Suara.com - Pekerjaan yang sulit tetapi dikerjakan dengan penuh sabar, itulah arti dari kata lekeun dalam bahasa Sunda. Lekeun adalah penggambaran dari produk kerajinan tepung organik (clay craft) yang dibuat oleh Dody Rosdian (39 tahun).
Alumini Itenas angkatan 94 itu mulai berkecimpung di bisnis clay craft secara tidak sengaja. Ketika menyelesaikan kuliahnya di Itenas, Bandung pada 1999, Indonesia tengah diguncang krisis moneter dan finansial. Dody yang merupakan sarjana arsitek kesulitan untuk mencari pekerjaan. Awalnya, dia ikut dengan teman-temannya membentuk perusahaan bidang jasa arsitektur.
“Kadang suka terjadi beda pemahaman lalu proyek juga kadang ada dan kadang tidak ada. Saya ingin mencari sesuatu yang baru dan handycraft menjadi pilihan saya,” kata Dody.
Ketika hendak memulai bisnis handycraft, musibah menimpa Dody. Kepalanya terbentur yang mengakibatkan dirinya harus dirawat di rumah sakit. Sejak itu, dia menjadi gampang stress dan mudah lelah. Benturan yang keras di kepalanya itu membuat sistem syaraf terganggu. Dody harus menjalani refleksi dan fisioterapi.
Pada 2007, ketika tengah dalam proses pemulihan, Dody main ke Jakarta dan mendatangi pameran Inacraft. Di pameran tersebut, Dody melihat salah satu stan yang memamerkan kerajinan clay craft. Produk-produk souvenir yang terbuat dari tanah liat itu mencuri perhatian Dody. Dia mulai bertanya-tanya tentang cara pembuatan produk tersebut.
Pulang dari pameran Inacraft, Dody mulai googling tentang cara pembuatan produk yang terbuat dari clay craft. Karena bahan dasar yang menggunakan tanah liat mahal, Dody menggantinya dengan tepung yang biasa digunakan untuk bahan kue dan dicampur liin serta dibentuk menjadi seperti adonan. Bahan yang digunakan untuk membuat produk kerajinan tepung ini seperti lilin malam yang sering dimainkan anak-anak.
Dengan modal kurang dari Rp1 juta, Dody memulai bisnis suvenir dari tepung ini. Semua suvenir dibuat secara hand made dan tidak memakai mesin. Untuk model, Dody mengaku melihat dari internet untuk mencari inspirasi. Dia memberi nama usaha clay craft ini Le Keun Disain, yang diambil dari bahasa Sunda, lekeun. “Ditulisnya Le Keun biar seperti bahasa Prancis,” ujarnya tertawa.
Produk yang dibuatnya seperti magnet pajangan di kulkas yang dijual dengan harga Rp3.500 hingga Rp5.000 per buah. Dia memamerkan produknya itu dalam sebuah acara pameran di salah satu mal di kota Bandung. Ternyata, banyak pengunjung yang terpesona dengan suvenir produksi Le Keun Disain. Sebagian besar konsumen menyebut, produk buatan Le Keun terlihat rumit namun hasilnya bagus.
Seiring dengan perjalanan waktu, produk suvenir clay craft produksi Le Keun mulai dikenal banyak orang, pesanan pun mulai berdatangan. Dody tidak bisa lagi mengerjakan sendirian pesanan yang diterima dari pembeli. Dia memutuskan untuk mempekerjakan tiga karyawan untuk membantunya membuat suvenir.
“Karena masih dikerjakan dengan hand made maka saya tidak bisa menerima pesanan dalam jumlah besar untuk waktu yang singkat. Jadi, kalau ada pesanan untuk suvenir pernikahan, biasanya saya memberitahu kepada calon pembeli harus memesan 3-4 bulan sebelumnya,” katanya.
Dody menggunakan Facebook untuk mempromosikan produk kerajinan buatannya. Lewat Le Keun Design fan page inilah, barang dagangannya semakin dikenal publik. Bahkan, suvenir buatannya sudah melanglang buana ke sejumlah negara.
