mudik Lebaran, Lucu dan Relate untuk Anak Rantau
- Liburan Lebaran ke Luar Negeri Kini Lebih Praktis Tanpa Perlu Repot Tukar Uang
Pilihan
-
Hilal Tak Terlihat, Arab Saudi Tetapkan Idul Fitri 2026 Jatuh pada 20 Maret
-
Link Live Streaming Liverpool vs Galatasaray: Pantang Terpeleset The Reds!
-
Israel Klaim Tewaskan Menteri Intelijen Iran Esmaeil Khatib
-
Dipicu Korsleting Listrik, Kebakaran Kalideres Hanguskan 17 Bangunan
-
Bongkar Identitas dan Wajah Eksekutor Penyiram Air Keras Andrie Yunus, Polisi: Ini Bukan Hasil AI!
Terkini
-
Wasiat Jurgen Habermas untuk Bos dan Manajer Perusahaan agar Kantor Tak Jadi Penjara
-
Momentum Ramadan: Mengubah Tragedi 'Perang Sarung' Menjadi Ruang Kreasi Melalui Masjid Ramah Anak
-
Di Balik Valentine: Memaknai Ulang Cinta, Mencegah Femisida dalam Pacaran
-
Kasus YBS dan Keberpihakan Anggaran Perlindungan Anak
-
Jangan Tunggu Negara! Lindungi Dirimu Sendiri dari Serangan Kanker
-
Membedah Potensi Gangguan Asing terhadap Kondusivitas Negara
-
Risiko Siber dan Keberlanjutan Keuangan
-
Bukan Sekadar Bunuh Diri, Kematian Mahasiswi Unima adalah Femisida Tidak Langsung
-
Gen Z, Homeless Media, dan Kesadaran akan Kebenaran Informasi
-
Alarm 84 Persen: Penolakan Gen Z Pilkada Lewat DPRD dan Bahaya Krisis Legitimasi