Anggota Komisi VII DPR RI Kurtubi mengingatkan pemerintah dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tetap bersikap tegas terhadap Newmont agar tetap melanjutkan rencananya membangun smelter. Pergantian kepemilikan usaha tidak boleh menjadi alasan untuk menunda, apalagi menghentikan rencana pembangunan smelter di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) tersebut.
"Akuisisi itu sudah berlangsung, makanya mau tak mau harus tetap kita hormati. Tapi pemerintah tetap harus tegas. Kewajiban membangun smelter Newmont tetap harus dikenakan kepada pemiliknya yang baru," kata Kurtubi saat dihubungi Suara.com, Selasa (12/7/2016).
Politisi Partai Nasdem tersebut menegaskan sebagai anggota DPR RI dari Dapil NTB, dirinya merasa memiliki kewajiban agar pengelolaan pertambangan mineral oleh PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) bisa memberikan manfaat yang maksimal kepada rakyat NTB itu sendiri. Oleh sebab itu, ia menentang ide pendirian smelter Newmont dilakukan di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. "Sebab kita harus memprioritaskan pemerataan pembangunan berdasarkan pemanfaatan hasil kekayaan sumber daya alam (SDA). Kalau tetap dibangun di Gresik, semangat pemerataan pembangunan itu tidak akan tercapai," ujar Kurtubi.
Selain itu, ia juga menyarankan pemerintah memiliki konsep pengembangan industri terpadu yang bisa memanfaatkan produk turunan dari smelter Newmont jika berhasil dibangun. Ia mencontohkan perlunya industri kabel. Jika pabrik dan berbagai sarana industri kabel dipersiapkan dikawasan sekitar smelter Newmont, akan bisa menciptakan pusat industri baru yang pasti diiringi penciptaan lapangan kerja dan percepatan pertumbuhan ekonomi NTB.
"Tinggal dikoordinasikan dengan pemerintah daerah di NTB terkait pembebasan lahannya. NNT tidak punya alasan untuk enggan membangun smelter. Kekurangan pasokan listrik harus bisa diatasi dengan memperbesar kapasitas pembangkit listrik yang saat ini ada di lokasi pertambangan. Kalaupun ada kelebihan produksi listrik, NNT bisa menjualnya kepada PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) agar bisa dijual kembali kepada masrakat untuk konsumsi listrik sehari-hari. NNT pasti untung, tidak mungkin rugi. Jadi tidak ada alasan lagi tidak mau bangun smelter," tutup Kurtubi.
Arifin Panigoro, pemilik baru NNT yang kini menguasai 82,2 persen saham melalui MedcoEnergi Group menyatakan telah berkomitmen membangun smelter. Kapasitas dari fasilitas pemurnian biji mineral yang akan dibangun tersebut mencapai 500.000 ton. Saat ini, produksi tembaga di lapangan Batu Hijau, Nusa Tenggara Barat sendiri sekitar 400.000 ton.
Arifin mengatakan, investasi yang akan digelontorkan untuk pembangunan smelter itu antara 500 juta Dolar AS -600 juta Dolar AS. Adapun lokasi smelter itu sendiri masih dipertimbangkan. Arifin masih mempertimbangkan smelter akan dibangun di NTB ataukan di Banten.
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Harga Adidas Adizero Termurah Tipe Apa Saja? Ini 5 Varian Terbaiknya
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
Pilihan
-
Buntut Polemik Suket Pendidikan Gibran, Subhan Palal Juga Gugat Pimpinan DPR-MPR
-
Tok! Eks Sekretaris MA Nurhadi Divonis 5 Tahun Penjara dan Wajib Bayar Uang Pengganti Rp137 Miliar
-
Aksi Tenang Nenek Beruban Curi TV 30 Inci di Jatinegara Viral, Korban Tak Tega Lapor Polisi
-
Panglima TNI: Tiga Prajurit yang Gugur di Lebanon Terima Santunan Miliaran dan Pangkat Anumerta
-
Swasta Diimbau Ikut WFH, Tak Ada Sanksi Menanti
Terkini
-
Ekonom Beberkan Solusi Agar APBN Tak Terbebani Subsidi Energi
-
WFH Seminggu Sekali untuk Swasta Tak Harus Setiap Jumat
-
Dorong WFH 1 Hari dalam Sepekan, Menaker Pastikan Hak Pekerja Tak Dipangkas
-
Dana SAL Rp 420 Triliun, Purbaya Buka Opsi Pakai Kas Pemerintah demi Amankan APBN
-
Imbauan WFH 1 Hari Seminggu di Sektor Swasta Dapat Dukungan Pengusaha dan Pekerja
-
Purbaya Proyeksi Defisit APBN 2026 Tembus 2,9% Meski Harga Minyak Terus Naik
-
Purbaya Ungkap Harga BBM Stabil karena Ditanggung Pertamina Sementara
-
Harga BBM Tak Naik, Purbaya Akui Anggaran Subsidi Bengkak hingga Rp 100 Triliun
-
IHSG Akhirnya Bangkit, Ternyata Ini Pemicunya
-
Rupiah Ditutup Menguat, Dolar AS Turun ke Level Rp16.983