“Memang produk Le Keun Design sudah go international seperti ke New York, Prancis, Malaysia dan Singapura. Tetapi, mereka tidak memesan langsung ke saya tetapi ada teman yang membawa produk buatan saya ke luar negeri,” ujarnya denga penuh kebanggaan.
Kerja keras serta saha yang pantang menyerah membuat Dody berhasil mewujudkan mimpinya untuk bisa membuat suvenir clay craft. Kini, Dody masih mempunyai mimpi lainnya yaitu bisa membuat toko fisik untuk memajang produk buatan Le Keun serta membuat tempat lokakarya bagi yang tertarik untuk membuat barang dari kerajinan tepung.
“Bisnis clay craft ini sebenarnya tidak terlalu sulit karena bahan mudah didapat. Dengan disain yang inovatif maka produk clay craft bisa bersaing dengan produk kerajinan lainnya,” jelasnya.
Karena menggunakan bahan dari tepung, Dody juga tidak menjual mahal barang-barang buatannya. Harganya mulai dari Rp7.500 hingga Rp30 ribu unit. Bagi anda yang ingin memesan dalam jumlah banyak seperti di atas 500 buah maka jangan melakukan pemesanan dalam waktu yang mepet.
“Kalau pesanan dalam jumlah banyak itu datang dalam waktu mepet misalnya satu bulan sebelum hari-H, maka saya dengan berat hati terpaksa tidak akan menyanggupinya. Karena, semua barang produksi Le Keun dibuat manual dengan tangan dan tidak menggunakan mesin jadi perlu waktu agak lama untuk menyelesaikannya,” pungkasnya.
Berita Terkait
-
Inspiratif, Kisah Mantan TKI Jadi Pencipta Lapangan Kerja di Lampung
-
Kisah Ratna Wirahadikusumah, Perempuan di Balik Pembangunan 250 Gerai Restoran di Indonesia
-
Dari Kios Sederhana ke Kairo: Kisah Ayah di Makassar Kuliahkan Anak ke Mesir Lewat Usaha Warung
-
Tak Kenal Menyerah, Ibu Anastasya Buktikan Setiap Perjuangan Layak Ditemani
-
Bye-bye Polusi! Kisah Inspiratif Pak Zaki yang Pilih Lari 4 KM ke Sekolah Demi Efisiensi Bensin
Terpopuler
- Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
- 3 HP Xiaomi dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- 4 Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Tersangka Korupsi MBG Sony Sonjaya Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator, Siap Ungkap Pihak Lain
-
Terbukti Korupsi! Immanuel Ebenezer 'Noel' Dijatuhi Hukuman 4,5 Tahun dan Denda Rp200 Juta
-
Purbaya Bantah Kabar Akan Dicopot dari Kursi Menteri Keuangan
-
Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
-
Wamen Imipas Silmy Karim Ditahan KPK, Terborgol Pakai Rompi Oranye Usai Drama Menyerahkan Diri
Terkini
-
Saham BBCA dan BBRI Sedang 'Cuci Gudang', Saatnya Borong?
-
Pasar Modal Indonesia Ditinggal Investor, 15 Perusahaan Masih Nekat IPO Tahun Ini
-
MinyaKita Hilang dari Rak Toko, Tukang Gorengan Akui Rugi Pengeluaran Bengkak
-
Punya Rumah Tak Lagi Ribet, Pengajuan KPR untuk Gen Z Dipermudah
-
Meski Rupiah-IHSG Loyo, Purbaya Buktikan Arus Modal Asing Masih Ramai Masuk RI
-
Akibat IHSG Bobrok, Dana Asing Telah Keluar Rp 4,1 T Sepanjang Mei
-
Raih Kinerja Topcer, Anak usaha Emiten TUGU Catatkan Laba Bersih Rp 95,1 M di 2025
-
Emiten Farmasi MDLA Perkuat Bisnis Berkelanjutan, Gunakan Mobil Listrik
-
Orang Kaya Tak Wajib Serok Surat Utang Danantara, Siapa yang Beli?
-
Perbaiki Arus Kas, Begini Strategi Emiten PPRO