Ilustrasi briket kelapa. [Shutterstock]
Bisnis briket kelapa untuk kebutuhan ekspor menarik minat perusahaan private equity asal Indonesia PT Investa Stellar Dana Kelola (ISDK) milik Investa Grup untuk terjun kedalam bisnis tersebut. ISDK mengakuisisi sebagian saham sebuah perusahaan pengekspor briket kelapa.
Menurut Direktur ISDK Jhon Veter, briket kelapa merupakan bisnis energi terbarukan yang memiliki potensi pertumbuhan yang bagus, "saat ini energi fosil sudah banyak ditinggalkan. Briket kelapa bahan bakunya seratus persen lokal dan permintaan pasar luar negeri cukup bagus," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (15/10/2016).
Jhon Veter menuturkan, sebelum ISDK berinvestasi di perusahaan pengekspor briket kelapa ini, perusahaan tersebut mengirimkan dua kontainer per bulannya untuk memenuhi permintaan dari pasar Timur Tengah dan Eropa. Saat ini mampu mengirimkan 10 kontainer setiap bulannya. Ada pun satu kontainer berisi sekitar 20 ton briket kelapa.
Terkait hal-hal yang dilakukan terkait pelonjakan produksi, ia menuturkan setelah ISDK masuk diperusahaan tersebut, ISDK melakukan mekanisasi dengan menambah mesin untuk optimalisasi produksi dan melakukan Standar Operational Procedure (SOP) untuk produksi dan pengiriman. "Mulai dari produksi, pencampuran briket hingga proses oven, kita menggunakan mesin," terangnya.
Sedangkan pabrik pembuatan briket kelapa ada di Cikunir, Bekasi Jawa Barat. Dilahan seluas 1,5 hektar tersebut, bahan-bahan baku yang dikirim dari Gorontalo, Bondowoso, Bengkulu dan daerah lainnya masih berupa arang. Di Cikunirlah, arang diproses menjadi briket, dikemas dan siap kirim.
"Ada juga permintaan ekspor ke pasar Jepang, saat ini kami sedang mempelajarinya. Mudah-mudahan dalam waktu dekat dapat terealisir," ujarnya. John memaparkan keunggulan briket kelapa yang diantaranya memiliki kandungan kalori yang tinggi dan debu yang lebih sedikit dibanding batu bara.
Saat ini permintaan briket kelapa dari pasar nasional terbilang minim, hanya kurang dari sepuluh persen yag diproduksi dan dipasarkan ke pasar lokal. Direktur ISDK ini optimis dengan pertumbuhan energi terbarukan karena energi fosil sudah ditinggalkan banyak orang. "Kita harus mengoptimalisasi sumber daya alam Indonesia dan memberikan nilai tambah, tidak sekadar mengekspor bahan mentah keluar negeri. Dengan begitu, Indonesia juga mendapatkan banyak benefit," tutupnya.
Komentar
Berita Terkait
-
Studi Ungkap Dilema Nikel: Dibutuhkan untuk Energi Bersih, tapi Ancam Lingkungan
-
Pertamina dan LanzaTech Berkolaborasi Dorong Investasi Energi Bersih Berbasis Teknologi
-
Genjot Target E20, Pertamina Perkuat Kolaborasi Pengembangan Bioetanol Domestik
-
Desak Transisi Energi Adil, Massa Gelar Aksi di Depan Kantor ESDM
-
Menangkap Matahari Mengubahnya Jadi Listrik, Kisah Masjid Mujahidin Menuju Energi Bersih
Terpopuler
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
- Persija Sudah Temukan Pengganti Mauricio Souza, Target Juara Super League Musim Depan
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
Pilihan
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
Terkini
-
Rupiah Terus Terpuruk, Djarot PDIP: Rakyat Desa Tak Pakai Dolar tapi Harga Sembako Melambung Tinggi!
-
BTN Kucurkan Kredit Rp1,5 Triliun ke Pindad, Sokong Produksi Maung MV3 Hingga Amunisi
-
Rupiah Sekarat Menuju Rp18.000: Kebijakan BI Dinilai Terlambat Jinakkan Bom Waktu Fiskal dan Global
-
Sindir Jakarta Sibuk Urus IHSG, Andi Widjajanto: Di Jogja Kami Mikir Republik!
-
Harga Kakao Melonjak Tajam Efek Selat Hormuz Ditutup, Kemendag Rilis Patokan Baru
-
IHSG Loyo, Investor Asing Kabur Massal Rp53 Triliun dari Bursa Saham
-
Harga Pangan Hari Ini, Cabai Rawit Tembus Rp82.450 per Kg, Telur Ayam Rp30.500 per Kg
-
Harga Sawit Anjlok Usai Ekspor Satu Pintu, Petani Terdampak! Pemerintah Tegur 139 PKS
-
5 Trik Jitu Naikin Limit Aplikasi Buy Now PayLater ke 50 Juta
-
Harga Emas Hari Ini Naik, Antam Sentuh Rp2,88 Juta per Gram