Suara.com - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu (29/7/2015) pagi bergerak menguat, dan diperdagangkan di posisi Rp13.445 per dolar atau menguat tujuh poin dibanding sebelumnya yang berada di posisi Rp13.452.
"Tekanan dolar AS terhadap nilai tukar rupiah cenderung berkurang di pasar valas dalam negeri setelah beberapa data ekonomi Amerika Serikat yang diumumkan relatif masih melambat," kata Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta di Jakarta.
Menurut dia, data ekonomi Amerika Serikat AS yang dinilai masih di luar harapan menggerus keyakinan pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga AS (Fed fund rate). The Fed sedianya akan merilis hasil rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada Kamis (30/7/2015) dini hari.
"Suku bunga diproyeksikan belum akan naik tetapi sepertinya Gubernur the Fed Janet Yellen masih cukup percaya diri untuk mengatakan bahwa Fed fund rate akan naik di tahun ini," katanya.
Akan tetapi, lanjut dia, pelaku pasar uang di dalam negeri juga masih dibayangi kekhawatiran atas perlambatan ekonomi nasional, beberapa rilis laporan keuangan emiten semester pertama 2015 masih merefleksikan performa ekonomi yang melambat.
"Nilai tukar rupiah masih berpotensi mengalami tekanan, volatilitas masih akan tinggi pada mata uang rupiah dan aset lain berdenominasi rupiah," katanya.
Analis Pasar Uang Bank Mandiri, Reny Eka Putri menambahkan mata uang rupiah masih mempertahankan jalurnya di area positif terhadap dolar AS menyusul perkiraan pelaku pasar uang bahwa the Fed belum akan mengumumkan kenaikan suku bunganya.
Dari dalam negeri, lanjut dia, data inflasi Juli yang sedianya akan diumumkan pada awal Agustus ini diprediksi stabil menambah topangan bagi mata uang rupiah untuk bergerak menguat terhadap dolar AS.
"Inflasi cenderung masih terkontrol meski ada potensi meningkat sedikit karena adanya kenaikan beberapa harga bahan pokok saat bulan puasa dan Hari Raya Lebaran. Namun, inflasi inti diperkirakan masih terjaga di level lima persen. Inflasi inti yang masih terjaga di level lima persen itu diperkirakan tidak mengubah kebijakan Bank Indonesia (BI) terkait suku bunga acuan (BI rate)," katanya. (Antara)
Tag
Berita Terkait
-
Dasco Puji BI yang Bikin Kuat Rupiah: RI Kini Tak Bergantung Dolar AS
-
DPR Apresiasi Langkah Baru Bank Indonesia Perkuat Nilai Rupiah
-
Rupiah Menguat ke Rp17.900, Efek Gerilya Akhir Pekan Dasco
-
Penyebab Rupiah Terus Merosot, Nilai Tukarnya Rp18.066 per Dolar Hari Ini
-
Kasih Paham: Dolar Naik Gila-gilaan, Kenapa Rupiah Kita Kalah?
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
Terkini
-
Rupiah Melemah, Dolar AS Mulai Dekati Level Rp18.000
-
Ketegangan AS - Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Kekhawatiran Gangguan Pasokan
-
Gagal Bayar Meningkat, Utang Masyarakat di Pinjol Tembus Rp103,73 Triliun
-
Titipan Politik di Kursi Komisaris dan Direksi Makin Kuat di BUMN, Ini Datanya
-
Modal Asing yang Kabur dari Pasar Modal Tembus Rp19,63 Triliun, Apa Penyebabnya?
-
Panen Raya Jadi Bukti! Teknologi Benih Dongkrak Produktivitas Jagung
-
OJK Tutup 36.191 Rekening Judi Online, Perbankan Diminta Perketat Pengawasan
-
Kementerian PU Jelaskan Kunker Menteri Dody dan Keluarga ke New York Jelang Final Piala Dunia
-
Sebanyak 81 BPR Akan Digabung Menjadi 24 hingga Juni 2026
-
Danantara Lebur 4 BUMN Manajer Investasi